Peng sang Teroris

Peng memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.
Dia ambil pistol rakitannya sendiri, diarahkan ke pelipis kirinya. Nafasnya naik turun, sebentar dihirupnya udara, sebentar kemudian dibuangnya udara itu melalui mulutnya. Tersengal-sengal Peng menenangkan dirinya, bersiap menerima keputusannya sendiri.
Read more…



 Elegi cinta Rani

“Tuhan, aku membuat goresan luka lagi di hatinya. aku sadar bahwa itu menyakitkannya, tapi aku tak juga menyudahi rasa sakit yang aku timbulkan untuk dia. Hati ini terlalu keras sehingga tidak membiarkan sejenak melemah dan menengok hati yang luka itu. Aku terlalu egois” Rani menutup buku diarynya, mengelap air matanya lalu merebahkan diri di ranjang, menerima pasrah suratan nasibnya harus berpisah dengan Dewa suaminya.

Hari ini dia merasakan apa yang pernah dirasakan oleh Dewa, mantan suaminya. Dia rasakan hatinya sesak dan jantungnya berdegup keras, serasa dunia mendadak gelap dan gulita. Dirasakannya petir menyambar-nyambar hatinya. Sangat sakit dan menghujam ulu hatinya. Ini pasti yang juga dirasakan oleh Dewa dulu, pikir Rani. Sesaat kemudian dunia berputar dan Rani pingsan terhempas ke lantai.

Read more…



 Tunggu aku sampai waktunya tiba, sayang

Suara titik air hujan gerimis terdengar berirama, jatuh mencium dedaunan hijau muda di depan rumahnya. Sang daun menggeliat menerima ciuman sang air, ia tahan beban sang air yang semakin memeluk dirinya dalam genangan, perlahan daun hijau muda itu menundukkan punggungnya memberi lewat sang air agar bisa menciumi tanah merah di hadapannya. Sang tanah tersenyumsumringah menyambut air yang begitu di nantinya selama berbulan-bulan ini. Oooh… indahnya susasana sore ini, hmmmm… harum tanah merah yang basah oleh air hujan begitu menggairahkan. Langit putih keabu-abuan mulai malu menyemburatkan warna warni pelangi seperti melilit lehernya, memayungi bumi. Setelah memandangi langit luas dari jendela di hadapannya, ia melihat ke Pria di samping kirinya yang sedang tidur terlelap menghadap langit2 rumah, dengan dada terbuka dan sebagian tubuhnya tertutup selimut putih krem membuatnya terlihat sangat menggoda untuk di peluk. Dadanya yang bidang berotot berwarna coklat sangat seksi, lengannya yg besar proporsional begitu membuat ia terpesona, lengan kanannya tertahan guling di sampingnya tapi jemarinya bertaut dengan jemari tangan kirinya di atas perutnya yang kencang berotot. Kulitnya begitu coklat bersih, bahkan hingga pusarnya yang bulat terlihat sangat bersih bercahaya. Matanya turun memandangi bagian bawah badan pria itu, tak habis pikir ia betapa Tuhan menciptakannya begitu sempurna bahkan hingga ke ujung kakinya. Pinggulnya yang tersingkap krn selimut tidak menutupinya terlihat begitu pas menopang badannya yang proporsional, pahanya hingga kakinya dengan ukuran yang sangat pas! bahkan betisnya begitu melekat sempurna di kakinya yang kekar panjang seakan menantang semua aktifitas untuk mendekatinya.

Read more…



 Awan kelabu di desa Penan-gi, Doba

“hmhhh!…..” pria itu menarik nafas lega “akhirnya bus itu datang juga, waaahh… penuh sekali. Apakah tujuannya benar?… aku akan cek dulu sebelum naik”. Karena bus melewati dirinya, pria itu bergegas berjalan sejajar bus dan bergerak ke arah depan bus untuk melihat tujuan yang tertulis di kaca depan. “ah, ya, Penan-gi !!” seru pria itu dalam hati, kemudian masuk bus melalui pintu depan, bersiap untuk mencari tempat duduk yang kosong karena pasti hampir penuh dilihat dari luar tadi. “hhh…. aku lelah sekali, aku akan tidur begitu dapat tempat duduk, 1 jam cukuplah bagiku untuk beristirahat”.

Wuuuuussshhh.. begitu pria itu menengadahkan mukanya dan posisi tepat berada di samping Pak Supir, angin dingin menerpa wajah dan kupingnya. Sekilas tertangkap oleh ekor matanya supir dan kondektur terbengong diam memandang pria itu.
“Oh tidak, ternyata semua orang di dalam bus itu memandangku, aku jadi curiga apakah aku terlihat bodoh, salah bus atau apa ya? mengapa semua orang memandang ke arahku?”

Pria itu melihat ke sekeliling, lurus kedepan “kenapa sepi sekali ya?, untuk ukuran orang sebanyak ini rasanya tidak mungkin suasana begitu senyap, tanpa suara apapun” pria itu terheran-heran, tak berhenti berpikir sambil mencari tempat duduk yang kosong “orang-orang ini begitu tak tau sopan, terus memandangi aku tanpa senyum, tanpa sapa dan tanpa reaksi sama sekali” pria itu menggerutu.

Sampai di tengah bus, tiba-tiba suasana menjadi benar2 hening dan mencekam. “ada apa dengan bus ini ya? mengapa di setiap jendela ada tulang-tulang tergantung di tiang tempat gordyn jendela di sangkutkan? kalau dilihat dari bentuknya yg panjang tunggal sepertinya itu adalah tulang betis. Apakah ini semacam adat daerah ini untuk menghindari sangkala? murka? musibah? bencana? atau hanya hiasan semata?” pria itu terheran-heran menatap sekeliling, tapi tak berniat untuk bertanya ke orang sebelah atau depan-belakang duduknya. Ia memutuskan untuk tidur saja.

Tiba-tiba WHUUUZZZZZZ!!!!! semua mendadak gelap gulita, bus berhenti mendadak.

Read more…



 Pembunuh Berantai itu bernama Yordan

Yordan memberiku satu bundel dokumen. Melihatnya membuatku ingat akan sebuah kalimat yg keluar dari mulut temanku beberapa waktu sebelumnya “Aku dan kakakku sangat berbeda secara fisik maupun mental. Setiap orang yang melihat kami pasti berkata ‘oh ya, seperti bukan kakak beradik’ “.
Setelah aku melihat jelas Yordan, ternyata memang berbeda.
Warna kulit Yordan yang putih, ukuran tubuhnya yg kurus kecil, rambutnya hitam lurus panjang sebahu sangat berbeda dgn Molly yang tinggi besar, berkulit gelap dan berambut keriting besar.
Matanya sangat sinis, tapi saat tertawa meringis terlihat bahwa dia bahagia saat itu dan mengisyaratkan ada duka yg mendalam di dalam hatinya dan dia ingin merasakan bahagia yg mungkin hanya sesaat.

 

Dokumen itu di kumpulkan dalam satu pembungkus document berbentuk kotak terbuat dari plastik warna putih bening.
Isi tumpukan dokumen paling bawah berisi potongan-potongan kertas stensil warna putih kecoklatan yang ternyata berisi catatan korban pembunuhannya. hmmm… banyak juga korbannya… Aku berusaha  tenang tidak bereaksi melihat catatan tersebut.

 

Di atas catatan2 itu ada kumpulan tagihan-tagihan dan slip pembayaran. ah aku tak tertarik melihatnya. lalu ku bolak balik lagi dokumen-dokumen itu. Ahaa!!! ada album foto. ku buka perlahan album yg sudah mulai rusak itu. Album berwarna kuning bening itu di beri karet pengikat untuk menjaga isinya agar tidak keluar dan tidak hilang berhamburan.
Kelihatannya itu foto2 korbannya atau mungkin orang2 yg dekat dengannya, krn ada sebagian yang ku kenali sudah menjadi korbannya tetapi sebagian lagi aku tidak mengenali siapa dan namanya juga tidak tercantum di daftar korban pembunuhan berantai Yordan.
Jantungku serasa copot saat melihat fotoku ada di dalam album tersebut!!! Lagi lagi aku berusaha tenang dan berusaha menyelami foto-foto yg ada didepanku.
Aku sedang menari dgn rambut lurus, sebuah bando kuning menyelip di antara rambut dan poniku. Berbaju pink terbaik, di depanku adalah teman SMA-ku Dini yg juga sama-sama menari.

Read more…



 Hello friends!

 

  

Selamat datang di situs

www.ceritapendekrupi.com

Selamat membaca!