<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ceritapendekrupi.com</title>
	<atom:link href="http://ceritapendekrupi.com/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ceritapendekrupi.com</link>
	<description>Cerita Cerita Karya Rupiningsih</description>
	<lastBuildDate>Tue, 01 Sep 2009 22:10:38 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.5</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Peng sang Teroris</title>
		<link>http://ceritapendekrupi.com/?p=71</link>
		<comments>http://ceritapendekrupi.com/?p=71#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Sep 2009 22:08:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rupi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teroris]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritapendekrupi.com/?p=71</guid>
		<description><![CDATA[Peng memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.
Dia ambil pistol rakitannya sendiri, diarahkan ke pelipis kirinya. Nafasnya naik turun, sebentar dihirupnya udara, sebentar kemudian dibuangnya udara itu melalui mulutnya. Tersengal-sengal Peng menenangkan dirinya, bersiap menerima keputusannya sendiri.
Bayangan masa lampau Peng menari-nari di otaknya. Silih berganti mengunjungi otak Peng yang sedang kacau.
Angan Peng terbang ke masa lampau, 10 tahun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Peng memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.<br />
Dia ambil pistol rakitannya sendiri, diarahkan ke pelipis kirinya. Nafasnya naik turun, sebentar dihirupnya udara, sebentar kemudian dibuangnya udara itu melalui mulutnya. Tersengal-sengal Peng menenangkan dirinya, bersiap menerima keputusannya sendiri.<br />
<span id="more-71"></span>Bayangan masa lampau Peng menari-nari di otaknya. Silih berganti mengunjungi otak Peng yang sedang kacau.<br />
Angan Peng terbang ke masa lampau, 10 tahun yang lalu saat ia bertemu dengan seorang ustad dari Malaysia bernama Ahmad Badri.</p>
<p>10 tahun lalu selama 3 tahun Peng menempuh pendidikan di Malaysia, selama itu pula ia di sana dalam keadaan yang tidak berkecukupan. Uang kiriman orangtuanya hanya bisa untuk membayar uang pendidikan dan kost saja. Untuk makan Peng harus bekerja paruh waktu membantu menjaga gedung yayasan tempat Peng menempuh pendidikan.</p>
<p>Sebenarnya Peng asli Malaysia, namun kedua orang tuanya sudah lama hidup di Indonesia, pasang surut berbisnis jual beli barang antik bernilai agama. Kala itu ustad Ahmad Badri adalah ketua yayasan tempat ia bekerja dan belajar. Tahu bahwa Peng tidak punya cukup uang, sering ustad Ahmad Badri memberinya makan siang dan malam. Peng juga dibebaskan dari biaya kost dengan alasan sekalian menjaga gedung yayasan.</p>
<p>Mengetahui bahwa Peng pintar, rajin dan penurut, ustad Ahmad Badri mempercayakan Peng untuk membantunya di luar jam belajar, ia juga memberikan les privat tambahan kepada Peng. Dari hari Senin – Kamis Peng belajar di yayasan, hari Jumat membantu ustad Ahmad Badri keliling desa untuk memberi ceramah/ dakwah, dan pada hari Sabtu – Minggu Peng diajar privat oleh ustad Ahmad badri. Ia mendalami hukum Islam lebih dari siswa-siswa lainnya, dari segala aspek dan dimensi.</p>
<p>Sampai akhirnya ustad Ahmad Badri meninggal 5 tahun lalu dan Peng dipercayakan menggantikan posisi ustad menjadi Ketua Yayasan. Sebelum meninggal ustad Ahmad Badri hanya menitipkan 1 pesan “Peng, kau sudah seperti anakku sendiri, Ingatlah selalu ajaran yang aku sampaikan padamu, Jagalah Islam dari musuh-musuh Allah, aku percayakan organisasi jihad dan yayasan ini kepadamu”, sambil menggenggam jemari tangan Peng, ustad Ahmad Badri menghembuskan nafas terakhirnya.<br />
Peng hanya bisa menahan tangis pilu, bagaimanapun ustad Ahmad Badri lebih dari seorang sosok guru baginya, bahkan seperti orang tuanya sendiri. Ustadlah yang merawat Peng selama ini, begitu juga Penglah yang merawat ustad selama sakit karena ustad tidak memiliki istri atau anak. Peng memutuskan akan menjaga amanah ustad bagaimanapun sulitnya.</p>
<p>Saat ustad hidup, ustad selalu bilang bahwa melawan musuh Allah adalah jihad walaupun itu berarti ia harus membunuh. Hanya dengan cara melawan musuh Allah, menurut ustad Peng bisa masuk surga yang dijanjikan oleh Allah.<br />
Karena jaman sekarang tidak ada pertempuran langsung seperti jaman Nabi dahulu, maka cara paling tepat adalah menggunakan teknologi masa sekarang. Dan karena langsung menyerang musuh Allah akan sulit dilakukan, maka serangan dibelokkan ke negara tetangga yang berhubungan langsung atau tidak langsung dengan musuh Allah tetapi lemah dari segi keamanan.</p>
<p>Maka Peng mulai menyerahkan pengawasan yayasan ke Nursyamsi keponakan ustad sendiri, sementara ia mulai mengkoordinasi kekuatan organisasi jihad dari berbagai penjuru negeri dan Negara tetangga. Uang yayasan yang memang di sediakan ustad untuk kegiatan ini dicairkan Peng, disimpan dalam tas koper besar bercampur kain dan barang-barang antik yang akan ia bawa sebagai oleh-oleh untuk kedua orangtuanya.</p>
<p>Peng masuk Indonesia dengan aman, karena ia sudah memegang via menetap di Indonesia dan kedua oangtua Peng memang masih hidup di Indonesia. Sesampai di Indonesia, Peng sibuk dengan rencana besar mengalihkan perhatian dunia kepada kekuatan organisasi jihad yang dulu dikelola oleh ustad dan sekarang menjadi tanggung jawabnya.</p>
<p>Kedua orangtuanya tidak mengetahui hal tersebut, karena Peng selalu sibuk berdakwah sehingga orangtuanya mengira pekerjaan Peng adalah berdakwah.</p>
<p>Tujuan utamanya adalah tempat-tempat yang berhubungan baik secara langsung atau tidak dengan Negara penjajah zalim umat Islam.</p>
<p>Rata-rata tempat sasaran tersebut memiliki system keamanan yang kuat sehingga mustahil jika serangan dilakukan terbuka. Maka Peng menyusun rencana bersama anggota timnya untuk menyusup ke tempat-tempat sasaran tersebut dengan sangat wajar sehingga luput dari kecurigaan, membuat satu atau beberapa ledakan hebat dan menarik perhatian Negara zalim Israel dan Amerika.</p>
<p>Peng mulai merekrut anggota-anggota jihad lokal baru, dia buat mekanisme cuci otak terhadap anggota-anggota baru tersebut sehingga memiliki keyakinan yang sama dengannya, memiliki tujuan yang sama dan menuruti segala perintahnya. Organisasi jihad tersebut juga membangun sebuah jaringan dunia maya, mencuci otak anggota jaringannya sehingga memiliki keyakinan dan keinginan yang kuat untuk melakukan jihad.</p>
<p>Peng tidak mungkin melakukan jihad sendiri, lagipula ia masih ingin hidup, menemai orang tuanya, menikah dan memiliki anak sampai menemani anaknya dewasa dan akhirnya bisa meninggal dengan wajar. Peng beranggapan bahwa otak jihad tidak boleh mati, dan orang dengan otak jihad juga tidak boleh mati, yaitu ia sendiri.<br />
Maka ia beranggapan sangat wajar kalau ia menyerahkan urusan jihad mati terhadap anggota-anggota rela matinya. Ia juga beranggapan bahwa ia telah member jaminan surga bagi anggota yang rela berjihad demi agama.</p>
<p>Di sisi lain Peng menikmati hidupnya dengan nyaman. Serangan dengan serangan dilakukan organisasi jihadnya, ratusan anggota rela mati nya sudah berkorban dengan segala cara.</p>
<p> </p>
<p>Sampai akhirnya titik jenuh itu menyentuh kalbu Peng. Ia tidak benar-benar menikmati hidupnya, setahun belakangan ini ia selalu dibayangi detik-detik pengepungan dirinya oleh Aparat, membayangkan keluarganya membenci dirinya sambil menangisi kematiannya yang tragis.</p>
<p>Ia bayangkan dirinya ditembus timah-timah panas, lalu darah mengalir dari seluruh penjuru tubuhnya, menghambur keluar mencari kebebasan sampai akhirnya ia lemas dan meninggalkan dunia ini. Ia bahkan tak berani membayangkan bagaimana rasanya sakit itu, ia terlalu lemah untuk itu.</p>
<p>Ia terlalu lemah untuk mengakui bahwa ia memang otak Teroris yang selama ini bahkan kedua orangtuanyapun membenci.</p>
<p>Ia tak bisa membiarkan orang tuanya tahu bahwa orang yang selama ini mereka benci adalah dirinya sendiri, anak mereka. Anak yang membasahi tangannya dengan darah-darah orang tak bersalah yang kebetulan saja berada di tempat tidak tepat pada waktu yang tepat (waktu yang tepat serangan terjadi), anak yang diongkosi susah payah untuk belajar tetapi kemudian menjadi sosok yang sangat dibenci mereka.</p>
<p> </p>
<p>Peng harus memutuskan mata rantai Organisasi jihadnya. Ia sudah mewariskan organisasi jihadnya ke Nursyamsi. Peng memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Sebuah surat wasiat telah dibuatnya untuk pengingkaran dan pengalih pertahatian penyebab keputusannya mengakhiri hidup.</p>
<p>Peng mulai menghitung mundur dari 10, dan tepat pada hitungan 1 timah itu sudah menembus kepalanya, melalui pelipis kiri menembus ke pelipis kanan, menyerempet kuping kanannya sehingga terkoyak. Dari matanya keluar darah, mengalir seperti air mata yang keluar karena pedih.<br />
Peng masih berusaha menahan badannya agar tidak jatuh, walaupun akhirnya badan Peng jatuh perlahan ke lantai kamarnya.</p>
<p>Disamping tubuhnya sebuah surat bernoda darah, ditujukan kepada kedua orangtuanya dan Sita Hawa istrinya 2 bulan ini</p>
<p><em><span style="color: #0000ff;">“Assalamualaikum wr wb Dengan Hormat untuk kedua orang tuaku yang aku kasihi dan cintai<br />
Dengan segala rasa cinta untuk kekasihku hatiku, permaisuriku Sita Hawa.<br />
Mohon maaf aku meninggalkan kalian. Bukan karena aku tidak mencintai tetapi karena terlalu mencinta sehingga keputusan ini harus aku ambil. </span></em></p>
<p><em><span style="color: #0000ff;">Aku mohon maaf atas segala kesalahan yang pernah aku perbuat baik secara sengaja maupun tidak sengaja telah menyakiti kalian. </span></em></p>
<p><em><span style="color: #0000ff;">Untuk Siti Hawa, aku mohon jaga anak kita dan jika sudah dewasa kelak, harap kau hantarkan dia agar kenal dengan keluarga keduaku di Malaysia. Temui anak kita dengan Nursyamsi di yayasan tempat dahulu aku menempuh pendidikan dan bekerja. </span></em></p>
<p><em><span style="color: #0000ff;">Jalinlah silaturahmi dengan Nursyamsi dan keluarga, itu demi kebaikan kita semua. </span></em></p>
<p><em><span style="color: #0000ff;">Aku sengaja menempuh akhir hidupku dengan cara seperti ini, kelak kau akan tahu alasanku dan saat kau tahu itu, maka kau akan mendukungku dan anakmu. Saat ini aku hanya ingin menghentikan roda kehidupanku karena memang sudah waktunya, aku akan selalu dampingi dirimu dan anak kita agar bisa menghadapi hidup ini dengan segala cobannya, sampai saat nanti kalian siap menemui aku di surga. Amiin </span></em></p>
<p><em><span style="color: #0000ff;">Wassalam, Abdulah Persia (Peng)”</span></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritapendekrupi.com/?feed=rss2&amp;p=71</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Elegi cinta Rani</title>
		<link>http://ceritapendekrupi.com/?p=67</link>
		<comments>http://ceritapendekrupi.com/?p=67#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Aug 2009 19:34:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rupi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Romantis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritapendekrupi.com/?p=67</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Tuhan, aku membuat goresan luka lagi di hatinya. aku sadar bahwa itu menyakitkannya, tapi aku tak juga menyudahi rasa sakit yang aku timbulkan untuk dia. Hati ini terlalu keras sehingga tidak membiarkan sejenak melemah dan menengok hati yang luka itu. Aku terlalu egois&#8221; Rani menutup buku diarynya, mengelap air matanya lalu merebahkan diri di ranjang, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Tuhan, aku membuat goresan luka lagi di hatinya. aku sadar bahwa itu menyakitkannya, tapi aku tak juga menyudahi rasa sakit yang aku timbulkan untuk dia. Hati ini terlalu keras sehingga tidak membiarkan sejenak melemah dan menengok hati yang luka itu. Aku terlalu egois&#8221; Rani menutup buku diarynya, mengelap air matanya lalu merebahkan diri di ranjang, menerima pasrah suratan nasibnya harus berpisah dengan Dewa suaminya.</p>
<p>Hari ini dia merasakan apa yang pernah dirasakan oleh Dewa, mantan suaminya. Dia rasakan hatinya sesak dan jantungnya berdegup keras, serasa dunia mendadak gelap dan gulita. Dirasakannya petir menyambar-nyambar hatinya. Sangat sakit dan menghujam ulu hatinya. Ini pasti yang juga dirasakan oleh Dewa dulu, pikir Rani. Sesaat kemudian dunia berputar dan Rani pingsan terhempas ke lantai.</p>
<p><span id="more-67"></span>======</p>
<p>3 setengah tahun lalu Dewa mengalami kebuntuan, ia dirumahkan oleh perusahaan tempatnya bekerja, ia tidak memiliki modal sedikitpun dan hendak memulai bisnis, maka ia mengajukan proposal bisnis kepada Rani. Disodorkannya proposal itu dan meminta Rani memberinya waktu untuk menjelaskan bisnis yang akan dijalankannya bersama Rani jika Rani menyetujuinya. Tapi Rani tidak pernah menggubrisnya, ia memang memberi waktu untuk Dewa tapi pikirannya tidak pernah fokus terhadap bisnis tersebut. Di akhir cerita Dewa setelah 3 jam menerangkan a-z bisnis yang diusungnya, Rani hanya berkata &#8220;sudah selesai?&#8221; tanpa menunggu Dewa menjawab Rani kembali mengajukan pertanyaan &#8220;sekarang giliran aku mengambil kesimpulan dan bertanya kepadamu Dewa. Uang untuk memulai bisnis ini tidak sedikit dan kamu tahu aku bukan orang yang berkecukupan. Berapa besar profit yang bisa dihasilkan? Resiko terbesar adalah uang ini akan hilang jika kamu tidak pandai mengelolanya, lalu jaminan untuk aku apa? Kalaupun kamu bisa mengelolanya, seberapa lama akan BEP dan uang yang sudah kutanamkan akan kembali?&#8221; Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan Rani, padahal itu hanya taktik Rani supaya ia tidak terlihat tidak tertarik. Rani hanya berusaha mengulur waktu dan mencari celah agar ia tidak usah mengikuti bisnis Dewa tapi dengan cara halus.</p>
<p>Rani tidak pernah berniat memulai bisnis. Ia sudah merasa nyaman dengan hidupnya saat ini, dan ia tidak mau menyusahkan dirinya untuk sesuatu yang ia belum tahu hasilnya. Menurutnya akan lebih berguna kalau uangnya ia belikan perhiasan, baju, sepatu, aksesoris dan kepentingan lainnya daripada harus berspekulasi kepada yang tidak jelas. Tapi ia tidak pernah bisa menolak Dewa dan ia jadi harus bersusah payah mencari upaya bagaimana menolak Dewa secara halus. Bukan karena proposal bisnis Dewa yang terlihat jelek dimatanya, tetapi semata karena memang tidak ada keinginan Rani untuk memulai, itu saja.</p>
<p>Akhirnya Dewa harus berjuang sendiri mengajukan proposalnya kepada beberapa rekan dan kerabatnya. Rata-rata memberi tanggapan yang sama, yaitu sedang mengalami kesulitan keuangan juga sehingga tidak ada sisa untuk dikembangkan melalui bisnis. Berminggu-minggu Dewa berusaha, tapi tidak pernah ada yang berminat memulai bisnis yang Dewa usung. Rani menyesal juga, ia sedih juga melihat suaminya berjuang keras tapi tidak membuahkan hasil. Sebenarnya Rani bisa saja membantu Dewa, tetapi ia terlalu egois untuk mengakui bahwa proposal bisnis Dewa akan menghasilkan. Ia tidak pernah berniat untuk mempelajari bisnis tersebut sehingga benar-benar bisa mengambil keputusan. Karena keputusannya sudah jelas, bahwa ia tidak akan memulai bisnis apapun.</p>
<p>Dengan uang seadanya, Dewa terus berusaha mencari penanam modal. Ia sangat yakin bahwa bisnisnya akan bisa berkembang. Ia hanya perlu modal dan kepercayaan, itu saja. Otaknya tidak terlalu pintar tetapi yang jelas tidak bodoh, ia hanya kurang beruntung karena perusahaan tempatnya bekerja sebelumnya bangkrut sehingga ia harus dirumahkan.</p>
<p>Di sisi lain Rani terus asik dengan dunianya sendiri dan tidak perduli terhadap apa yang dilakukan Dewa. Sering ia memamerkan barang-barang yang ia beli kepada Dewa, harganya yang sangat mahal untuk ukuran Rani atau Dewa malah semakin membuat rani bangga dan senang sekali memamerkannya ke Dewa. Ia ingin Dewa sadar bahwa ia mampu membeli apapun yang ia mau tanpa harus bersusah payah berbisnis. Baginya dengan uang warisan dari orang tuanya yang sangat banyak bisa membuatnya bertahan hidup selama apapun ia mau.</p>
<p>Dewa tidak tahan dengan sikap Rani yang seakan tidak peduli dengan dirinya, terus menerus pamer harta dan seakan merendahkan dirinya karena harus pontang-panting kesana kemari melakukan prospek bisnisnya ke rekan-rekan dan kerabat atau teman barunya tanpa hasil. Sedangkan di sisi lain Rani dengan arogannya membelanjakan uangnya tanpa mempedulikan perasaan Dewa. Sampailah 2 tahun lalu pertengkaran hebat terjadi antara Rani dan Dewa. Akhirnya Dewa memutuskan keluar dari rumah Rani dan bertekad memulai hidup barunya tanpa Rani. Rani menyadari bahwa ia sangat kehilangan Dewa, karena ia masih sangat mencintai Dewa, tetapi ia sangat keras kepala dan yakin bahwa Dewa akan menyesal sehingga pasti akan kembali. Selama ini Rani tidak pernah kehilangan dalam artian sebenarnya, apalagi saat ini Dewa sedang dalam masa kejatuhannya, ia pasti tidak akan lama-lama bertahan tanpa dirinya. Dewa pasti akan segera kembali. Tetapi di malam hari saat Rani akan tidur, ia merasakan kehilangan yang amat sangat, dan tiba-tiba ia merasa bahwa kali ini ia akan kehilangan Dewa selamanya. hatinya begitu kosong dan ingin sekali mencari Dewa, meminta maaf padanya dan meminta Dewa kembali kepadanya. Tapi itu tidak pernah terjadi.</p>
<p> <br />
&#8220;Tuhan, aku membuat goresan luka lagi di hatinya. aku sadar bahwa itu menyakitkannya, tapi aku tak juga menyudahi rasa sakit yang aku timbulkan untuk dia. Hati ini terlalu keras sehingga tidak membiarkan sejenak melemah dan menengok hati yang luka itu. Aku terlalu egois&#8221; Rani menutup buku diarynya, mengelap air matanya lalu merebahkan diri di ranjang, menerima pasrah suratan nasibnya harus berpisah dengan Dewa suaminya.</p>
<p>============</p>
<p><strong><em>1 tahun kemudian</em></strong></p>
<p>&#8220;krriiiinngggg&#8221;&#8230;  telpon rumah Rani berbunyi &#8220;kriiiiinngg&#8221;, Rani sangat malas untuk beranjak menggapai telpon. Tetapi suara telpon itu tidak berhenti berdering &#8220;krrriiiiingggg!!!!&#8221;.<br />
Akhirnya dengan terpaksa Rani bangkit dari ranjangnya dan mengangkat telpon</p>
<p>&#8220;Ya halo, dengan siapa ini? mau berbicara dengan siapa?&#8221;<br />
&#8220;Halo, ini Susi. Bisa bicara dengan Rani?&#8221; ujar suara di ujung sana<br />
&#8220;Susi mana ya? ini Rani&#8221; Rani menyahut<br />
&#8220;Heeey Rani.. apa kabar? ini Susi temen SMA kamu. Kita sekelas waktu kelas 3 SMA. Kamu ingat? aku gadis manis yang suka mengikat rambut menjadi dua, hehehe&#8230; bercanda Rani&#8221; suara di seberang sana sangat ceria dan riang. Rani berusaha mengingat, lalu sedetik kemudian ia terpekik<br />
&#8220;Haaaaaiiii.. yayaya, aku ingat. Ini Susi yang menyembunyikan sepatu DocMart aku dulu kan? Kamu tahu dulu aku menangis beneran lho, karena aku pikir sepatu baruku hilang. Ternyata kamu yang menyembunyikan sepatu aku. Apa kabar Susi? Ada apa tumben kamu telpon aku?&#8221;<br />
&#8220;Ada kabar penting yang ingin aku sampaikan Ran. Kamu ada waktu kapan?&#8221;<br />
&#8220;Hmmm&#8230; sebenarnya aku selalu ada waktu karena aku tidak sedang sibuk atau ada kegiatan belakangan ini. Aku hanya sedang menikmati waktu kesendirianku. Bagaimana kalau besok sore jam 4 di resto Mamika?&#8221;<br />
&#8220;Oh begitu ya? OK, setuju. Sampai ketemu besok ya&#8221;</p>
<p>============</p>
<p>Sore itu Rani mengenakan baju terbaiknya, perhiasan mahalnya, sepatu terindahnya hanya untuk pamer ke Susi. Ia sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan apa yang akan dibicarakan Susi. Ia hanya tertarik untuk melihat reaksi Susi begitu melihatnya sangat berkelas sekarang dibandingkan dulu waktu SMA. Dulu waktu SMA, Susi suka menggodainya, karena Rani suka memaksakan diri berpenampilan glamour dengan meminjam barang-barang teman lainnya. Sebenarnya Rani dan Susi bersahabat, hanya saja Rani terkadang suka menanggapi godaan Susi dengan berlebihan, karena ia merasa Susi menghinanya.</p>
<p>Pernah suatu saat Rani meminjam sepatu Doc Mart tetangga rumahnya untuk dipakai ke sekolah.Karena Susi tahu bahwa Rani tidak akan pernah mampu membeli sepatu Doc Mart, maka Susi menggodai Rani dengan menyembunyikan sepatu Doc Mart pinjaman tersebut. Rani sampai menangis dibuatnya karena terbayang harus menggantikan sepatu yang tidak akan pernah sanggup dibelinya. Tapi karena Susi memang hanya berniat menggoda, maka ia langsung memberitahukan letak persembunyian sang sepatu.</p>
<p>Ya, saatnya rani membalas keangkuhan Susi. Roda ekonomi beberapa tahun belakangan memang sedang berpihak kepada keluarga Rani, sehingga usaha ayahnya bisa sangat berkembang dan menghasilkan banyak warisan untuk Rani anak satu-satunya. Saat ayahnya meninggal, tepat Rani berulang tahun ke 25 tahun, bahkan Rani belum tahu akan harta yang akan diterimanya. Sampai 2 tahun kemudian baru Rani tahu betapa banyaknya kekayaan ayahnya yang menjadi hak miliknya. Itu bermula ketika ia akan menikah dengan Dewa, dan adik ayahnya menyarankan Rani untuk membuat Perjanjian Pranikah mengenai harta Rani sebelum menikah, agar jika terjadi suatu hal maka harta tersebut tetap menjadi hak Rani. Semenjak itu sifat angkuh, sombong, dan malas Rani makin menjadi.</p>
<p>Saat Rani memasuki resto Mamika, ia merasakan aura artis disekitar dirinya. Berwarna cerah ceria, mengeluarkan wewangian sedap. Ia merasa hanya dirinyalah yang paling cantik dan terhormat daripada seluruh pengunjung yang ada di resto tersebut. Dari ekor matanya ia melihat berpuluh mata memandang dirinya, ia yakin mereka semua kagum kepadanya. Dengan dagu yang sedikit diangkat, Rani menengok ke kiri, ke kanan, mencari sosok yang mungkin belum berubah yang pernah ia kenal. Tapi ia tidak menjumpai seorangpun di sana yang ia kenal.</p>
<p>Sampai akhirnya ia terkesiap karena dikagetkan oleh suara ceria dari seorang wanita &#8220;Raniiii&#8230;. addduuuh makin cantik saja deh kamu&#8221; ternyata Susi. wah, wah ini benar Susi atau bukan ya. Tampangnya kok tidak secantik dan sebersih semasa SMA dulu ya. Badannya pun saat ini sudah gemuk, tidak selangsing dulu sewaktu SMA. Susi dulu asngat langsing, cantik dan baik hati walaupun terkadang suka menggodai Rani. dulu Susi adalah idaman dan pujaan banyak lelaki di SMA-nya, tapi sekarang aku rasa tidak akan ada lelaki yang mau mendekatinya. Dengan fisik badannya yang jauh lebih gemuk dari ukuran ideal, wajahnya yang terlihat tidak terurus dan rambutnya yang acak-acakan, bahkan bajunya aaaw tidak ada merk-nya, aku yakin dia saat ini pasti masih melajang.</p>
<p>&#8220;Susiiii&#8230;. kabarku baik. Kamu kelihatan senang ya?&#8221; ujar Rani berbasa-basi<br />
&#8220;Iya donk Rani, selalu. yuk kita duduk dulu. Kamu mau pesan minum apa? sudah makan? Aku traktir kamu deh, karena aku yang mengundang kamu untuk bertemu aku, jadi kamu adalah tamuku&#8221; ujar Susi dengan sangat ramah. Kalau masalah ramah tidak berbeda dengan SMA dulu. Susi memang terkenal gadis yang sangat ramah, itu makanya dulu ia sangat digandrunggi banyak adik kelas kami.<br />
&#8220;OK, aku mau jus kiwi. Kalau bisa dicampur strawberry, supaya kulitku makin cerah&#8221; pinta Rani sambil tak lupa diselipkan kalimat memuji dirinya sendiri<br />
Susi kemudian memanggil pelayan dan memesan 1 jus kiwi dan strawberry, 1 jus mangga dan 1 jus jeruk. Rani bertanya, untuk siapa gerangan 1 gelas jus lainnya? karena ia hanya berdua, seharusnya cukup pesan 2 gelas jus saja, tetapi ini Susi pesan 3 gelas jus.<br />
&#8220;Oh ya Rani, aku dengar kamu sudah pisah dengan suamimu ya? ada masalah apa? apa aku bisa membantumu?&#8221; tanya Susi kepada Rani<br />
Rani mengernyitkan dahi, ia memang tidak suka jika ada yang membahas hubunganya dengan Dewa. Bagaimanapun ia masih mencintai Dewa, tetapi ia gengsi untuk menyatakan hal itu. Selain itu dia tahu bahwa Dewa sudah tidak peduli lagi padanya. Maka ia merapatkan bibirnya, memberi isyarat agar Susi tidak membahasnya<br />
&#8220;Maaf Ran, kalau aku membuatmu tidak enak. Aku hanya ingin menyampaikan sesuatu untukmu dari Dewa, mantan suamimu. Seminggu lalu aku bertemu dengannya, ia bercerita banyak tentangmu, ia meminta bantuan aku untuk menyadarkanmu. Terus terang aku tidak mengerti mengapa ia memintaku untuk melakukan hal itu. Tapi aku sebaiknya meneruskan amanah ini&#8221; Susi mendadak serius. Ia memberi banyak masukkan dan nilai hidup kepada Rani, walaupun Rani tidak 100 % mendengarkan ataupun berniat mengikuti anjuran Susi. Rani hanya tidak enak dan berpura-pura mendengarkan dengan serius. Ia hanya menitip pesan kepada Susi untuk disampaikan kepada Dewa bahwa ia tidak pernah lagi mencintai Dewa yang pemalas, tidak pernah beruntung, tidak bisa menghidupi dirinya, tidak pernah bisa mampu di atas kakinya sendiri, bahkan terkesan sering memanfaatkan Rani. Ia juga berpesan bahwa Dewa harus melupakan dirinya, karena saat ini Rani sudah memiliki tunangan dan tisak pernah berniat kembali kepada Dewa.<br />
Perbincangan yang terlihat serius sore itu berakhir jam 6.30, karena Susi harus menghadiri peresmian Hotel Premiere miliknya jam 8 malam. Susi mengundangnya karena ia inginmempertemukan kembali Rani dengan Dewa, tetapi dengan arogannya Rani berkata bahwa ia sama sekali tidak berniat bertemu Dewa dan ia paling tidak suka mengunjungi acara peresmian semacam itu.</p>
<p>Rani berharap Susi segera berlalu, karena ia mulai bosan dengan topik pembicaraan, apalagi setelah tahu Susi kelihatannya sedikit lebih berada daripada Rani, ternyata Susi sekarang juga sudah sukses, ia memiliki beberapa bisnis besar. Rani tidak menyangka Susi begitu rendah hati, dengan segala bisnis yang dimilikinya, ia berpenampilan tidak layaknya kalangan Jetzet. Ah, tetapi menurut Rani, tetap ia-lah yang paling hebat.</p>
<p>============</p>
<p>Pertemuan sore itu hanya berakhir begitu saja, dan tidak pernah terjadi lagi hingga 2 minggu lalu ia mendapat undangan pembukaan Hotel Prodesus dari Susi.<br />
&#8220;Di mohon kehadirannya, dalam rangka pembukaan Hotel Prodesus, pada hari Sabtu jam 19.30. Terima kasih atas kehadirannya. Salam &#8211; Managemen Hotel Prodesus a/n Susi Anastawa&#8221;</p>
<p>Tidak ada yang paling membahagiakan Rani, selain undangan acara semacam ini, karena itu artinya bisa menjadi ajang pamer bagi dirinya di depan umum.</p>
<p>Segala sesuatu dipersiapkannya, sehingga dengan rasa percaya diri Rani merasa menjadi wanita paling beruntung dan paling diidamkan oleh seantero lelaki di dunia ini.<br />
Sesampai di Hotel Prodesus, Rani terlambat 30 menit. Ternyata acara baru saja dimulai, ia langsung menuju ke bangku barisan depan sesuai undangannya, VIP. Terdengar suara pembaca acara menyebutkan bahwa saat ini waktunya sambutan oleh Pemilik Hotel Prodesus, Dewa Pranala.</p>
<p>Jantung Rani seakan berhenti berdegup mendengar nama yang sangat familiar dikupingnya. Refleks Rani melihat ke arah orang bernama Dewa Pranala itu berjalan memasuki ruangan. Ternyata itu benar Dewa Pranala mantan suaminya. Apakah benar, atau ini hanya mimpi? Sepertinya Dewa saat ini menjadi sangat sukses. Lalu apa hubungannya dengan Susi? tanya Rani dalam hati. Karena ia duduk di bangku barisan depan, maka ia mengurungkan niatnya untuk keluar dari pesta tersebut. Ia sangat gengsi untuk terlihat bahwa ia gugup.</p>
<p>Dewa Pranala, pemilik Hotel Prodesus memulai sambutannya menceritakan bagaimana susahnya ia meyakinkan orang dahulu untuk menjalankan bisnis perhotelan bersamanya. Meyakinkan bagaimana prinsip Hotel yang diusungnya, karena membutuhkan biaya service yang lebih besar dibandingkan Hotel regular pada umumnya. Dia ceritakan bagaimana dia dihiraukan dan dihina oleh hampir semua orang kala itu, saat mengetahui bahwa ia tidak lagi memiliki pekerjaan bahkan sampai mencari penanam modal padahal istrinya dahulu memiliki uang.</p>
<p>&#8220;Sampai akhirnya Saya bertemu tuan Putri bernama Susi Anastawa. Putri lemah lembut, penuh kehangatan, sangat ceria dan mendukung saya sampai saya tidak percaya bahwa ternyata ada orang yang percaya kepada saya melebihi diri saya sendiri.  Dia juga sangat mencintai saya, padahal dia tahu bahwa saya masih mencintai mantan istri saya Rani. Dengan rasa cintanya itu, ia berusaha menyatukan kembali saya dengan Rani, ia ingin memberi bahagia kepada Saya, padahal saya sudah meyakinkannya bahwa saya akan mencoba melupakan Rani dan menikahinya. Saya akan  memberinya kebahagiaan yang tidak akan pernah habis bahkan mungkin tidak pernah dia bayangkan, menemaninya baik dalam keadaan suka maupun duka. saya akan curahkan segala kasih sayang yang pernah ada di muka bumi ini. Tetapi Susi memang putri berhati malaikat, bahkan ia tetap menyarankan saya untuk kembali berusaha mendekati Rani, untuk memberi bahagia saya. Saya akui saya masih mencintai Rani, tetapi rasa kasih sayang saya kepada Susi jauh melebihi rasa sayang saya terhadap diri saya. Jadi bersama berdirinya Hotel Prodesus ini, saya mengikrarkan janji setia saya kepada Susi, putri berhati malaikat yang telah  membuat saya melupakan keinginan rasa memiliki. Karena saya hanya ingin memberikan kebahagiaan terhadap orang yang saya sayangi &#8230;&#8230; Susi Anastawa&#8221;</p>
<p>Rani sudah tidak kuat lagi mendengar kata-kata yang diucapkan Dewa selanjutnya, hari ini dia merasakan apa yang pernah dirasakan oleh Dewa, mantan suaminya dulu. Rasa sakit, sedih, hilang harapan dan dikecewakan. Dia rasakan hatinya sesak dan jantungnya berdegup keras, serasa dunia mendadak gelap dan gulita. Dirasakannya petir menyambar-nyambar hatinya. Sangat sakit dan menghujam ulu hatinya. Ini pasti yang juga dirasakan oleh Dewa dulu, pikir Rani. Sesaat kemudian dunia berputar dan Rani pingsan terhempas ke lantai.</p>
<p style="TEXT-ALIGN: center">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212; Selesai &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritapendekrupi.com/?feed=rss2&amp;p=67</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tunggu aku sampai waktunya tiba, sayang</title>
		<link>http://ceritapendekrupi.com/?p=62</link>
		<comments>http://ceritapendekrupi.com/?p=62#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Aug 2009 16:04:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rupi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Romantis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritapendekrupi.com/?p=62</guid>
		<description><![CDATA[Suara titik air hujan gerimis terdengar berirama, jatuh mencium dedaunan hijau muda di depan rumahnya. Sang daun menggeliat menerima ciuman sang air, ia tahan beban sang air yang semakin memeluk dirinya dalam genangan, perlahan daun hijau muda itu menundukkan punggungnya memberi lewat sang air agar bisa menciumi tanah merah di hadapannya. Sang tanah tersenyumsumringah menyambut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span>Suara titik air hujan gerimis terdengar berirama, jatuh mencium dedaunan hijau muda di depan rumahnya. Sang daun menggeliat menerima ciuman sang air, ia tahan beban sang air yang semakin memeluk dirinya dalam genangan, perlahan daun hijau muda itu menundukkan punggungnya memberi lewat sang air agar bisa menciumi tanah merah di hadapannya. Sang tanah tersenyumsumringah menyambut air yang begitu di nantinya selama berbulan-bulan ini. Oooh&#8230; indahnya susasana sore ini, hmmmm&#8230; harum tanah merah yang basah oleh air hujan begitu menggairahkan. Langit putih keabu-abuan mulai malu menyemburatkan warna warni pelangi seperti melilit lehernya, memayungi bumi. Setelah memandangi langit luas dari jendela di hadapannya, ia melihat ke Pria di samping kirinya yang sedang tidur terlelap menghadap langit2 rumah, dengan dada terbuka dan sebagian tubuhnya tertutup selimut putih krem membuatnya terlihat sangat menggoda untuk di peluk. Dadanya yang bidang berotot berwarna coklat sangat seksi, lengannya yg besar proporsional begitu membuat ia terpesona, lengan kanannya tertahan guling di sampingnya tapi jemarinya bertaut dengan jemari tangan kirinya di atas perutnya yang kencang berotot. Kulitnya begitu coklat bersih, bahkan hingga pusarnya yang bulat terlihat sangat bersih bercahaya. Matanya turun memandangi bagian bawah badan pria itu, tak habis pikir ia betapa Tuhan menciptakannya begitu sempurna bahkan hingga ke ujung kakinya. Pinggulnya yang tersingkap krn selimut tidak menutupinya terlihat begitu pas menopang badannya yang proporsional, pahanya hingga kakinya dengan ukuran yang sangat pas! bahkan betisnya begitu melekat sempurna di kakinya yang kekar panjang seakan menantang semua aktifitas untuk mendekatinya. </span></p>
<p><span><span id="more-62"></span>Pria itu menggeliat, menggerakkan bahu kirinya naik sedikit ke atas mendekati rahangnya yang tegas, wajahnya memaling ke kiri ke arah dirinya. Oh Tuhannn&#8230;.. aku begitu memujanya, lihatlah tulang hidungnya yang kecil tinggi, bibirnya yang kecil berbentuk sangat manis dan menggoda mengatup sempurna. siluet wajahnya sangat sempurna! terlebih dilihat dari samping seperti ini, tulang dahi yang pas bersambung dengan mata yang tepat, kemudian tulang hidungnya bersambung dengan bibirnya, lalu dagunya yang berbelah menopang kesemuanya dengan pas. Oh ya, tulang pipi dan rahangnya yang tegas membuat aku tak bisa berhenti ingin menciuminya terus bahkan saat ia terlelap seperti ini.</span></p>
<p><span>Wanita itu bergeser menggerakkan tubuhnya mendekati sang pria, rebah di samping kiri badannya. Tangannya yang bertaut di lepaskannya, ia menyusup ke dada sang pria itu, memeluknya dengan sangat berperasaan, merasakan hangatnya tubuh sang pria yang harumnya sangat khas dan memenuhi rongga hidungnya dengan lembut, menyeruak masuk ke dalam dada dan membuat nyaman hati wanita itu. Ya! wangi eau de toilette X Limited dari Etienne Aigner itu seakan sudah menjadi bagian hidup pria itu, dan bersamanya selama bertahun-tahun membuatnya sangat menggilai wangi parfum tersebut. Bahkan saat tidak bersamanya, dengan seketika akan menjadi sangat rindu saat mencium wangi parfum tersebut digunakan oleh orang lain. Ia bisa gila mungkin jika saat rindu tetapi tidak dapat bertemu. Pria itu menyadari sang wanita tidur di atas dadanya sambil memeluk, maka ia merangkulkan tangan kirinya ke leher sang wanita dan tangan kanannya merangkul pinggang sang wanita sampai ke punggung sambil mengusap-usapnya. Aaah.. nyaman sekali dirasakannya, kualitas hidup seperti inilah yang sangat ia rindukan selalu hadir di setiap waktunya. Wangi parfumnya, hangat pelukannya dan desir-desir tak terkirakan yang timbul oleh setiap sentuhannya. Aku cinta kamu, sayang. Aku ingin kamu ada dalam setiap waktuku dengan kualitas kenyamanan hidup yang tidak akan pernah aku dapatkan jika aku bersama yang lain. Wanita itu meresapi rasa cinta kasih yang menyusup hingga ke sendi-sendi dan urat nadinya. Darahnya bergejolak oleh rasa ingin yang sangat. Ia ciumi leher sang pria dengan lembut tetapi dengan hasrat yang memuncak. Saat ia letakkan bibirnya di leher pria itu, ia biarkan sesaat bibirnya merasakan hangatnya leher pria itu, ia biarkan nadi sang pria mengirimkan sinyal kepada saraf bibirnya, meneruskan kepada pikirannya, hatinya dan kemudian kepada saraf di seluruh tubuhnya, dan memerintahkan dengan refleks untuk menerima kehadiran pria itu di dalam segenap aliran darah sang wanita, sampai-sampai seluruh tubuhnya, sarafnya, nadinya, darahnya berkata &#8220;hampiri aku, sentuh aku dengan seluruh rasa yang ada padamu sayang&#8221; </span></p>
<p><span>Pria itu membalasnya dengan kasih, ia mencium kening sang wanita, di biarkannya bibirnya yang hangat meneruskan kasih yang ada dalam hatinya kepada wanita itu. Ia ciumi mata wanita itu dengan lembut sambil berkata &#8220;kamu tidak tidur sayang&#8221;, wanita itu menjawab &#8220;tidak sayang, aku begitu mengagummui sampai aku tidak mengantuk, lagipula suasana begitu indah, langit diselimuti pelangi tadi&#8221;. pria itu mencium pipi sang wanita, hidungnya, bibirnya, dagunya, terus ke leher wanita itu. Lidahnya yang hangat menambah sensasi. Pria itu kembali ke bibir sang wanita yang sedikit terbuka, di ciumnya dengan lembut, berperasaan, di biarkannya nafasnya bertukar dengan wanita itu, bahkan sesekali dia hirup udara dari mulut sang wanita, dia rasakan udara itu menembus lehernya, dadanya dan bersarang di dalam hatinya dengan kedamaian. &#8220;Ayo mandi sayang, sudah sore. Kita duduk di teras yuk. Aku mau melihat wajahmu yang cantik ini di sirami cahaya sore&#8221; ucap sang pria sambil mencubit ringan pipi sang wanita, mencium pipinya kembali dan mengeratkan pelukannya. Sang wanita menggeliat, merenggangkan tangannya, kemudian memeluk kembali pria itu, menenggelamkan wajahnya di dada sang pria &#8220;aku malas jalan ah, gendong aku baru aku mau mandi&#8221; ujar sang wanita manja pasrah menyerahkan dirinya untuk di gendong. Pria itu bangkit, menggendongnya dan membawanya ke kamar mandi &#8220;kamu turun dulu, aku nyalakan air hangat untuk kita mandi yah&#8221; ujar pria itu sambil menurukannya. Di nyalakannya keran air panas dan dingin, dia setel sedemikian rupa, di coba-cobanya setelan air itu agar di dapati hangat yang pas untuk aku. Saat seperti inilah dia begitu menyadari betapa pria itu mencintainya, memperhatikan dan memanjakannya. </span></p>
<p><span>Busa sabun itu lembut menyentuh tubuhnya melalui tangan kekar pria itu, dirasakannya tangan itu memijatnya sambil menyabuninya, ujung jarinya menekan urat2nya yang lelah setelah tadi bermesraan dengannya. Dia bersihkan seluruh tubuh sang wanita dengan lembut sampai ujung jari jemari sang wanita. Setelah selesai menyabuni, pria itu mengarahkan shower ke tubuh sang wanita, membersihkan sisa-sisa sabun, melap tubuhnya dengan handuk dan melilitkan handuk itu sampai sebatas bawah ketiaknya. Setelah selesai digendongnya wanita itu ke arah wastafel &#8220;kamu sikat gigi, aku mandi dulu ya&#8221; ujar pria itu lalu dia mulai mandi, dia arahkan air ke seluruh tubuhnya, dari mulai kepala sampai ujung kakinya. Ia tuang sampoo ke telapak tangannya, di buatnya busa dari sampoo itu dengan kedua telapak tangannya dan kemudian di keramaskan ke rambutnya yang pendek sedikit bergelombang sampai busanya benar-benar banyak. Wanita itu sambil menyikat giginya melihat dari bayangan cermin wastafel ke arah sang pria sampai ia selesai dan pria itu juga memakai handuk.</span></p>
<p>*********</p>
<p><span>Langit sore itu benar-benar indah. Matahari yang mulai muncul seakan malu menampakkan cahayanya. Teh hangat berwarna coklat itu di biarkannya mengental semakin menampakkan warnanya yang menua karena ia lebih suka rasa teh yang kental, lebih berasa di lidah dan tenggorokkannya. Teh celup di cangkir sang pria di ambilnya karena sudah mulai menua, ia tahu bahwa pria itu tidak suka teh yang terlalu kental, yang terpenting manisnya cukup dan berasa tehnya sedikit ringan sudah cukup untuk pria itu. Pucuk daun hijau muda yang tadi berkencan dengan air mulai mengering, air yang tertinggal di tulang punggungnya sudah tinggal berkas-berkas saja karena tadi ia biarkan air itu mengencani tanah yang memang membutuhkannya. Tangannya dan tangan pria yang duduk di sampaing kanannya itu bergenggaman, mesra, mata sang pria teduh menatapi dalam matanya, seakan ingin mengatakan &#8220;aku cinta padamu, cahaya sore ini membuatmu makin terlihat cantik&#8221;, ia membalas dengan tatapan seakan menerima ucapan itu dan membalasnya seakan berucap &#8220;aku juga cinta padamu sayang, aku begitu mengagumimu&#8221;. Di hirupnya teh hangat itu sambil jemari tangan kirinya terus menggenggam jemari sang pria. </span></p>
<p><span>Langit beranjak pergi kembali karena sudah waktunya sang bulan menggantikannya menyinari bumi malam nanti. Suara adzan maghrib berkumandang dari masjid sebelah kanan rumah. Pria itu merangkulnya beranjak masuk ke dalam rumah. Teh &#8211; teh di cangkir terdiam memperhatikan pasangan yang sedang dimabuk asmara begitu mesra-memanja. </span></p>
<p><span>Ujar sang pria kepada wanita itu <strong>&#8220;Tunggu aku sampai waktunya tiba sayang. Aku akan memanjakanmu setiap waktu, dan aku tidak akan pernah membiarkanmu bersedih. Aku akan berusaha memberikan cinta yang paling sempurna yang pernah ada di dunia ini hanya untukmu&#8221;</strong></span></p>
<p>*********</p>
<p><span>Tahun ini adalah tahun kelima kami menjalin kasih. Begitu banyak suka dan duka yang sudah kami alami bersama. Semoga bahagia itu bisa aku dapatkan selalu sampai aku tidak bisa merasakan lagi indahnya dunia penuh bahagia.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritapendekrupi.com/?feed=rss2&amp;p=62</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Awan kelabu di desa Penan-gi, Doba</title>
		<link>http://ceritapendekrupi.com/?p=56</link>
		<comments>http://ceritapendekrupi.com/?p=56#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 09 Aug 2009 17:35:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rupi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Misteri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritapendekrupi.com/?p=56</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;hmhhh!&#8230;..&#8221; pria itu menarik nafas lega &#8220;akhirnya bus itu datang juga, waaahh&#8230; penuh sekali. Apakah tujuannya benar?&#8230; aku akan cek dulu sebelum naik&#8221;. Karena bus melewati dirinya, pria itu bergegas berjalan sejajar bus dan bergerak ke arah depan bus untuk melihat tujuan yang tertulis di kaca depan. &#8220;ah, ya, Penan-gi !!&#8221; seru pria itu dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;hmhhh!&#8230;..&#8221; pria itu menarik nafas lega &#8220;akhirnya bus itu datang juga, waaahh&#8230; penuh sekali. Apakah tujuannya benar?&#8230; aku akan cek dulu sebelum naik&#8221;. Karena bus melewati dirinya, pria itu bergegas berjalan sejajar bus dan bergerak ke arah depan bus untuk melihat tujuan yang tertulis di kaca depan. &#8220;ah, ya, Penan-gi !!&#8221; seru pria itu dalam hati, kemudian masuk bus melalui pintu depan, bersiap untuk mencari tempat duduk yang kosong karena pasti hampir penuh dilihat dari luar tadi. &#8220;hhh&#8230;. aku lelah sekali, aku akan tidur begitu dapat tempat duduk, 1 jam cukuplah bagiku untuk beristirahat&#8221;.</p>
<p>Wuuuuussshhh.. begitu pria itu menengadahkan mukanya dan posisi tepat berada di samping Pak Supir, angin dingin menerpa wajah dan kupingnya. Sekilas tertangkap oleh ekor matanya supir dan kondektur terbengong diam memandang pria itu.<br />
&#8220;Oh tidak, ternyata semua orang di dalam bus itu memandangku, aku jadi curiga apakah aku terlihat bodoh, salah bus atau apa ya? mengapa semua orang memandang ke arahku?&#8221;</p>
<p>Pria itu melihat ke sekeliling, lurus kedepan &#8220;kenapa sepi sekali ya?, untuk ukuran orang sebanyak ini rasanya tidak mungkin suasana begitu senyap, tanpa suara apapun&#8221; pria itu terheran-heran, tak berhenti berpikir sambil mencari tempat duduk yang kosong &#8220;orang-orang ini begitu tak tau sopan, terus memandangi aku tanpa senyum, tanpa sapa dan tanpa reaksi sama sekali&#8221; pria itu menggerutu.</p>
<p>Sampai di tengah bus, tiba-tiba suasana menjadi benar2 hening dan mencekam. &#8220;ada apa dengan bus ini ya? mengapa di setiap jendela ada tulang-tulang tergantung di tiang tempat gordyn jendela di sangkutkan? kalau dilihat dari bentuknya yg panjang tunggal sepertinya itu adalah tulang betis. Apakah ini semacam adat daerah ini untuk menghindari sangkala? murka? musibah? bencana? atau hanya hiasan semata?&#8221; pria itu terheran-heran menatap sekeliling, tapi tak berniat untuk bertanya ke orang sebelah atau depan-belakang duduknya. Ia memutuskan untuk tidur saja.</p>
<p>Tiba-tiba WHUUUZZZZZZ!!!!! semua mendadak gelap gulita, bus berhenti mendadak.</p>
<p><span id="more-56"></span></p>
<p>&#8220;<strong>Aaaa!!!,</strong> tolong nyalakan lampu darurat&#8221; pria itu terpekik, dia panik dan merasa bahwa bus itu seperti apartementnya yang memiliki cadangan energi sehingga tidak ada istilah mati lampu.</p>
<p>Zlep! trrrrttt&#8230;. trap! tak lama kemudian, akhirnya lampu kembali menyala, tetapi sayangnya tidak seterang sebelumnya.&#8221;hah!! kemana orang-orang tadi? oh mungkin saat mati tadi semua penumpang turun dari bus. Seharusnya mereka naik kembali kedalam bus ini, seharusnya bus ini berhenti dahulu, aku akan memberitahukan Pak Supir bahwa penumpang belum naik&#8221;</p>
<p>Pria itu mencari-cari sosok pak supir, ke depan, ke belakang, ke samping kanan, kiri<br />
&#8220;mana kondekturnya ya? mengapa semua tidak naik ke dalam bus?&#8221; pria itu sepertinya belum menyadari bahwa bus terus berjalan, melewati hutan cemara. Karena lelah setelah seharian tadi menyusuri sungai Landuni, maka pria itu tertidur.</p>
<p>&#8220;Olana, mama pia buki? [turun di mana Pak?]&#8221; tanya pak kondektur kepada pria itu dengan bahasa daerah yang kurang dimengerti pria itu, tetapi untungnya bapak kondektur memberikan bahasa isyarat juga, jadi paling tidak sedikit-sedikit bisa dimengerti oleh pria tersebut. &#8220;Penan-gi&#8221; jawab pria itu sambil menunjukkan peta yg dikeluarkannya dari saku jaket sebelah kanan.</p>
<p>&#8220;te ma gi- Olana. Nomo ni sata, buki tatame [baiklah Bapak. Saya akan beritahukan - jika sudah sampai tujuan]&#8221; sahut pak kondektur sambil menjauhkan tangannya dari bahu pria itu dan menyilangkan di dadanya sendiri, menyurut ke belakang dengan menundukkan kepala.</p>
<p>&#8220;ah, masih 45 menit lagi. Tapi aku sudah tidak mengantuk seperti tadi.&#8221;<br />
Pria itu menepuk2 jaketnya, membersihkan debu yang mengotori sebagian besar baju dan jaket hitam panjangnya.<br />
&#8220;hiii&#8230;. dingin sekali, tapi aneh rasanya mengapa debu bisa sebanyak ini di bajuku, padahal cuaca sangat dingin. Dinginnya pun bukan dingin air conditioner ataupun dingin angin dari luar bus, karena semua jendela dan pintu tertutup. Seharusnya tidak ada debu yang terbang ke arah bajuku&#8217;</p>
<p>Debu itu beterbangan, semakin di tepuk, debu yg beterbangan semakin banyak!<br />
Sungguh kejadian aneh yg tidak habis dipikir oleh pria itu.</p>
<p>Belum habis tanda tanya pria itu, debu itu melembut, melembek dan menjadi basah lengket di sekujur tubuhnya. warnanya menjadi seperti lumpur bercampur coklat karena warnanya yg coklat tua. Perlahan diperhatikannya lumpur tersebut semakin menebal dan seperti hendak menelan pria itu. &#8220;oh, aku kehabisan nafas!!&#8221; pria itu menahan nafasnya agar lumpur itu tidak masuk ke dalam hidung dan mulutnya. Dia menutup juga matanya. badannya menahan dingin yang menggigit, gatal, sesak, badannya seperti dilimuti selimut lumpur tetapi dingin menyesakkan. Rambutnya kaku dan berat, seperti sedang dililit handuk tebal yang basah dan kotor. Semakin lama pria itu tidak berhasil bertahan, lumpur itu akhirnya masuk ke dalam hidungnya, mulutnya, tenggorokannya, matanya, berjalan mendesak sampai ke jantungnya, perutnya seakan menjadi tempat pembuangan akhir lumpur. Lumpur-lumpur itu berputar-putar di dalam perutnya, bertambah besar, besar dan besar karena lumpur terus masuk melalui seluruh pori-pori tubuhnya. Tulangnya melunak, tertekan lumpur yang entah dari mana, seperti pusaran lumpur yang berpusat di dalam tubuhnya dan berujung di perutnya yang terus membesar dan &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.</p>
<p>Tiba-tiba pria itu kembali berdiri di luar pintu bus.</p>
<p>&#8220;Olana, mama pia buki?&#8221; suara yang kecil serak mengagetkannya. oh, ternyata ada seorang bapak kondektur berdiri di pintu depan bus yang berjalan perlahan, dengan muka bertanya-tanya melihat dirinya yang tengah kebingungan mencari bus yang sesuai. Bus itu berjalan melewati dirinya dan pria itu bergegas mengejar bus itu melewati badan depan bus, melihat tujuan yang tertera di kaca depan &#8220;ya, penan- gi&#8221; ucapnya. &#8220;tapi penuh sekali, ahh, aku lelah sekali, aku akan menunggu satu bus lagi setelah ini, semoga aku dapat tempat duduk. 1 jam cukuplah bagiku untuk beristirahat&#8221; pria itu mengurungkan niatnya menaiki bus itu. Ia merasa harus menunggu bus lain agar bisa duduk dan tidur, ia lelah sekali setelah seharian menyusuri sungai seperti petunjuk peta yang berada di saku jaket sebelah kanannya. Pria itu melihat kepergian bus tujuan penan-gi tersebut, menjauh darinya. Seperti ada desir aneh menyelimuti dirinya. Tapi pria itu tidak mengerti dan mengapa desir itu timbul.</p>
<p>============</p>
<p>Setelah sampai di Penan-gi, pria itu mencari penginapan <strong>Doba Penan-gi. </strong>Dengan tergopoh-gopoh pria itu masuk ke kamar, &#8220;hmmm&#8230;. cukup nyaman kamar ini, tetapi penerangannya tidak memadai&#8221;. Pria itu mengamati ruangan kamar penginapannya, luasnya kira-kira 3 x 4 meter, bercat kuning pucat, di depan pintu kamar ada sebuah tempat tidur kayu berwarna coklat tua, kasurnya sudah menipis dan warna sepreinya juga kuning pucat dengan list warna coklat bercorak bunga tulip. di sebelah kiri ada satu set meja rias kayu tua, lacinya kelihatannya sudah rusak, tetapi masih terlihat cukup bagus untuk daerah terpencil seperti penan-gi ini, kursi riasnya juga masih cukup bagus, ukiran di kaki-kaki meja dan kursi rias itu cantik sekali bercorak bunga dan daun putri malu. Di sebelah kanan tempat tidur terdapat lemari 2 pintu yang juga terbuat dari kayu tua, kelihatannya lemari ini tidak ada ruang gantungnya, semua pakaian harus di lipat. Di sisi kiri pintu masuk ada kamar mandi dan tepat di depan pintu kamar mandi ada tempat sampah terbuat dari kayu yang dilubangi tengahnya, di ukir bunga dan daun putri malu juga sama seperti meja dan kursi rias. Dia lantas teringat istrinya yang sangat tidak menyukai perlengkapan rumah yang terbuat dari kayu berukir atau bercorak. Istrinya memang lebih suka perlengkapan rumah terbuat dari kayu polos, lebih modern dan tidak menyeramkan alasannya. Kemudian dia menoleh ke arah sisi kanan pintu masuk, ternyata ada tempat meletakkan sepatu dan bertingkat jadi cukup untuk memuat dua pasang sepatu.</p>
<p>Pria itu melepas sepatu dan meletakkan di tempat sepatu, &#8220;ah kotor sekali sepatuku ini, sepertinya aku tidak pernah melewati lumpur, mengapa ada lumpur di sepatuku?&#8221; pria itu bertanya dalam hati. Ia lalu meletakkan jaketnya di atas sandaran kursi rias, mengambil satu set baju tidur dari tas ranselnya yang berwarna hijau pupus dan kemudin meletakkan tasnya di atas meja rias. Pria itu berolahraga lari kecil di kamar selama 5 menit lalu pergi mandi membersihkan tubuhnya dari debu dan keringat. Walaupun sudah malam, terpaksa dirinya mandi. Itu lebih baik ketimbang dirinya tidak bisa tidur karena keringat, kotor dan panas (maklum tidak ada air conditioner ataupun kipas angin disini).</p>
<p>Setelah mandi, pria itu terlelap tidur</p>
<p>=============</p>
<p>Keesokan paginya, pria itu bangun dengan badan yang segar, ringan dan mata yang terang. tidurnya sangat nyenyak semalam, walaupun sempat ada mimpi aneh yang menyertainya. Tapi ia lupa mimpi apa semalam. Ia bergegas turun dari kasur, meraih handuk dan pergi mandi. Ia berniat akan mencari tahu keadaan sekeliling setelah mandi nanti, bertanya ke satu atau dua orang, kemudian meneruskan niatnya mencari orang yang bernama Gota ke suatu tempat yang sudah diberi tanda di peta yang ia pegang.</p>
<p>Ya, ia penasaran sekali, almarhum ayahnya pernah berkata sebelum meninggal sambil menyerahkan peta Desa Penan-gi bahwa suatu saat ia akan membutuhkan peta tersebut. &#8220;Jika saatnya tiba, maka carilah pria yang bernama Gota, ia tinggal di tempat yang ditandai lingkar merah&#8221; ujar ayahnya perlahan. Tak lama kemudian ayahnya meninggal tanpa sempat ia bertanya lebih lanjut, kapan waktu tersebut dan untuk apa ia harus menemui Gota. Dan untuk apa pula ia harus membutuhkan peta tersebut.</p>
<p>=============</p>
<p>5 tahun berlalu, dan selama 5 tahun tidak pernah ada tanda apapun bahwa memang ia membutuhkan peta itu dan tidak ada tanda apapun yang membuat ia harus mencari pria bernama Gota.<br />
Sampai suatu malam ia bermimpi, ia berada di dalam bus, melewati hutan, dan pada suatu titik tiba-tiba bus yang ia tumpangi diterjang lumpur basah yang bergulung-gulung dari arah samping bus. Lumpur itu semakin membesar, menggulung-gulung, kecepatannya semakin mendekat semakin cepat, lalu lumpur itu menerkam bus beserta seluruh penumpang termasuk dirinya. Dalam mimpi itu hadirlah seorang pria kurus kecil, berkulit hitam mengkilat menunjukkan peta yang sama persis dengan peta yang diberikan oleh ayahnya.</p>
<p>Pagi harinya, ia mendapati sepotong berita di koran mengenai misteri hilangnya sebuah bus beserta seluruh penumpangnya. Bus itu memang melewati desa Penan-gi. Tapi apakah iya, mimpi yang dia alami semalam adalah suatu pertanda apa yang dialami oleh bus tersebut? lalu apa hubungannya dengan dirinya? lalu mengapa sudah jauh hari sebelumnya ia seperti sudah dipersiapkan untuk kondisi ini beserta peta dari ayahnya? sungguh banyak pertanyaan yang bahkan iapun belum bisa menjawabnya ataupun bahkan mengira-ngira.</p>
<p>Maka  untuk menjawab semua pertanyaan dan kebingungannya, ia memutuskan untuk mencari tahu. Ia merasa bahwa saat inilah waktunya ia membutuhkan peta tersebut dan akan mencari tahu misteri yang terjadi terhadap mimpi, peta dan bus yang hilang tersebut. </p>
<p> =============</p>
<p>Pria itu keluar penginapan, tempat yang pertama ia akan tuju adalah rumah makan Penan-gi Express yang terletak di tengah desa. Sambil sesekali ia akan berhenti jika menemukan orang. Ya, sejak dari penginapan ia tidak menemukan seorangpun untuk ia tanyakan. Aneh sekali, bahkan pegawai penginapanpun tidak ia temukan. Sesampai di rumah makan Penan-gi Express ia hanya menemukan 2 orang, 1 orang pelayan rumah makan dan 1 lagi pengunjung yang sudah selesai makan dan kelihatan tergesa-gesa ingin meninggalkan rumah makan.</p>
<p>Penerangan di rumah makan tersebut kurang layak, hanya ada 1 lampu yang menyala di tengah-tengah ruangan, tetapi untunglah ada jendela kaca yang cukup memberi penerangan ke arah dalam rumah makan. ia pesan spagheti 1 porsi, 1 coke dan sepotong roti lapis. Menu yang ia rasa akan cukup mengganjal perutnya sampai nanti sore sekembalinya ia dari mencari Gota, karena ia yakin siang nanti dia akan sulit menemukan rumah makan di desa terpencil seperti Penan-gi ini.</p>
<p>Saat memesan makanan, kembali ia harus memberi bahasa isyarat, karena ternyata pelayan tersebut tidak bisa bahasanya selain bahasa suku penan-gi yang ia tidak pernah mengerti sedikitpun. &#8220;aku harus mencoba belajar bahasa penan-gi, supaya aku bisa berkomunikasi. tapi siapa yang bisa membantu aku? bahkan orangpun tidak banyak yg aku temui&#8221; pria itu bertekad belajar tetapi ia tidak yakin bahwa ia akan segera bisa karena tidak menemukan seorangpun yang terlihat bisa membantu dirinya. Kemudian ia teringat Gota, seperti pesan ayahnya bahwa ia harus mencari Gota jika sudah di desa Penan-gi. Ia mencoba bertanya kepada pelayan &#8220;apa Anda kenal pria bernama<strong> Gota? Gota?&#8221; </strong>sengaja ia tekankan kata-kata Gota karena ia yakin kata-kata sebelumnya tidak akan diketahui pelayan tersebut.</p>
<p>Pelayan tersebut menggelengkan kepala pertanda ia tidak mengerti atau tidak mengenal pria bernama Gota. Pria itu mengernyit dan bergumam &#8220;hmmm .. dengan cara apalagi aku harus bertanya? OK, aku akan coba tunjukkan peta itu&#8221;. Lalu ia mengeluarkan peta dari dalam tas ranselnya, menunjukkan suatu titik sambil berkata &#8220;Gota.. Gota&#8221; dan memajukan dagunya sambil menunjukkan mimik muka bertanya. Pelayan itu sepertinya sedikit mengerti, tetapi ia tidak bisa menutupi raut muka kagetnya saat melihat titik di peta itu. Ia hanya mengangguk-angguk dan menunjuk jarum jam 12, menunjuk suatu arah ke luar rumah makan, menunjuk jarum jam 12 lagi dan memberi isyarat seperti leher akan dipenggal. Kemudian pelayan itu segera memberi isyarat pria tersebut untuk bersegera mencari Gota.</p>
<p>Pria itu hanya melahap roti dan meminum dengan gerakan sangat cepat cokenya. Spaghetinya ia minta dibungkus karena akan ia makan nanti diperjalanan saja supaya waktunya cukup. Ia tidak mengerti mengapa ia merasa waktunya sangat terbatas, padahal ia juga tidak mengerti maksud jarum jam 12, tapi ia merasa bahwa sesuatu yang buruk akan segera terjadi pada jam 12, sekitar 3 jam dari sekarang. Jadi ia harus cepat-cepat berjalan daripada terlambat. Ia berniat akan mencari tahu diperjalanan.</p>
<p>Jalan yang ditunjukkan pelayan itu satu arah dengan tujuan dia yaitu titik yang terdapat di peta, titik yang diberi tanda lingkar merah. Kira-kira 2,5 jam perjalanan kaki dari tempatnya berdiri sekarang, jika dijalan lancar-lancar saja.</p>
<p>Sekitar jalan itu hanya pohon-pohon tinggi menjulang, tidak ada tempat pemberhentian, tidak ada kendaraan yang bisa membawanya kesana ia rasa, karena jejak jalan yang ada tidak terlihat bekas ban mobil, bus bahkan motor ataupun sepeda.</p>
<p>Ia memutuskan untuk berjalan kaki dengan cepat agar tidak terlalu lama di perjalanan dan bisa sampai tempat yang dituju sebelum jam 12 nanti.</p>
<p>Tidak ada yang aneh selama perjalanan, hanya saja waktu yang dihabiskan ternyata melebihi perkiraan. Ia baru sampai tempat itu sekitar jam 11.59, lebih lambat dari yang ia prediksi. Begitu sampai di titik yang diperkirakan titik yang ada di peta, ia melihat begitu gelap di situ. Ada bekas pusaran yang memusat ke dalam tanah di tengah-tengah pusaran. Terlihat seperti baru saja terjadi karena pusaran itu masih bergerak dan tanah mulai bergerak merata. Ada apa gerangan? Apakah lumpur hidup? Ia bergidik, mengundurkan langkahnya dan mengurungkan niat untuk mendekati pusaran.</p>
<p>Dari ekor mata ia melihat sekumpulan lumpur bergulung-gulung mendekat ke arahnya, dan ia terkesiap ketika mendapati ada seorang pria di sebelahnya. Pria itu menariknya dan mengajak ia menepi ke pinggir hutan, berlari menaiki batu-batu terjal dan tiba di satu titik yang aman.</p>
<p>Ia mengatur nafasnya, menundukkan kepala dan menyangga badannya yang tunduk dengan memegang lututnya. Ia mencuri pandang ke arah pria itu yang dengan tenang mengamati gulungan lumpur terus menerus bergulung melahap apapun yang ada dihadapannya, membuat sekitarnya berlumuran lumpur coklat, kemudian berhenti di pusaran tadi. Lama-lama lumpur setinggi 1 meter itu masuk ke dalam pusat pusaran dan hilang. keadaan sekeliling menjadi lapang, pusaran lumpur tadi menghilang dan seperti tidak ada tanda-tanda habis terjadi serangan lumpur bandang.</p>
<p>&#8220;Itu kutukan desa kami, menurut cerita sejak ratusan tahun lalu kami harus selalu menerima bahwa setiap 5 tahun di bulan ke 6 selama seminggu pada awal bulan akan datang lumpur maut melahap apapun benda yang dilaluinya, dibawa ke titik pusaran itu. Kalau tadi kau masih berada di situ bisa dipastikan kau tidak akan kembali lagi. Bahkan tidak ada bekasnya&#8221; pria itu membuka percakapan.</p>
<p>Ia mengernyitkan dahinya, lalu apa hubungannya dengan aku? apakah ada hubungannya dengan bus yang hilang di berita beberapa hari lalu? Ia lalu berusaha mengingat-ingat ucapan pria itu tadi, setiap 5 tahun. lalu ia bertanya &#8220;kapankah terakhir kejadian lumpur itu datang?&#8221;</p>
<p>&#8220;5 tahun lalu&#8221; jawab pria itu. Ia langsung melihat penunjuk waktu dan tanggal di jam tangannya. Sekarang tanggal 6 bulan 6, berarti  besok hari terakhir lumpur itu datang.</p>
<p>&#8220;hanya ada satu yang bisa membuat kutukan itu hilang dan tidak kembali lagi&#8221; ujar pria itu sambil menerawang ke arah langit.<br />
&#8220;2 orang dengan tanda lahir berbentuk bulat oval di telapak kanan bersatu melawan kutukan tersebut pada waktu lumpur datang&#8221; lanjutnya sambil menganggukkan kepala. Aku tidak mengerti mengapa ia mesti menganggukkan kepala, padahal ia terlihat tetap menerawang dan bingung.</p>
<p>Aku bertanya &#8220;lalu apakah tidak ada orang yang memiliki tanda lahir seperti yang kau maksudkan di desa ini?&#8221;<br />
Pria itu mengangkat bahunya, pertanda ia sendiri tidak mengetahuinya atau tidak pernah menemukan orang dengan tanda lahir seperti yang ia maksud.</p>
<p>&#8220;aku memiliki tanda lahir sama persis seperti yang dimaksud dalam legenda. Ayahku dulu pernah cerita bahwa suatu saat nanti akan datang seorang pria bernama Charlie ke desa ini, menemuiku dan kami bersama akan berjuang memusnahkan kutukan itu hilang untuk selamanya, dengan memberi tetesan darah yang berasal dari titik tanda lahir tepat di hari terakhir atau pada akhir minggu lumpur melanda&#8221; pria itu terlihat ada setitik harapan yang tersirat dari matanya. Apakah maksudnya Charlie itu aku? ya namaku Charlie, tetapi aku akan membiarkan orang itu bercerita dahulu, aku sangat tertarik mendengar ceritanya. Lagipula, aku merasa bukan pahlawan yang dimaksud dalam legenda, kalaupuan iya aku tidak yakin aku benar-benar bisa membantu, karena aku sepertinya tidak memiliki tanda lahir berbentuk bulat di telapak tangan. Memang sih ada sedikit noda berwarna lebih gelap dari warna sekitar, tapi itupun bukan bulat. Selain itu rasanya aku hanya bisa terpaku saja kalau lumpur itu datang.</p>
<p>&#8220;Hampir seluruh orang-orang di desa ini pergi, menghindari kutukan itu. Hanya beberapa yang bertahan dan itupun mereka akan pergi setiap 5 tahun pada awal bulan 6. Pada tengah bulan 6, orang-orang akan datang kembali ke desa, membangun kembali rumah tinggal mereka yang musnah dan akan pergi lagi setiap lumpur bandang akan datang menerjang.&#8221; pria itu kembali meneruskan ceritanya, kemudian duduk di tepi batu, membiarkan kakinya terjulur ke bawah dan dimainkannya kakinya tersebut bergantian kaki kanan di atas kaki kiri, semenit kemudian kaki kiri di atas kaki kanan.</p>
<p>&#8220;Lumpur akan datang setiap jam 12 siang, arah datangnya tidak pernah bisa ditebak. Itu sangat menyulitkan kami, lumpur itu seperti jatuh dari langit, tiba-tiba datang menerjang, menggulung dan menenggelamkan apapun yang ada dihadapannya. Aku sendiri hampr pernah terbawa lumpur karena waktu itu aku kira lumpur akan datang dari Utara, sehingga aku berlari menjauh ke arah Selatan. Ternyata lumpur datang tepat dari arah depanku, dari Selatan!. Dalam hitungan menit lumur itu hampir melumatku, kalau saja aku tidak diselamatkan oleh ayahku saat itu&#8221;.</p>
<p>&#8220;Sejak saat itu aku bertekad akan menunggu Charlie dan akan memusnahkan kutukan yang membuat desa kami mati. Lihat telapak tanganku, seperti inilah tandanya&#8221; pria itu memberikan tangannya yang menghadap langit sehingga aku bisa melihat tanda lahir yang ia maksud. Saat melihat telapak tangannya itulah kami baru sadar bahwa aku juga memiliki tanda yang sama!!</p>
<p>Pria itu kaget saat melihat telapak tanganku &#8220;Kau orang itu!!&#8221; ujarnya sambil setengah berdiri dan tetap memperhatikan telapak tanganku. Aku sendiri tak kalah kaget dibuatnya, karena kemarin-kemarin tanda itu tidak pernah senyata sekarang. Sekarang tanda itu begitu tebal dan nyata, bentuknyapun bulat. Sungguh aneh. Kami lalu saling memperkenalkan diri, ternyata dia adalah Gota. ya, aku sampai lupa rencana tadi pagi untuk mencari Gota. Saat bertemu lelaki inipun aku lupa bertanya apa ia kenal Gota, ternyata ialah Gota.</p>
<p>============</p>
<p>Rencana itu kami susun, tepat di hari terakhir nanti menurut Gota akan lewat sebuah bus melintas hutan Penan-gi. Bus itu akan melewati jalur yang bukan jalur lumpur selama ini, tetapi Gota berpendapat dan yakin bahwa lumpur kali ini cakupannya akan lebih luas sehingga bagaimanapun bus itu akan termakan oleh lumpur.</p>
<p>Saat bus itu akan masuk ke hutan, aku harus naik ke dalam busnya, menginformasikan kepada supir bahwa bus itu tidak boleh masuk ke dalam hutan karena seluruh hutan kali ini akan dilanda lumpur. Tetapi bus itu harus memutar satu kali putaran searah jarum jam sehingga membentuk lingkaran di tanah, bus harus segera pergi, kemudian Gota akan menggoreskan telapak tangannya dan telapak tanganku, kemudian tepat di tengah lingkaran kami harus membiarkan darah dari telapak tangan kami menetes ke tanah sebanyak 99 tetes. Setelah itu kami harus segera lari menaiki batu-batu terjal di samping hutan. Lumpur akan masuk ke dalam pusaran yang sudah dibentuk dan tidak akan kembali untuk selamanya.</p>
<p>============</p>
<p>Tiba-tiba pria itu terbangun karena ada yang menepuk pundaknya, ternyata tadi hanya mimpi. Mimpi yang panjang dan sangat nyata baginya. </p>
<p>&#8220;sudah sampai desa Penan-gi Pak, tempat pemberhentiannya ada di pusat desa setelah hutan ini. Tapi kami tidak bisa melewati jalur biasanya, karena ini tanggal dan waktu khusus. Kami akan melewati jalur alternatif hutan, setelah hutan ini Bapak akan sampai di pusat desa Penan-gi. Semoga perjalanan ini menyenangkan&#8221; ujar kondektur itu kepadanya.</p>
<p>Pria itu mengucak-kucak matanya, melihat jam tangan yang ada di tangan kirinya. Ia membenarkan posisi jam karena posisi menghadap ke bawah. &#8220;Wah sudah jam 11.30&#8243; gumamnya. Saat ia membalikan posisi jam tangannya tersebut, ia kaget melihat tanda di telapak tangan kanannya, terlihat lebih nyata dan tebal dari sebelumnya dan bentuknya bulat. Saat ini tanggal 7 bulan 6, seketika ia ingat akan mimpinya. Berarti ini adalah hari terakhir itu!! ia harus segera mencari Gota, menghentikan bus itu agar tidak masuk ke hutan. Entah bagaimana caranya aku harus segera memberitahukan supir bus ini. Lalu pria itu maju ke depan dan berbicara dengan supirnya.  Saat ia mencoba berbicara, ia melihat telapak tangan supir tersebut ternyata ada tanda persis seperti dirinya. &#8220;Kau Gota!! ya aku yakin kau adalah Gota! aku Charlie, aku datang ke desa ini mencari dirimu. Ayahku memberi peta ini. lihat, lihatlah, kita punya tanda lahir yang sama&#8221;</p>
<p>Sang supir terkesiap dan kaget, langsung menghentikan laju bus dan meneliti tanda lahir di telapak tangannya dan tangan pria itu sambil berkata &#8220;ya, aku adalah Gota. Apakah kau benar Charlie seperti mimpiku. Aku pernah bermimpi kamu datang mencariku dan kita berjuang bersama, tapi aku lupa apa itu&#8221;  Ia langsung bangkit dari duduknya dan ingin keluar bus, ingin berbicara lebih privat dengan Charlie. Tetapi Charlie melarangnya dan meminta Gota untuk memutarkan bus searah jarum jam dan meminta sang supir mencari benda apapun yang bisa membuat luka di telapak tangannya sehingga bisa mengeluarkan darah. Charlie merasa waktunya sangat mendesak karena 20 menit lagi jam 12 dan itu artinya kalau mimpinya benar, lumpur bencana akan segera datang.</p>
<p>Gota segera memutarkan bisnya searah jarum jam, kemudian mengambil obeng dari laci busnya. Segera turun keluar bus dan menghampiri Charlie yang mulai menggoreskan tangan dengan pisau lipatnya  &#8220;Ayo cepat goreskan tanganmu tepat di tengah tanda lahir itu hingga mengeluarkan darah. Biarkan tetesan darahmu jatuh ke tengah lingkaran itu Gota. Ayo cepat, waktunya tidak banyak, karena kamu harus meneteskan 99 kali&#8221; perintah Charlie ke Gota sambil menghitung tetesan darahnya yang jatuh. Gota mulai mengikuti Charlie, menusukkan obeng dan mengarahkan tangannya ke tengah lingkaran. 1 tetes, 2 tetes, 3 tetes, terasa lambat. Gota kembali menusukkan obeng ke telapak tangannya lebih dalam sampai terasa ke tulangnya.</p>
<p> </p>
<p>Jam menunjukkan pukul 11.58, Charlie sudah selesai meneteskan darahnya 99 kali, ia bergegas ke arah bus sambil mengingatkan Gota untuk segera pergi.<br />
&#8220;Ayo Gota, waktu kita tinggal 2 menit lagi. Kita harus segera pergi sebelum lumpur itu datang dan menenggelamkan kita kedalam tanah.&#8221;<br />
&#8220;Tinggalkan aku Charlie, kau harus selamatkan penumpang. Aku belum menyelesaikan tetesan darah ini sampai 99kali. Masih 20 tetes lagi. Ayo lekas pergi Charlie. Aku tahu harus lari kemana untuk menyelamatkan diri. AKu yakin lumpur itu akan datang dari arah utara sehingga aku bisa lari ke arah Selatan dan mendaki batu-batu terjal itu&#8221; kata Gota sambil terus mengarahkan tetes darahnya ke tengah lingkaran.</p>
<p>&#8220;Tidak Gota, larilah ke arah Utara, karena aku yakin lumpur kali ini akan datang dari Selatan&#8221; Charlie menghidupkan mesin bus dan melarikan bus ke arah Utara dengan kecepatan maksimum.</p>
<p>Tepat di tetes ke 99, lumpur itu datang, dan tepat seperti kata Charlie, lumpur itu datang dari Selatan. Lumpur itu begitu cepat sehingga menyapu Gota yang belum sempat berlari. Lumpur itu seperti tersedot ke tengah lingkaran yang tadi dibuat oleh putaran bus, masuk ke dalam titik pusaran tepat di mana darah Charlie dan Gota diteteskan.</p>
<p> </p>
<p>Dalam hitungan detik,  semua kembali lapang tanpa bekas. Tetapi awan kelabu masih bergayut di desa Penan-gi, hanya kali ini awan kelabu itu akan pergi untuk selamanya. </p>
<p style="TEXT-ALIGN: center">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212; Selesai &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p>&#8221;</p>
<p> </p>
<p style="TEXT-ALIGN: center"><span style="color: #008000;"><br />
</span><span style="color: #008000;">===============================================================================<br />
Dalam cerita ini ada beberapa kalimat percakapan yang menggunakan bahasa suku Penan-gi, walaupun sudah di berikan juga arti dalam bahasa Indonesianya,<br />
untuk mempelajari silahkan lihat </span><span style="color: #008000;"><a href="http://ceritapendekrupi.com/Kamus%20bahasa%20Penan-gi.html">Kamus bahasa Penan-gi</a> (red : by rupi)</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritapendekrupi.com/?feed=rss2&amp;p=56</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pembunuh Berantai itu bernama Yordan</title>
		<link>http://ceritapendekrupi.com/?p=46</link>
		<comments>http://ceritapendekrupi.com/?p=46#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Aug 2009 09:49:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rupi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Misteri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritapendekrupi.com/?p=46</guid>
		<description><![CDATA[Yordan memberiku satu bundel dokumen. Melihatnya membuatku ingat akan sebuah kalimat yg keluar dari mulut temanku beberapa waktu sebelumnya &#8220;Aku dan kakakku sangat berbeda secara fisik maupun mental. Setiap orang yang melihat kami pasti berkata &#8216;oh ya, seperti bukan kakak beradik&#8217; &#8220;.
Setelah aku melihat jelas Yordan, ternyata memang berbeda.
Warna kulit Yordan yang putih, ukuran tubuhnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span>Yordan memberiku satu bundel dokumen. Melihatnya membuatku ingat akan sebuah kalimat yg keluar dari mulut temanku beberapa waktu sebelumnya &#8220;Aku dan kakakku sangat berbeda secara fisik maupun mental. Setiap orang yang melihat kami pasti berkata <em>&#8216;oh ya, seperti bukan kakak beradik&#8217; </em>&#8220;.<br />
Setelah aku melihat jelas Yordan, ternyata memang berbeda.<br />
Warna kulit Yordan yang putih, ukuran tubuhnya yg kurus kecil, rambutnya hitam lurus panjang sebahu sangat berbeda dgn Molly yang tinggi besar, berkulit gelap dan berambut keriting besar.<br />
Matanya sangat sinis, tapi saat tertawa meringis terlihat bahwa dia bahagia saat itu dan mengisyaratkan ada duka yg mendalam di dalam hatinya dan dia ingin merasakan bahagia yg mungkin hanya sesaat.</span></p>
<p><span> </span></p>
<p><span>Dokumen itu di kumpulkan dalam satu pembungkus document berbentuk kotak terbuat dari plastik warna putih bening.<br />
Isi tumpukan dokumen paling bawah berisi potongan-potongan kertas stensil warna putih kecoklatan yang ternyata berisi catatan korban pembunuhannya. hmmm&#8230; banyak juga korbannya&#8230; Aku berusaha  tenang tidak bereaksi melihat catatan tersebut.</span></p>
<p><span> </span></p>
<p><span>Di atas catatan2 itu ada kumpulan tagihan-tagihan dan slip pembayaran. ah aku tak tertarik melihatnya. lalu ku bolak balik lagi dokumen-dokumen itu. Ahaa!!! ada album foto. ku buka perlahan album yg sudah mulai rusak itu. Album berwarna kuning bening itu di beri karet pengikat untuk menjaga isinya agar tidak keluar dan tidak hilang berhamburan.<br />
Kelihatannya itu foto2 korbannya atau mungkin orang2 yg dekat dengannya, krn ada sebagian yang ku kenali sudah menjadi korbannya tetapi sebagian lagi aku tidak mengenali siapa dan namanya juga tidak tercantum di daftar korban pembunuhan berantai Yordan.<br />
<strong>Jantungku serasa copot saat melihat fotoku ada di dalam album tersebut!!! Lagi lagi aku berusaha tenang dan berusaha menyelami foto-foto yg ada didepanku.</strong><br />
Aku sedang menari dgn rambut lurus, sebuah bando kuning menyelip di antara rambut dan poniku. Berbaju pink terbaik, di depanku adalah teman SMA-ku Dini yg juga sama-sama menari.</span></p>
<p><span><span id="more-46"></span></span></p>
<p><span><img title="More..." src="http://ceritapendekrupi.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" alt="" /></span></p>
<p><span>Darimana Yordan memiliki foto itu? Itu adalah foto lama sekali yg pasti di ambil pada saat perayaan Ulang Tahun teman SMAku.<br />
Kubalik foto itu, namaku tertulis lengkap disitu. Sambil berusaha menenangkan hati, aku sedikit menahan nafas dan berusaha tidak terlihat menarik nafas yg sangat panjang. Apa maksud fotoku ada di album tersebut.<br />
Ada 2 lembar foto lagi, lembar pertama foto adik perempuanku dan di balik lembar fotonya tertulis nama adikku. Oh Tuhan, apakah maksudnya dia mengagumi kami berdua dan hendak menjadikan kami korbannya? Aku masih belum memahami dan belum berani menanyakannya kepada Yordan.<br />
Lembar terakhir aku tidak jelas siapa karena sudah banyak guratan benda tajam di foto itu, kelihatannya Yordan sangat membenci orang tersebut. Di balik lembar fotonya tertulis &#8220;Orang yang telah membuat aku sengsara. Hukuman yg pantas akan aku berikan padanya&#8221;. Aku bergidik&#8230; ngeri sekali duduk di sampingnya dan membaca ini semua.</span></p>
<p><span>Yordan memandangku sinis, tapi sedetik kemudian tersenyum &#8220;Aku percaya padamu, dan aku harap kamu juga percaya padaku walaupun kita baru pertama kali bertemu. Aku sudah sering mendengar namamu dari adikku, tetapi aku baru menyadari bahwa kamu memang baik dan memang ada manusia baik di dunia ini selain adikku&#8221;.<br />
Aku tersenyum miris, sulit sekali tersenyum lebar seperti 20 menit yang lalu saat kami bertemu di cafe ini. </span></p>
<p><span>=======<br />
35 menit sebelumnya Molly meneleponku dan berkata &#8220;Kamu harus membantunya Ciarra, bagaimanapun Yordan adalah manusia yang memiliki hak mendapatkan kebenaran. Sebesar apapun salahnya, hukuman yg adil adalah jika manusia itu mendapatkan hukuman sesuai kebenaran yang terjadi. Bukan hal-hal yang di lebih-lebihkan dan tidak memandang aspek dibelakang tindakannya sehingga tidak ada pintu keadilan bagi manusia itu lagi&#8221;.<br />
&#8220;Iya tapi tidak adil bagi keluarga korbannya Molly!! Aku merasa mengkhianati mereka! Aku bahkan tidak menerima jika Yordan  tidak di hukum mati! tolong jangan paksa aku, walaupun Yordan adalah kakakmu tapi aku tidak sanggup untuk bertemu dengannya&#8221;<br />
&#8220;Ciarra, aku mohon kedewasaan dan kejernihan pikiranmu saat ini. Tuhan bahkan memaafkan kesalahan manusia yg sangat besar sekalipun. Aku mohon Ciarra. Aku juga tidak pernah mengerti mengapa Yordan menjadi beringas seperti itu, tapi bagagimanapun dia adalah kakakku dan dia adalah manusia juga&#8221;.<br />
&#8220;Baiklah Molly, temui aku di cafe ujung jalan itu. 30 menit aku akan sampai&#8221;<br />
Aku tidak kuasa menolak permohonan Molly. Bagaimanapun dia adalah teman baikku juga, dia dahulu selalu membantu aku saat ada pria-pria nakal berusaha menggodaku. Terkadang aku membalasnya dengan membantu memberi sedikit uang jajanku untuk jajan Molly. Tapi pasti itu tidak ada artinya dibandingkan yang sudah Molly lakukan untukku dahulu sewaktu aku hendak di perkosa oleh segerombolan anak jalanan.<br />
&#8220;Terima kasih Ciarra, aku berhutang padamu sekali lagi&#8221;<br />
“Tidak Molly, aku yang selalu berhutang padamu, kali ini aku akan membalasnya”</span><br />
<span>Yordan tunduk pasrah saat polisi memborgolnya. Akhirnya ia harus menghentikan pelariannya. Rambut hitam lurusnya menutupi sebagian matanya. Tapi aku bisa melihat bahwa ia berusaha melihatku dari sudut mata kirinya dengan tatapan tajam dan dingin sedingin es.<br />
Aku jadi teringat saat aku pertama mengenal Molly di bangku SMA dahulu.</span></p>
<div><span> </span></div>
<p><span> </p>
<p></span></p>
<p><span>Molly sangat ceria, tomboy dan berani saat di sekolah. Tapi dia sangat tertutup mengenai keadaan rumahnya, bahkan kami teman-temannya tidak pernah diperbolehkan main atau masuk kerumahnya.</span></p>
<p><span>Pernah karena penasaran suatu kali kami berusaha mengintip kedalam rumah Molly dari lubang dinding rumahnya. Rumah Molly memang terbuat dari kayu sehingga ada celah lubang yg bisa kami gunakan untuk mengintip. Kehidupan keluarganya sangat sederhana setelah ayahnya meninggal dan meninggalkan banyak hutang Bank. Hal itu kami ketahui dari teman kami lainnya yang bertetangga dengan Molly di rumah lamanya.<br />
Setelah ayahnya meninggal dan rumah besar Molly di sita oleh Bank, Ibunya yang tidak pernah bekerja langsung terpuruk dan sulit beradaptasi dengan kehidupan yang kemudian menyeretnya ke dalam kehidupan nista.</span></p>
<p><span>Pernah kata teman kami, Ibunya yang kemudian menjadi wanita panggilan membawa lelaki kerumah Molly. Tidak diketahui pasti apa yang terjadi, tapi yang pasti di rumah itu tak berapa lama terjadi keributan. Molly di kejar dan di serang secara membabi buta oleh lelaki pelanggan Ibunya. Karena Molly pandai berkelahi, Molly dapat bebas dari serangan lelaki itu dan melarikan diri dari kejarannya. Ibunya yang tak berdaya dan membutuhkan uang dari lelaki itu terus saja menangis dan berusaha merayu sang lelaki untuk berhenti mencari Molly dan meminta lelaki itu untuk masuk ke dalam rumahnya. Yordan dengan badan kurusnya menangis meraung2 dari dalam rumah memohon agar tidak di sentuh lagi, entah oleh siapa.</span></p>
<p><span>Tetangga kampung teman kami itu tidak ada yg berani mendekati rumah Molly bahkan untuk sekedar menanyakan apa yang terjadi karena lelaki itu mengancam akan membunuh semua yang mendekatinya. Hanya kemudian berhembus kabar, lelaki itu berusaha menggagahi Yordan dan Ibunya tidak pernah berdaya untuk menolak keinginan lelaki itu. Kabar itu sekaligus menjawab pertanyaan yang selama ini kami pendam sejak hari kami mengintip rumah Molly dahulu.</span></p>
<p><span>Di suatu hari kami mengintip  itu kami melihat Molly berusaha melindungi kakaknya Yordan dari amukan sapu Ibunya. Molly memohon agar Ibunya tidak memukuli Yordan dan berusaha terus menangkis setiap pukulan sapu yg di arahkan ke Yordan. Walaupun Molly sudah berlumuran darah Ibunya tetap tidak bergeming, Yordan yang kurus kecil terus saja ketakutan, duduk merunduk, menangis sambil menutupi wajahnya. Kata2 yang keluar dari mulut Yordan tidak begitu jelas terdengar, hanya sekilas yang tertangkap oleh telinga kami adalah <span>“Aku mohon Ibu. Aku tidak menyukainya. Sakit sekali Ibu. Aku akan mengemis untuk makan kita besok, tapi aku mohon jangan paksa aku untuk melakukannya”.</span></span></p>
<p><span>Ibunya tak kalah selalu membalas permohonan Yordan dengan pukulan dan ucapan dengan  menggelegar marah “Anak tidak tahu diri, tidak berbakti kepada orang tua!. Selama ini kamu sangat kami manja, tapi kamu tidak pernah berusaha membalasnya. Saat ini hanya kamu yang bisa membantu supaya kita semua bisa terus bertahan hidup!! Kamu mengerti itu?!”<br />
Molly pun tidak kalah terus berusaha membantu menenangkan Ibunya “Ibu, aku mohon Ibu, kasihan kakak Yordan. Biarlah aku yang akan menjalankan tugas itu, tapi jangan kakak Yordan”</span></p>
<p> </p>
<p> <span>“Pergi Molly, tidak! Kamu tidak boleh tersakiti sedikitpun, kamu satu-satunya anak Ibu yang terbaik. Pergi ke kamarmu, kalau kamu tidak pergi terpaksa Ibu akan memukulimu juga”<br />
“Ibu aku mohooon….” Molly menangis sesenggukan “aku mohon Ibu… Kakak Yordan sudah sangat menderita dengan sakitnya, apakah Ibu tega menambah penderitaan kakak?”<br />
“Justru itu Molly, kakakmu harus sadar bahwa hidup ini membutuhkan banyak biaya. Sudah kakakmu sakit, menghabiskan semua uang kita. Sekarang tidak juga mau membantu kita sedikitpun. Hanya satu itu yang Ibu minta Molly”<br />
Ibunya Molly tertunduk lesu, menangis sesenggukan, tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Kami juga tidak tahu lagi kelanjutan dari peristiwa itu karena hari sudah mulai gelap dan kami harus segera pulang sambil membawa beribu pertanyaan. Apa kira-kira yang terjadi.</span></p>
<p> </p>
<p><span> </span><br />
<span>Pandanganku kembali tertuju ke Yordan, aku ingin sekali mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, apa yang berkecamuk di dalam hatinya sampai dia tega menyakiti Ibunya, teman-temannya, bahkan orang yang tidak dikenal sedikitpun. Perlahan tubuh Yordan hilang dari pandanganku, berganti alunan musik mendayu-dayu, menggelitik telingaku. Aku begitu terhanyut melayang-layang di udara. Berusaha menebak dan menyelami apa yang di alami oleh Yordan.</span></p>
<div><span> </span></div>
<p><span> </p>
<p></span></p>
<p><span>====</span></p>
<p><span>Kenangan lamaku menyembul dari kotak kisahku yang sudah ku kubur dalam-dalam bertahun-tahun lalu. Dulu sewaktu aku kecil, aku adalah budak cabul keluargaku. Tapi aku tidak pernah menyadari bahwa itu adalah suatu hal yang tidak baik dan tidak boleh terjadi. Yang aku tahu adalah aku tidak boleh bilang kepada siapa-siapa dan terkadang aku menikmati juga.<br />
Sewaktu aku belum sekolah dahulu, salah seorang kerabatku selalu memanggilku dan mencabuli aku di kamar orang tuaku yang sepi, saat kedua orang tuaku bekerja dan semua kakakku pergi sekolah. Aku tidak ingat tepatnya kerabatku itu siapa? Yang aku ingat hanya aku menyukai, menyayangi dan nyamab dekat kerabatku itu. Bahkan saat kerabatku itu pergi dari rumah, aku menangis meraung-raung ingin ikut pergi bersamanya. Aku pernah suatu saat bertemu kerabatku tersebut menjual minuman ringan di pinggir jalan suatu daerah diluar desaku, tapi hanya sebatas itu dan aku melupakan yang sudah dilakukannya padaku.</span></p>
<p>Setelah kerabatku pergi, berganti kerabatku yang lain dan menumpang dirumahku juga selalu mencabuli aku bahkan pernah suatu saat ketika orang tuaku sedang tidur di sampingku kerabatku ada yang mencabuli aku. Waktu itu rumahku  memang dalam keadaan sedang di renovasi sehingga tidak ada kamar khusus untuk orang tuaku, kami anak-anaknya bahkan kerabat yang menumpang tidur bersama kami di ruang terbuka di dalam rumah. Aku tidak pernah berani memberontak karena takut yang terjadi kalau aku berontak. Kali ini aku benar-benar membenci kerabatku yang satu ini, entah karena dia tidak simpatik, yang jelas aku sangat membenci dia, sehingga justru aku berharap dia segera pergi dari rumahku.</p>
<p>Kenyataan lain setelah kerabat-kerabat cabulku pergi, kini berganti kakak-kakak lelakiku. Dulu aku tidak menyadari apa yang diperbuat kakakku sama seperti yang dilakukan kerabatku. Aku hanya diam, mematuhi perintah kakakku, setelah kakakku selesai mereka menyeka kemaluanku yang basah oleh sesuatu yang aku tidak tahu itu apa dengan kain seadanya. Kemudian mereka tidur begitu saja dan aku hanya diam, menerawang, tidak meneruskan tidur sampai pagi. Begitu terus bertahun-tahun. Kakakku selalu bergantian mencabuli aku sampai aku besar.</p>
<p>Kejadian cabul selalu saja terjadi padaku, bahkan pernah suatu kali saat aku masih duduk di kelas 4 Sekolah dasar. Suatu malam jam 7, aku dan dua teman sekolahku pulang dari menelpon teman menggunakan sepeda. Di suatu jalan besar, ada seorang pria besar berbaju seragam tentara dan mengendarai motor mengikuti kami sejak 20 meter. Pria itu berteriak memanggil kami, berusaha memberhentikan laju sepeda kami. Kami pun tanpa curiga berhenti, mungkin pria itu hendak bertanya alamat. “Dik, kalian yang tadi telpon dari Telpon Umum di sana?” Tanya pria itu sambil menunjuk kea rah belakang, ke arah telpon umum.<br />
“iya Pak, ada apa?” Tanyaku kepada pria itu, aku dan temanku berpandangan dan menebak kira-kira ada apa pria itu memanggil kami.<br />
“Ada seorang Ibu mengadu bahwa kalian membawa obat terlarang. Kalian habis mabuk yah?” suara orang itu berubah menajdi sangat tegas dan mengerikan. Kami jadi takut.<br />
“tidak pak, kami Cuma menelpon salah seorang teman kami dari telpon umum itu” jawabku<br />
“jangan bohong. Ibu yang di sana jelas-jelas menunjuk bahwa kalian yang membawa obat terlarang dan habis mabuk-mabukan”<br />
“benar pak, kami tidak mabuk” temanku hamper menangis menyanggah tuduhan pria itu<br />
“Ya sudah, kalau begitu kalian harus ikut saya menemui ibu itu untuk membuktikan bahwa kalian benar tidak mabuk” suara pria itu melemah dan sedikit merayu sehingga kami menjadi lebih lega dan nyaman. Karena aku merasa aku yang paling berani dari kedua temanku dan aku yakin kami tidak bersalah, maka aku memutuskan akulah yang akan menemui Ibu yang di maksud pria itu untuk menjelaskan semuanya “baiklah Pak, saya yang akan ikut dengan Bapak menemuui Ibu itu”.</p>
<p>Kedua temanku menggeleng-geleng kepala, mengisyaratkanku untuk tidak ikut dengan pria itu, sepertinya teman-temanku memiliki firasat buruk. Aku menyesal tidak mengikuti isyarat temanku untuk lari saja. Akhirnya sepeda yang ku kendarai kuberikan kepada salah seorang temanku, kemudian aku naik ke boncengan motor pria itu. Dalam perjalanan pria itu berkata bahwa Ibu itu ada di markasnya, jadi bukan di telpon umum yang tadi kami dituduhkan mabuk-mabukan. Aku masih menerima alasan pria itu saat kami melewati telpon umum dan menuju kea rah bawah jembatan layang.</p>
<p>Di suatu gerbang di bawah jalan layang, aku tidak tahu itu gerbang apa, tapi yang jelas sangat sepi, tidak ada satu orangpun dan pria itu menyuruh aku untuk menciumi salah satu jari tangannya. Aku tidak mengerti mengapa aku harus melakukan itu, dalam pikiranku mungkin itu salah satu tehnik untuk mengetahui apakah aku habis mabuk atau tidak. Setelah aku mencium dan mengulum jari tangannya, pria itu berkata, “hmm… tidak ada bekas obat atau minuman terlarang&#8221;</p>
<p>&#8221; Coba kamu cium ini!” kata lelaki itu menunjuk kemaluannya. Tidak lama kemudian, pria itu membuka celana dan menunjukan kemaluannya dan memerintahkan aku untuk menciuminya. Aku benar-benar tidak mengerti, aku masih mengira bahwa itu adalah tehnik lainnya untuk mengetahui kadar obat terlarang di dalam mulutku mungkin. Tidak lama lelaki itu berkata kembali “saya masih tidak percaya, coba kamu buka celana kamu”. Pria itu seperti menganalisa hasil kedua tehnik sebelumnya, sehingga kelihatannya memerlukan tehnik lainnya, aku benar-benar dibuatnya bingung selain aku tidak mengerti mengapa kami tidak berada di markas seperti yang pria itu katakan, bahkan aku juga tidak mengerti mengapa Ibu yang di maksud tidak ada di situ. Aku kemudian membuka celana aku dan pria itu mulai menggunakan jarinya menunjuk kemaluanku seperti mencolek selai dan kemudian mencium jari tangannya sambil berkata “oke, belum terbukti”. Aku lega, berari memang aku berhasil membuktikan bahwa aku tidak mabuk.<br />
Beberapa saat kemudian, pria itu menyuruh aku membalik badan dan menyorongkan bokongku ke belakang. Sampai disitu aku  masih tidak mengerti apa yang akan terjadi, sampai sedetik kemudian  aku mulai merasakan ada benda keras yang berusaha masuk ke dalam kemaluanku. Aku baru menyadari bahwa pria itu berusaha mencabuli aku dengan cara yang tidak aku sukai.</p>
<p>Aku menahan pintu masuk kemaluanku agar benda keras itu tidak masuk, aku pernah mendengar bahwa kalau ada benda yang masuk ke dalam kemaluanku dan sampai berdarah, maka aku tidak akan perawan lagi. Walau aku tidak tahu apa itu perawan,  aku berusaha mencegah agar benda keras milik pria itu tidak bisa masuk. Sakit sekali rasanya!! Oh Tuhan tolong aku. Pria itu terus saja menekan benda kerasnya sampai  terdengar bunyi keras dari kemaluanku berbunyi seperti bunyi kertas tebal yang sobek “kreekk.. kreeekk..”</p>
<p>Aku menangis memohon pria itu agar menghentikan tindakannya, tapi pria itu tidak menggubrisku. Aku terus menangis, sampai kemudian pria itu menghentikan tindakannya karena ada yang keluar dari kemaluannya. Dia membersihkan kemaluannya, kemudian memakai kembali celananya dan memerintahkan aku untuk memakai kembali celanaku. Kemudian pria itu memberi aku uang sepuluh ribu “ini untuk pulang kerumah ya”. Aku langsung berlari menaiki dan menyeberangi  jembatan layang di dekat jalan layang itu, terus berlari menuju rumahku sambil terus menangis. Saat aku keluar dari Gerbang aku sekilas melihat ada 2 orang pria yang sedang membenarkan motor. Dalam perjalanan aku tidak mengerti mengapa kedua pria itu tidak melihat kami dan tidak berusaha membantu aku. Mungkin kedua orang itu tidak berani atau mungkin juga suruhan pria itu untuk berjaga-jaga. Sampai di rumah aku langsung menuju ke kamar mandi dan meneliti celana dalamku, apakah ada darah di situ. Tidak ada darah, tapi banyak sekali cairan bening di celana aku. Aku tidak mengerti cairan apakah itu. AKu terus menangis di dalam kamar mandi dan menyesali mengapa aku bodoh mau mengikuti perintah pria itu yang ternyata menjebak aku dengan tujuan untuk mencabuli bahkan memerkosa aku. Tidak lama kemudian kedua temanku datang menemuiku di rumah, hendak menanyakan keadaan aku dan apa yang terjadi. Aku menutupi peristiwa itu dan berkata kepada temanku bahwa keadaan menjadi jelas dan terbukti bahwa kami tidak mabuk, sehingga aku diperbolehkan pulang.</p>
<p>Setelah aku SMA aku baru menyadari perbuatan kakakku seharusnya tidak boleh dilakukan. Dan sampai suatu saat pernah aku berniat membunuh salah satu kakakku yang masih saja mencabuli aku padahal aku sudah kuliah. Aku mengancam akan memberitahukan hal ini ke orang tuaku, kalau masih saja mencabuli aku. Tapi aku tidak pernah tega menyampaikan hal tersebut kepada kedua orang tuaku. Aku tidak tega membuat mereka merana menerima kenyataan hidup yang aku jalani apalagi Ibuku. Pasti beliau sangat sedih kalau mengetahui apa yang aku alami, dan bisa saja menjadi sakit karena hal tersebut. Jadi aku memutuskan untuk diam saja.</p>
<p>Aku berusaha melupakan seluruh kejadian pahit dalam hidupku, dan aku berusaha melangkah tegar menjalani semua kehidupan aku setelahnya. Aku terus mengubur kisah-kisah pahitku itu dan menyimpannya dalam-dalam di sebuah kotak rahasia hidupku. Hanya kadang-kadang ingatan tentang peristiwa yang menimpaku muncul, tapi aku selalu bisa menerima kenyataan tersebut dan memaafkan orang-orang yang telah menyakiti aku karena di sekeliling aku masih banyak orang yang menyayangi aku, sehingga aku bisa melupakan kejadian pahit tersebut.<br />
Hmmm… mungkin Yordan mengalami hal yang sama pahitnya dengan aku, tetapi tidak bisa menahan kebenciannya karena tidak mendapatkan kasih sayang yang memadai setelah ayahnya meninggal, di tambah kondisi kesehatannya yang buruk, membuat dirinya tambah terkucil dan merasa menjadi beban keluarga. Aku berusaha mengerti keadaan jiwa Yordan dan bertekad akan membantunya keluar dari beban penderitaan itu tanpa melupakan semua yang telah dia perbuat terhadap korban-korbannya. Yordan juga harus mendapatkan keadilan atas yang telah dia perbuat tanpa di bebankan atas perbutan yang tidak dilakukannya tetapi di tuduhkan kepadanya.</p>
<p>Senin siang, aku menerima lagi satu bundle dokumen dan satu buah mainan tentara perang, tapi bukan dari Yordan melainkan dari seseorang yang tidak ingin disebutkan namanya. Bundel itu terdiri dari 2 buku, satu buku berisi catatan harian Yordan sewaktu sekolah Dasar. Satu lagi adalah buku yang berisi catatan harian Yordan saat dewasa dan satu buah mainan tentara perang. Kedua buku itu ditemukan oleh seseorang di halaman bekakang rumah Yordan terkubur bersama mayat Ibunya.<br />
Orang itu tidak langsung menyerahkan dokumen yang ditemukannya ke kepolisian, entah dengan alasan apa. Mungkin merasa bahwa akulah orang yang tepat untuk meneliti kejadian tersebut. Aku tidak bisa menyalahkannya dan aku juga tidak bisa menutupi keinginanku untuk membuka dan meneliti buku-buku harian itu. Biarlah kepolisian meneliti kematian Ibunda Yordan berdasarkan otopsi dan pengakuan Yordan, aku akan meneliti dahulu isi buku ini dan menggabungkannya dalam suatu kesatuan cerita yang utuh seluruh kehidupan Yordan di tambah dari dokumen yang pernah Yordan berikan padaku. Aku tertarik pada buku pertama, kelihatannya ada kaitannya dengan patung tentara ini.</p>
<p>*********</p>
<p><strong>Sabtu 1 Feb 1997</strong><br />
Aku ulang tahun yang ke 13 tahun hari ini. Ayahku seperti biasa membawakan aku mainan. Tapi kali ini mainannya tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya. Ayah hanya membawakan aku mainan satu buah tentara perang. Kata ayahku “Yordan, tentara ini kesepian. Dia membutuhkan teman untuk melawan musuhnya. Ayo kamu lekas besar, supaya kamu bisa menemani tentara ini membasmi musuh kita”<br />
Aku senang sekali, aku mengangguk dan bertekad bahwa aku akan selalu ingat perkataan ayah untuk membantu tentara ini membasmi melawan musuh-musuh kami.<br />
<strong>Senin 3 Feb 1997</strong><br />
Tuhan, hari ini aku masuk Rumah Sakit lagi. Aku tidak tahu apa nama penyakitku, tapi kelihatannya aku memang harus masuk Rumah Sakit. Sepertinya orang tuaku tidak suka jika aku masuk Rumah Sakit terus menerus. Aku sudah katakan pada kedua orang tuaku aku tidak mau masuk Rumah Sakit lagi, tapi ayahku sangat menyayangi aku dan tetap saja memasukkan aku ke Rumah Sakit. Ibuku berusaha menerima kenyataan tapi aku dengar kedua orang tuaku bersitegang dengan menyebut-nyebut namaku<br />
“Ayah, ingat!  hutang kita sudah sangat banyak. Vonis dokter juga sudah sangat jelas bahwa Yordan tidak akan pernah bisa diselamatkan. Umur Yordan akan bertahan hanya sampai dengan usia 15 tahun. Itupun dengan kondisi tidak akan ada perkembangan jiwa dan tubuhnya lagi ”<br />
“iya, tapi bagaimanapun Yordan adalah anak kita bu. Anak yang engkau kandung dan engkau lahirkan hasil buah cinta kita. Kita harus tetap berusaha untuk kehidupannya” ayahku menyangkal kehendak Ibuku yang tidak menginginkan aku di masukkan ke rumah Sakit oleh ayahku<br />
“terserah engkau ayah! Yang harus kamu ingat adalah, kita masih memiliki Molly. Anak yang sangat manis, sehat, dan tidak terlalu banyak menuntut. Seharusnya engkau memikirkan juga kehidupannya, bagaimana kalau kita tidak pernah bisa memberikan hidup yang layak bagi Molly. Kita akan kehilangan kedua anak kita”<br />
Aku tidak pernah habis mengerti, mengapa kedua orang tuaku bertengkar. Yang aku tahu, aku kemudian di bawa ayahku ke rumah Sakit dengan menumpang angkutan umum, padahal dirumahku tersedia mobil dinas ayahku yang ternyata dilarang Ibu untuk di bawah ayah karena akan digunakan oleh Ibuku menjemput Molly pulang sekolah.<br />
Adikku Molly memang lucu dan menggemaskan. Dia juga sehat, periang dan pandai. Mungkin itu yang membuat Ibuku lebih menyukai Molly daripada aku yang pemalu, penakut, pendiam, sakit-sakitan dan pembangkang.<br />
Aku dan Molly hanya berbeda 2 tahun, tetapi kelihatan sekali Molly seperti kakakku dana ku menjadi seperti adiknya. Molly memang adik yang baik, ia selalu membantu aku dan melindungi aku jika ada teman-teman tetangga rumahku yang menjahili aku. Sore ini dia membawakan aku mainan sabun buih kesukaan aku dan 2 lembar roti yang di curinya dari lemari makanan Ibu. Molly juga pasti menyisihkan uang jajannya agar bisa membelikanku mainan sabun buih itu. Aku berjanji akan menjaga Molly, jika aku sehat dan sembuh. Aku bertekad terus hidup menemani Molly dan Ayahku. Hmm… Ibuku juga kalau beliau menghendaki.<br />
<strong>Selasa 4 Feb 1997<br />
</strong>Aku lemas sekali. Ayah tidak menemaniku dari kemarin karena harus keluar kota. Kata perawat yang merawatku aku akan diperbolehkan pulang kalau aku sudah sembuh dan kalau Ayah sudah kembali dari luar kota melunasi ongkos berobat aku. Aku rindu sekali dengan Ayahku. Adikku Molly juga tidak menemui aku, pasti karena harus les Piano hari ini. Iya, hari ini hari Selasa, biasanya Molly les piano. Aku akan tunggu besok, Ayah dan molly pasti menemani aku.<br />
Ibu… iya, Ibu kemana ya? ah pasti Ibu sedang sibuk mengurusi rumah dan Molly yang masih kecil.</p>
<p><strong>Rabu 5 Feb 1997</strong><br />
Ayah dan Molly menjemput aku !! aku bahagia sekali. Aku merasa sehat sekali sekarang. Molly menyeka keringat di dahiku “Kakak Yordan, aku bawakan kakak kue hijau pucuk coklat kesukaan kakak, kakak jangan sakit lagi yah”<br />
Baik Molly, aku akan selalu sehat untuk mu adikku sayang.<br />
Ibu tidak menjemputku, mungkin karena beliau harus mengurus kebun bunga di halaman depan.</p>
<p><strong>Kamis 6 Feb 1997</strong><br />
Ayah dan Ibu bertengkar lagi. Aku takut sekali, lebih baik aku sembunyi di lemari.<br />
“Mana anak sialan itu!! Aku sudah bilang Ayah jangan terlalu berlebihan terhadapnya. Ayah juga harus memikirkan anggota keluarga yang lainnya!”<br />
“Tenang bu.. aku akan segera mencari cara agar kita bisa melunasi tagihan Bank itu”<br />
Aku terus bersembunyi di lemari pakaian di sudut kamarku. Ah, untungnya lemari ini masih bisa menyembunyikan aku. Kalau Molly yang bersembunyi pasti ketahuan, karena pasti lemari ini tidak bisa menampung badan Molly yang besar. Aku tersenyum, terkadang keadaan aku yang seperti ini membawa keberuntungan juga.</p>
<p><strong>Jumat 9 Feb 1997</strong><br />
Ayah tidak pulang kerumah hari ini, mungkin dinas keluar kota mencari tambahan uang.</p>
<p><strong>Sabtu 10 Feb 1997</strong><br />
Ayah belum pulang kerumah hari ini, mungkin masih dinas keluar kota mencari tambahan uang. Molly sore ini sehabis pulang sekolah, ikut Ibu ke rumah teman Ibu. Entah ada urusan apa.</p>
<p><strong>Senin 11 Feb 1997</strong><br />
Kasihan sekali Molly pagi ini tidak pergi sekolah. Yang aku tahu Molly di larang datang ke sekolah sebelum melunasi uang sekolah. Andai saja aku bisa membantu.<br />
Tidak lama Ibu keluar kamar, membawa sekotak perhiasan miliknya. Duduk di kursi tamu, mengusap-usap rambut keriting besar Molly yang menyender di pangkuan Ibu sambil berucap “Molly maafkan Ibu ya Nak, kamu di hukum karena kesalahan kakakmu Yordan. Ibu akan menjual salah satu gelang kesayangan Ibu untuk melunasi uang sekolahmu yang tertunggak 2 bulan ini”<br />
“Ibu, kakak Yordan tidak salah. Molly yang salah, seharusnya Molly tidak sekolah juga seperti kakak yordan ya Ibu. Molly juga tidak perlu les piano lagi kan bu?” Adikku baik sekali<br />
“Nak, kamu harus tetap sekolah, karena usiamu masih panjang. Kamu masih harus mengarungi hidup ini lebih lama daripada kakakmu Yordan. Tentu saja kamu harus lebih baik daripadanya”<br />
Aku tidak mengerti mengapa Ibu begitu membenci aku. Dan aku juga merasa tidak akan segera mati.</p>
<p><strong> </strong><strong>Rabu 13 Feb 1997</strong><br />
Ayahku masuk Rumah Sakit!! Kata suara-suara orang yang ada di Rumah Sakit ayahku terkena serangan jantung!!<br />
Oh Tuhan, semoga ayahku cepat sembuh. Ibuku sangat berduka, begitu juga Molly. Aku juga sedih, tapi aku tidak bisa menangis, aku tidak tahu bagaimana mengeluarkan airmata. Ibuku membiayai ongkos Rumah Sakit dengan sisa perhiasannya.<br />
“Maafkan Ayah bu. Usaha Ayah gagal. Ayah terancam di pecat dari Kantor karena ide yang Ayah jalankan tidak berhasil dan uang perusahaan hilang karenanya”<br />
“Ayah, tidak baik berkata begitu. Lekaslah sembuh. Kita berusaha kembali dari awal yah” Ibuku terkadang sangat baik dan pengertian. Aku juga tidak habis mengerti, mengapa terkadang Ibu juga sangat ketus terhadap Ayah. Mungkin begitu hubungan orang dewasa, terkadang baik, terkadang bertengkar.</p>
<p><strong>Kamis 14 Feb 1997</strong><br />
Aku menemani Ayah dari tadi malam. Aku tidur di samping tempat tidur Ayah, aku akan menemani Ayah sampai Ayah sembuh dan boleh pulangd ari Rumah Sakit. Molly dan Ibu di rumah karena tidak ada yang menunggu Rumah</p>
<p><strong>Jumat 15 Feb 1997</strong><br />
Ayahku masih belum boleh pulang, aku sedih sekali. Kata perawat, Ayahku harus tenang tidak memikirkan apapun agar cepat sembuh. Aku memutuskan untuk terus di samping Ayah dan terus tersenyum saat Ayah Bangun dan melihatku, jadi Ayah akan bahagia dan lekas sembuh.</p>
<p><strong>Sabtu 16 Feb 1997</strong><br />
Ibu dan Molly datang membawakan makanan untuk Ayah, tapi tidak untukku. Kata Ibu “tunggu sampai Ayah dan Molly selesai makan, baru kamu boleh makan”<br />
Aku tidak begitu lapar, jadi aku tidak menghiraukan makanan itu, aku terus ada di samping Ayah, tersenyum. Ayah hendak menyuapi aku, tapi Ibu melarang. “Ayah… Ayah saat ini sedang sakit, jadi tolong pikirkan dirimu sendiri dahulu. Yordan, kamu tunggu di pojok situ. Jaga Molly”<br />
Aku dan Molly tertawa gembira, bermain petak umpat di kamar itu. Aku jadi pencarinya kali ini, tapi Molly sulit ditemukan. Ayah memberiku isyarat dari sudut matanya, menunjuk kearah bawah kasurnya. Ternyata Molly ada di bawah kasur Ayah dan bersembunyi di kursi Ibu yang duduk di sebelah Ayah sambil memeluk kaki Ibu.<br />
Aku berjingkat perlahan menuju arah Molly, dan hendak memberinya kejutan bahwa aku mengetahui keberadaannya.<br />
Molly terkejut luar biasa, begitu juga Ibu. Ayah hanya tersenyum melihat kami. Tapi Ibu begitu marah dan memukuli aku dengan tasnya.<br />
Aku meringis kesakitan, Molly sedih melihatku.</p>
<p><strong>Minggu 17 Feb 1997</strong><br />
Ayahku boleh pulang!! Aku bahagia sekali</p>
<p><strong>Selasa 19 Feb 1997</strong><br />
Ayahku pulang dari kantor dengan sangat lesu. Ternyata Ayah di tuduh bersekongkol melakuan penipuan. Jadi Ayah tidak hanya dipecat, melainkan juga akan di masukkan ke Penjara. Kecuali Ayah mengembalikan uang kantor yang hilang. Ibuku menangis tersedu-sedu. Andai aku bisa membantu Ayah.<br />
“seandainya Ibu masih memiliki perhiasan, seandainya Rumah kita ini belum di agunkan ke Bank, pasti Ayah tidak akan masuk ke Penjara. Ibu tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan, maafkan Ibu, Ayah”</p>
<p><strong>Rabu 20 Feb 1997</strong><br />
Ibuku memukuli aku habis-habisan dengan semua benda yang ada di dekatnya. Aku tidak tahu alasannya. Molly hanya memandangi aku sambil menangis histeris, memohon Ibu untuk menghentikan pukulan Ibu terhadap aku.<br />
Aku juga tidak bisa berbuat apa-apa. Punggungku rasanya sudah tisak bisa merasakan apapun, selain perih yang menggigit, panas menjalar di sekujur tubuhku, dan darah keluar dari seluruh tubuhku, karena terakhir Ibu menggunakan garpu untuk menusuk-nusuk badanku, tanganku dan kakiku yang terjangkau olehnya.<br />
“Ibu benci kamu Yordan!! Ibu benci kamu!! Kamulah penyebab keruntuhan keluarga kecil kita ini!! “<br />
Aku tidak bisa bersuara lagi, karena sakit yang sudah luar biasa aku rasakan “i…bbuuu… mmm..aaa…aaafff” aku bahkan tidak tahu mau berbicara apa lagi karena aku sendiri tidak tahu maksud Ibu “mm..aaa..aaaff… ibb..buuu”<br />
Molly terus berteriak histeris menyaksikan penyiksaan Ibu terhadapku “Ibuuuuu!!!!&#8230;. sudah!!! Aku mohon hentikan Ibu”<br />
Ibu baru berhenti saat Ayah dengan terhuyung-huyung lari keluar dari kamar dan menggendong aku menjauh dari Ibu.<br />
“Ibu, kamu tega sekali. Ini kesalahan Ayah yang tidak bisa mencukupi kalian! Yordan tidak tahu apa-apa Ibu”<br />
“Semua karena Yordan Ayah, kalau saja YOrdan tidak merongrong kita sejak lahir, pasti Ayah tidak perlu meminjam uang ke Bank, tidak perlu berspekulasi dengan ide yang belum terbukti sehingga uang kantor habis, Ayah tidak perlu masuk Rumah Sakit karena memikirkan keadaan keuangan kita, Ayah tidak perlu masuk penjara karena seharusnya Ibu masih memiliki perhiasan!! Jelas ini semua karena Yordan ayah!!”<br />
Aku lagi-lagi benar-benar tidak mengerti, mengapa Ibu begitu membenci aku. Bahkan aku tidak mengerti mengapa Ayah harus meminjam uang ke Bank dan mengapa lain-lainnya yang dituduhkan sebagai kesalahanku.</p>
<p><strong>Rabu 27 Feb 1997</strong><br />
Sepanjang hari, Ayah dan Ibuku bertengkar. Ibu masih memiliki sebidang tanah peninggalan orang tua Ibu. Ayah memohon Ibu untuk menjual sebidang tanah tersebut sebagai pengganti uang kantor Ayah, karena kata Ayah hari Jumat besok adalah batas terakhir Ayah untuk mengganti, atau kalau tidak maka Ayah akan dijebloskan ke Penjara.<br />
Ibu jahat sekali, tidak membantu Ayah. Kata Ibu “Ibu tidak bisa melepaskan tanah itu Ayah, itu hanya satu-satunya peninggalan mendiang orang tua Ibu yang amanat terakhir adalah harus di jaga sampai nanti Molly besar”<br />
Ayah sangat sedih mendengarnya. Molly dan aku tidak mengerti, bahwa pembicaraan sore itu begitu penting dan begitu mendesak, jadi kami seperti biasa tetap bermain dan tertawa. Kami hanya menghampiri Ayah dan Ibu hendak menanyakan mengapa Ayah bersedih. Ibu hanya terdiam lesu, sedangkan Bapak tertunduk lesu, pandangannya menerawang jauh menikam kedalam tanah</p>
<p><strong>Sabtu 1 Maret 1997</strong><br />
Ayah dilaporkan ke polisi. Siang itu ada beberapa Bapak-bapak berseragam polisi datang ke rumahku membentak-bentak Ayah. Aku takut sekali. Ibu hanya bisa menangis, memohon keringanan Bapak Polisi dan Ibu menyatakan bersedia mengganti uang kantor Ayah asal Ayah tidak di bawa ke kantor Polisi. Tapi menurut Polisi hal itu sudah terlambat, karena laporan dari Perusahaan tempat Ayah bekerja sudah masuk ke Kantor Polisi. Jadi menurut Bapak polisi kalau memang Ayah tidak bersalah, bisa dijelaskan dipengadilan.<br />
Molly dan aku menangis meraung-raung. Aku baru sadar, ternyata pembicaraan kedua orangtuaku hari Rabu kemarin sedemikian pentingnya. Dan Ibu terlalu egois, membiarkan Ayah masuk ke dalam Penjara.</p>
<p><strong>Selasa 1 April 1997</strong><br />
Ayahku masuk penjara! </p>
<p><strong>Sabtu 5 April 1997</strong><br />
Akhirnya aku boleh keluar dari Gudang. Sejak ayahku masuk penjara, aku tidak mau makan jadi Ibu menghukumku tidak boleh keluar dari Gudang sampai hari Sabtu, hari kami akan menjenguk Ayah. Aku hanya di beri makan sekali oleh Ibu pada pagi hari. Karena aku juga tidak berniat makan sampai bertemu Ayah, jadi aku tidak terlalu menghiraukan makanan yang di berikan Ibu setiap pagi. Aku hanya minum dan terkadang yang membuat aku kuat adalah Molly setiap 2 hari menyelipkan kue hijau berpucuk coklat kesukaanku. Molly memang adikku yang paling manis dan baik.<br />
Setiap malam aku hanya tidur beralaskan kertas bekas pembungkus semen, tidak ada bantal, tidak ada guling bahkan selimut. Jadi terkadang aku tidak tidur, karena nyamuknya banyak. Tapi tidak apalah, yang penting hari ini aku akan bertemu Ayah.<br />
Tapi aku sulit Bangun, badanku lemah sekali. Ibu menyeretku dari Gudang dan membawaku ke Kamar Mandi, kemudian menyiramku dengan air. Dingin sekali, aku jadi menggigil dibuatnya.<br />
Aku bertemu Ayah, ayah kasihan sekali, wajahnya pucat, lingkar matanya hitam, badannya mulai mengecil dan kelihatan lemah. Ayah jadi seperti aku sekarang, kecil dan lemah. Tuhan, tolong kuatkan Ayah<br />
“Yordan anakku, Ibu pasti tidak memiliki simpanan uang lagi jadi pasti tidak bisa sering-sering menjenguk Ayah. Untuk itu tolong jaga Adikmu Molly dan Ibumu ya, selama Ayah di penjara. Tolong sampaikan salam Ayah kepada tentara kita itu untuk ikut membantu menjaga kalian. “ pesan Ayah sambil tersenyum kepadaku.<br />
Hatiku perih sekali, Ayah seandainya aku sudah dewasa, bisa membantumu meringankan beban di usiamu yang sudah renta ini.<br />
Aku tidak kuasa menahan sedih ini, begitu cepat perubahan yang terjadi pada Ayah. Tangan Ayah yang bergetar sewaktu mengelus rambutku begitu terasa menyakitkan hati ini.<br />
Mulutmu yang sulit bergerak, tapi tetap engkau usahakan berbicara padaku membuatku ingin memelukmu, menggendongmu keluar dari Penjara itu dan membawamu pergi pulang kerumah Ayah. Aku ingin sekali memeluk tubuh rentamu yang sekarang sedang menahan sakit dan beban.<br />
Aku berjanji akan mengumpulkan uang agar bisa sering menjenguk Ayah dan mengeluarkan Ayah dari Penjara.</p>
<p><strong>Jumat 30 Mei 1997</strong><br />
Ayahku meninggal di penjara!   Kata desas desus, Ayah sangat kecewa pada Ibu yang membawa lelaki lain kerumah kami. Ibu memang terpaksa menerima kencan dengan lelaki hidung belang agar kami bisa makan. Itu karena Ibu memang tidak pernah terbiasa bekerja, sehingga tidak bisa menghasilkan uang.<br />
Aku bahkan tidak bisa berkata-kata lagi mengenai kepergian Ayah. Yang aku tahu, aku begitu membenci Ibu karena membuat Ayah meninggal. Sedangkan Ibu begitu membenci aku karena menyebabkan Ayah masuk penjara.</p>
<p><strong>Rabu, 31 Desember 1997</strong><br />
Akhir tahun yang gulita, setelah menjalani berkali-kali pengadilan, akhirnya kami harus keluar dari rumah kami karena Bank memenangi perkara melawan Ibu yang mewakili almarhum Ayah. Ayah memang menunggak pembayaran pinjaman yang di lakukan dahulu sewaktu aku keluar masuk rumah sakit. Rumah kami dijadikan agunan oleh Ayah, karena yakin kami dapat melunasi pinjaman tersebut sampai musibah menimpa keluarga kami.</p>
<p><a name="OLE_LINK1"><strong>*******</strong></a></p>
<p>Aku balik lembar-lembar terakhir buku catatan harian Yordan saat kecil itu. Kelihatannya ia sangat depresi setelah ayahnya meninggal dan tidak memiliki rumah. Ada catatan saat dia berpindah-pindah tempat, sampai akhirnya menetap cukup lama di rumah bordil karena Ibunya akhirnya menjadi Pelacur tetap rumah Bordil Tante Irna teman semasa kecil Ibu dulu. Ada juga catatan saat dia harus makan makanan sisa pengunjung rumah bordil. Waktu itu dia dihukum oleh Ibunya tidak diberi makan karena mengintip Ibunya yang sedang melayani tamu. </p>
<p>Coretan-coretan dibuku pertama itu juga banyak, tebal-tebal dengan penekanan yang sangat bahkan terkadang sampai ada bagian-bagian kertas yang robek.</p>
<p>Aku coba lihat buku kedua, sepertinya ini buku catatan harian saat Yordan dewasa, persis seperti dugaan awalku.<br />
Tidak banyak tulisan di sana, tetapi banyak foto dan guntingan berita di koran tentang pembunuhan atau kecelakaan.</p>
<p>Aku sangat yakin itu adalah buku catatan korban pembunuhan atau percobaan pembunuhan yang Yordan lakukan selama ini, aku sangat jijik melihat gambar-gambar yang ada di sana. hiiii, bergidik aku melihatnya. Terus aku balik-balik buku itu, cukup tebal lebih tebal dari buku yang satunya tadi. Terpana aku saat tiba di tengah buku, melihat foto Ibunya Yordan dengan seorang pria tersenyum manis. Jelas itu bukan Ayahnya Yordan. Untuk apa foto mereka ada di buku ini. Aku berusaha menyambungkan cerita, mungkin Yordan marah karena Ibunya selingkuh, tapi seharusnya Yordan marah dari dulu karena jelas Ibunya pelacur yang pasti akan berhubungan dengan banyak pria.</p>
<p>Mungkin juga Yordan senang dengan kebahagiaan yang terpancar dari kedua wajah orang tua itu, Ibunya dan Sosok Ayah yang Yordan rindukan.</p>
<p>Tapi mengapa kemudian Yordan harus menyakiti Ibunya, walau belum terbukti Yordan yang membunuhnya. Hhhhh aku lelah sekali, belum menemukan jawaban juga, di buku kedua itu tidak ada bukti apapun dan tidak ada pertanda apapun yang mengarah bahwa Yordan yang melakukan pembunuhan. Sebaiknya aku mandi dan pergi tidur, karena hari menjelang malam. Besok saja aku lanjutkan kembali, aku akan berkunjung ke Yordan untuk menggali lebih dalam lagi, apa sebenarnya yang terjadi. Sekaligus memberikan bukti-bukti tersebut ke kepolisian, menghindari tuduhan menyembunyikan barang bukti kejahatan.</p>
<p>************</p>
<p>Aku lihat Yordan menerawang jauh ke awan. sesekali dia menyeka keringatnya yang membasahi dahi dan lehernya. Yordan mengenakan baju yang berbeda dengan tahanan lain, duduk di bangku kayu ruang tunggu. Setelah dia sadar aku sudah datang, iya kemudian menggeserkan pantatnya ke samping, memberi aku tempat. wajahnya sangat dingin, tidak menyapa bahkan tidak melihat kearahku sama sekali.</p>
<p>Yordan mulai cerita sambil sesekali menggaruk-garuk kepalanya dan mengucek-ngucek matanya. </p>
<p>Yordan bilang bukan dia pembunuh berantai tersebut, dia hanya korban salah tuduh yang dijadikan kambing hitam. Aku masih belum mengerti mengapa Yordan bilang spt itu. Lalu  apa atinya buku-buku harian yang kemarin aku lihat? Sepertinya Yordan sedang berbohong dan mengarang, tapi aku harus adil, aku harus buka hatiku dan membiarkan Yordan untuk cerita dahulu. Aku harus benar2 mengerti keadaan yang sesungguhnya terjadi sehingga bisa membantu Yordan.</p>
<p>Ternyata Yordan tidak pernah bermaksud untuk menyakiti siapapun termasuk Ibunya, walaupun ia sangat membenci Ibunya. Suatu malam saat Yordan ingin menengok suara yang datang dari dapur, Yordan mendapati Ibunya  menangis dan tertawa sambil mencuci tangan dan sebuah pisau. Yordan bingung kenapa Ibunya seperti itu, dia tidak berani bertanya bahkan tidak berani untuk melanjutkan penglihatannya. Dia beringsut pergi dari dapur dan kembali ke kamarnya yang ditempati bersama Molly. Sering Yordan memergoki Ibunya melakukan hal yang sama, tetapi dia tidak pernah menyangka papun terhadap Ibunya.</p>
<p>Selalu setiap Yordan habis melihat Ibunya seperti malam-malam itu, menangis dan tertawa sambil mencuci pisau, beberapa  hari kemudian ditemukan mayat lelaki, terkadangmengapung di sungai yang jaraknya sekitar 1 jam perjalanan kaki dari rumahnya, terkadang ditemukan di semak belukar hutan yang memisahkan desa tempat Yordan dan Ibunya tinggal dengan desa tetangga yang lebih maju atau bahkan pernah ditemukan tepat dibelakang rumah Yordan. Rata-rata tubuhnya penuh tusukan pisau, dalam keadaan setengah bugil dan diperkirakan sehabis berkencan sesaat sebelum meninggal karena ditemukan cairan sperma yang mengering di sekitar pahanya. Yordan tidak pernah menyangka bahwa Ibunyalah yang berbuat hal tersebut. Tetapi Yordan terus mengawasi gerak-gerik Ibunya dan mengumpulkan potongan semua berita pembunuhan.</p>
<p>Aku terus mendengarkan Yordan bercerita. Ada sedikit titik terang. Ya mungkin Ibunyalah pembunuh itu, tapi untuk apa? lalu mengapa Yordan yang tertuduh? lalu mengapa Ibunya juga ditemukan terbunuh? Apakah Yordan yang melakukan itu? Kalau iya untuk apa?</p>
<p>Yordan menyalakan rokok sebentar, kemudian mulai bercerita lagi. Dia terus bercerita bagaimana akhirnya dia menyadari bahwa Ibunya lah bersama seorang pria kekasih Ibunya adalah biang semua pembunuhan berantai tersebut. Ibunya selalu membunuh lelaki teman kencannya dan mengambil semua uang dan harta benda yang ada di lelaki tersebut. Tetapi Polisi tidak pernah berhasil menyingkap pembunuhan tersebut, karena Ibunya sangat pintar beralibi. Apalagi lelaki teman kencan yang dibunuh Ibunya selalu ditemui di luar rumah bordil, di hutan batas desa. Ibunya bekerja sama dengan kekasihnya selalu beralibi sedang berkencan di rumah bordil, jadi tidak mungkin melakukan hal tersebut pada waktu yang sama. Padahal Ibu dan kekasihnya selalu keluar rumah bordil melalui loteng yang memang tidak terlalu tinggi jaraknya dari tanah, kemudian menyelinap menemui lelaki calon korban Ibu. Disaksikan kekasihnya dari balik pepohonan, Ibu melayani lelaki tersebut, dan akhirnya disaat lengah karena merasakan kenikmatan, datanglah petaka itu! Kekasih Ibu membunuh teman kencan Ibu. Merampok uang dan harta bendanya, setelah itu meninggalkannya begitu saja, pulang kembali ke rumah bordil. Yordan baru menyadari setelah beberapa kali ia dapati, setiap kekasih Ibunya datang, Ibunya pasti malam-malam nanti menangis dan tertawa sambil mencuci pisau.</p>
<p>Sampai akhirnya Yordan curiga dan memutuskan untuk mengikuti gerak-gerik Ibu dan kekasihnya.</p>
<p>Lalu kenapa Ibunya terbunuh? Karena katanya suatu malam Yordan melihat Ibunya akan membunuh kekasihnya. Yordan jelas tidak terima karena ia sangat sayang dengan kekasih Ibunya. Mungkin karena ia merindukan sosok ayah pada lelaki itu pikirku. ternata tidak, itu karena Yordan juga mencintai kekasih Ibunya. Perasaan sayang dan cinta itu tumbuh sejak kekasih ibunya mulai sering datang berkunjung, sambil selalu membawa makanan dan mainan untuk Yordan dan Molly. Suatu saat, di saat Yordan hanya berdua dengan lelaki itu, dia merayu Yordan mengatakan bahwa ia sangat sayang Yordan, tidak akan membiarkan lagi Ibunya menyakiti Yordan, akan selalu membawa makanan dan mainan untuk Yordan dan akan mengajak Yordan berjalan-jalan tamasya asal Yordan mau menuruti keinginannya.</p>
<p>Yordan kecil saat itu tidak menolak saat kekasih Ibunya akhirnya menggagahi Yordan. Yordan bahkan tidak merasakan rasa sakit yang dulu pernah dia rasakan saat Ibunya meminta dia melakukan hal yang sama terhadap kekasihnya terdahulu.</p>
<p>Yordan sangat menikmati saat-saat kemaluan lelaki itu memasuki lubang duburnya dan membiarkan lelaki itu memegangi kemaluannya sampai dia merasakan nikmat yang luar biasa.</p>
<p>Kejadian itu terus berulang sampai Yordan beranjak dewasa. Sampai akhirnya Ibunya mengetahui hal tersebut dan marah besar pada Yordan. Kekasih Ibunya membantu Yordan dan akan membawa Yordan pergi bersamanya, tapi Ibunya tidak menerima hal tersebut, malah akan menusukkan pisau ke lelaki itu. Yordan marah, dia berusaha menahan pisau Ibunya dengan badannya agar tidak tertusuk ke lelaki itu. Tetapi terlambat karena pisau itu sudah bersarang tepat di dada kekasih Ibunya. Yordan menyaksikan sosok lelaki yang sangat dikasihi dan dicintainya, yang sangat perhatian terhadap dirinya harus pergi karena Ibunya. Yordan menjadi sangat marah, mengambil pisau yang menancap di dada lelaki itu, lalu membabi buta menusukkan pisau ke tubuh Ibunya yang terduduk lesu, menangisi kejadian tersebut. Ibunya tidak berdaya menahan amukan Yordan sampai akhirnya Yordan berhenti karena dia sadar Molly akan segera kembali pulang dari sekolah. Dia segera membersihkan segala barang bukti dan mengubur Ibu dan Kekasihnya di belakang rumah.</p>
<p>**********</p>
<p>Tidak ada yang percaya dengan kejadian tersebut. Semua tetap menyangka dan menuduh Yordan yang melakukan pembunuhan berantai, termasuk membunuh Ibu dan kekasihnya. Pengadilan juga tetap menjatuhkan vonis bersalah kepada Yordan, karena bukti-bukti foto-foto, potongan-potongan koran berita pembunuhan dan buku harian yang dimiliki Yordan semuanya memberatkan Yordan dan mengarahkan ke pembunuhan berencana. Apalagi tidak ada saksi yang menyaksikan kejadian pembunuhan Ibunya dan Kekasihnya malam itu adalah suatu kejadian pembelaan semata. Dengan latar belakang kehidupan masa kecilnya sangat wajar Yordan menjadi pribadi yang tertutup, pembenci, pemarah dan menjadi pembunuh terhadap siapapun yang dia rasa telah melakukan penghianatan terhadap ayahnya.</p>
<p>Usaha naik banding akupun tidak berhasil, malah hukuman yang diberikan bertambah berat, yaitu Hukuman Mati!!<br />
Aku sangat merasa bersalah karena tidak bisa membantu Yordan dan Molly. Molly pun akhirnya pasrah dan menerima hukuman yang dijatuhkan ke Yordan dan waktu eksekusi yang sangat dekat.</p>
<p>***********</p>
<p>Sepuluh tahun berlalu, sejak Yordan dieksekusi, aku masih saja selalu bermimpi kejadian yang Yordan alami. aku seperti dikejar-kejar oleh hantu Yordan yang merasa masih ada sesuatu yang belum diselesaikan. Aku berlari menyusuri gang-gang kecil, gelap dan becek. Menaiki dan menuruni tangga labirin yang sempit dan gelap, di gedung tua yang mati. Sangat melelahkan. Di setiap mimpi tersebut Yordan menyampaikan pesan padaku, untuk menjaga Molly dan tentara prajuritnya. Dia juga bilang sayang padaku dan berterimakasih kepadaku karena telah membantunya membalas kebaikan Molly.</p>
<p>Mimpi itu terus datang hampir setiap malam, membuatku semakin bingung dan terus frustasi, sebenarnya apa kejadian yang sebenarnya. Siapa yang harus dipercaya sebenarnya? antara ucapan Yordan, bukti-bukti yang menyudutkan Yordan dan antara mimpi yang aneh. Apakah benar pembunuh berantai itu Yordan? Apa maksudnya dia telah membalas kebaikan Molly?</p>
<p style="text-align: center;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211; Selesai &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritapendekrupi.com/?feed=rss2&amp;p=46</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hello friends!</title>
		<link>http://ceritapendekrupi.com/?p=1</link>
		<comments>http://ceritapendekrupi.com/?p=1#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Dec 2008 13:17:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rupi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritapendekrupi.com/?p=1</guid>
		<description><![CDATA[ 




  



Selamat datang di situs
www.ceritapendekrupi.com

Selamat membaca!  

 




]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> </p>
<table class="MsoTableGrid" style="border-collapse: collapse; mso-yfti-tbllook: 1184; mso-padding-alt: 0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-border-insideh: none; mso-border-insidev: none;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr style="mso-yfti-irow: 0; mso-yfti-firstrow: yes; mso-yfti-lastrow: yes;">
<td style="padding-right: 5.4pt; padding-left: 5.4pt; padding-bottom: 0in; width: 162.9pt; padding-top: 0in; background-color: transparent; border: #d4d0c8;" width="217" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: normal;"><span style="font-size: small; font-family: Calibri;"> </span><span style="font-size: small; font-family: Calibri;"><a href="http://ceritapendekrupi.com/wp-content/uploads/2008/12/rupi.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-11" title="rupi" src="http://ceritapendekrupi.com/wp-content/uploads/2008/12/rupi-240x300.jpg" alt="" width="140" height="196" /></a> </span></p>
</td>
<td style="padding-right: 5.4pt; padding-left: 5.4pt; padding-bottom: 0in; width: 315.9pt; padding-top: 0in; background-color: transparent; border: #d4d0c8;" width="421"><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="font-size: 24pt; color: #7030a0; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 10pt; TEXT-ALIGN: center" align="center"><strong style="mso-bidi-font-weight: normal"></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 10pt; TEXT-ALIGN: center" align="center"><strong style="mso-bidi-font-weight: normal"><span style="font-size: 20pt; color: #7030a0; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Selamat datang di situs</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 10pt; TEXT-ALIGN: center" align="center"><strong style="mso-bidi-font-weight: normal"><span style="font-size: 20pt; color: #7030a0; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"><a href="http://www.ceritapendekrupi.com">www.ceritapendekrupi.com</a></span></strong></p>
<p><font style="font-size: 24pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt;" face="&quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;" color="#7030a0"></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 10pt; TEXT-ALIGN: center" align="center"><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="font-size: 24pt; color: #7030a0; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="font-size: 24pt; color: #7030a0; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"><span style="font-size: 24pt; color: #7030a0; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="font-size: 24pt; color: #7030a0; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="font-size: 24pt; color: #7030a0; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"><span style="font-size: 24pt; color: #7030a0; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="font-size: 24pt; color: #7030a0; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"><strong style="mso-bidi-font-weight: normal"><span style="font-size: 20pt; color: #7030a0; line-height: 115%; font-family: 'Times New Roman','serif'; mso-bidi-font-size: 11.0pt;">Selamat membaca!</span></strong></span></strong></span></span></strong></span></strong></span></span></strong><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="font-size: 24pt; color: #7030a0; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="font-size: 24pt; color: #7030a0; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="font-size: 24pt; color: #7030a0; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="font-size: 24pt; color: #7030a0; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="font-size: 24pt; color: #7030a0; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"><span style="font-size: 24pt; color: #7030a0; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="font-size: 24pt; color: #7030a0; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="font-size: 24pt; color: #7030a0; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="font-size: 24pt; color: #7030a0; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"><span style="font-size: 24pt; color: #7030a0; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="font-size: 24pt; color: #7030a0; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"> </span></strong></span></span></strong></span></strong></span></strong></span></span></strong></span></strong></span></strong></span></strong></span></strong> </span></strong></p>
<p></font></span></p>
<p class="MsoNormal" style="MARGIN: 0in 0in 10pt; TEXT-ALIGN: center" align="center"> </p>
<p></strong></td>
</tr>
</tbody>
</table>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritapendekrupi.com/?feed=rss2&amp;p=1</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
