August 8th, 2009 Pembunuh Berantai itu bernama Yordan
Yordan memberiku satu bundel dokumen. Melihatnya membuatku ingat akan sebuah kalimat yg keluar dari mulut temanku beberapa waktu sebelumnya “Aku dan kakakku sangat berbeda secara fisik maupun mental. Setiap orang yang melihat kami pasti berkata ‘oh ya, seperti bukan kakak beradik’ “.
Setelah aku melihat jelas Yordan, ternyata memang berbeda.
Warna kulit Yordan yang putih, ukuran tubuhnya yg kurus kecil, rambutnya hitam lurus panjang sebahu sangat berbeda dgn Molly yang tinggi besar, berkulit gelap dan berambut keriting besar.
Matanya sangat sinis, tapi saat tertawa meringis terlihat bahwa dia bahagia saat itu dan mengisyaratkan ada duka yg mendalam di dalam hatinya dan dia ingin merasakan bahagia yg mungkin hanya sesaat.
Dokumen itu di kumpulkan dalam satu pembungkus document berbentuk kotak terbuat dari plastik warna putih bening.
Isi tumpukan dokumen paling bawah berisi potongan-potongan kertas stensil warna putih kecoklatan yang ternyata berisi catatan korban pembunuhannya. hmmm… banyak juga korbannya… Aku berusaha tenang tidak bereaksi melihat catatan tersebut.
Di atas catatan2 itu ada kumpulan tagihan-tagihan dan slip pembayaran. ah aku tak tertarik melihatnya. lalu ku bolak balik lagi dokumen-dokumen itu. Ahaa!!! ada album foto. ku buka perlahan album yg sudah mulai rusak itu. Album berwarna kuning bening itu di beri karet pengikat untuk menjaga isinya agar tidak keluar dan tidak hilang berhamburan.
Kelihatannya itu foto2 korbannya atau mungkin orang2 yg dekat dengannya, krn ada sebagian yang ku kenali sudah menjadi korbannya tetapi sebagian lagi aku tidak mengenali siapa dan namanya juga tidak tercantum di daftar korban pembunuhan berantai Yordan.
Jantungku serasa copot saat melihat fotoku ada di dalam album tersebut!!! Lagi lagi aku berusaha tenang dan berusaha menyelami foto-foto yg ada didepanku.
Aku sedang menari dgn rambut lurus, sebuah bando kuning menyelip di antara rambut dan poniku. Berbaju pink terbaik, di depanku adalah teman SMA-ku Dini yg juga sama-sama menari.

Darimana Yordan memiliki foto itu? Itu adalah foto lama sekali yg pasti di ambil pada saat perayaan Ulang Tahun teman SMAku.
Kubalik foto itu, namaku tertulis lengkap disitu. Sambil berusaha menenangkan hati, aku sedikit menahan nafas dan berusaha tidak terlihat menarik nafas yg sangat panjang. Apa maksud fotoku ada di album tersebut.
Ada 2 lembar foto lagi, lembar pertama foto adik perempuanku dan di balik lembar fotonya tertulis nama adikku. Oh Tuhan, apakah maksudnya dia mengagumi kami berdua dan hendak menjadikan kami korbannya? Aku masih belum memahami dan belum berani menanyakannya kepada Yordan.
Lembar terakhir aku tidak jelas siapa karena sudah banyak guratan benda tajam di foto itu, kelihatannya Yordan sangat membenci orang tersebut. Di balik lembar fotonya tertulis “Orang yang telah membuat aku sengsara. Hukuman yg pantas akan aku berikan padanya”. Aku bergidik… ngeri sekali duduk di sampingnya dan membaca ini semua.
Yordan memandangku sinis, tapi sedetik kemudian tersenyum “Aku percaya padamu, dan aku harap kamu juga percaya padaku walaupun kita baru pertama kali bertemu. Aku sudah sering mendengar namamu dari adikku, tetapi aku baru menyadari bahwa kamu memang baik dan memang ada manusia baik di dunia ini selain adikku”.
Aku tersenyum miris, sulit sekali tersenyum lebar seperti 20 menit yang lalu saat kami bertemu di cafe ini.
=======
35 menit sebelumnya Molly meneleponku dan berkata “Kamu harus membantunya Ciarra, bagaimanapun Yordan adalah manusia yang memiliki hak mendapatkan kebenaran. Sebesar apapun salahnya, hukuman yg adil adalah jika manusia itu mendapatkan hukuman sesuai kebenaran yang terjadi. Bukan hal-hal yang di lebih-lebihkan dan tidak memandang aspek dibelakang tindakannya sehingga tidak ada pintu keadilan bagi manusia itu lagi”.
“Iya tapi tidak adil bagi keluarga korbannya Molly!! Aku merasa mengkhianati mereka! Aku bahkan tidak menerima jika Yordan tidak di hukum mati! tolong jangan paksa aku, walaupun Yordan adalah kakakmu tapi aku tidak sanggup untuk bertemu dengannya”
“Ciarra, aku mohon kedewasaan dan kejernihan pikiranmu saat ini. Tuhan bahkan memaafkan kesalahan manusia yg sangat besar sekalipun. Aku mohon Ciarra. Aku juga tidak pernah mengerti mengapa Yordan menjadi beringas seperti itu, tapi bagagimanapun dia adalah kakakku dan dia adalah manusia juga”.
“Baiklah Molly, temui aku di cafe ujung jalan itu. 30 menit aku akan sampai”
Aku tidak kuasa menolak permohonan Molly. Bagaimanapun dia adalah teman baikku juga, dia dahulu selalu membantu aku saat ada pria-pria nakal berusaha menggodaku. Terkadang aku membalasnya dengan membantu memberi sedikit uang jajanku untuk jajan Molly. Tapi pasti itu tidak ada artinya dibandingkan yang sudah Molly lakukan untukku dahulu sewaktu aku hendak di perkosa oleh segerombolan anak jalanan.
“Terima kasih Ciarra, aku berhutang padamu sekali lagi”
“Tidak Molly, aku yang selalu berhutang padamu, kali ini aku akan membalasnya”
Yordan tunduk pasrah saat polisi memborgolnya. Akhirnya ia harus menghentikan pelariannya. Rambut hitam lurusnya menutupi sebagian matanya. Tapi aku bisa melihat bahwa ia berusaha melihatku dari sudut mata kirinya dengan tatapan tajam dan dingin sedingin es.
Aku jadi teringat saat aku pertama mengenal Molly di bangku SMA dahulu.
Molly sangat ceria, tomboy dan berani saat di sekolah. Tapi dia sangat tertutup mengenai keadaan rumahnya, bahkan kami teman-temannya tidak pernah diperbolehkan main atau masuk kerumahnya.
Pernah karena penasaran suatu kali kami berusaha mengintip kedalam rumah Molly dari lubang dinding rumahnya. Rumah Molly memang terbuat dari kayu sehingga ada celah lubang yg bisa kami gunakan untuk mengintip. Kehidupan keluarganya sangat sederhana setelah ayahnya meninggal dan meninggalkan banyak hutang Bank. Hal itu kami ketahui dari teman kami lainnya yang bertetangga dengan Molly di rumah lamanya.
Setelah ayahnya meninggal dan rumah besar Molly di sita oleh Bank, Ibunya yang tidak pernah bekerja langsung terpuruk dan sulit beradaptasi dengan kehidupan yang kemudian menyeretnya ke dalam kehidupan nista.
Pernah kata teman kami, Ibunya yang kemudian menjadi wanita panggilan membawa lelaki kerumah Molly. Tidak diketahui pasti apa yang terjadi, tapi yang pasti di rumah itu tak berapa lama terjadi keributan. Molly di kejar dan di serang secara membabi buta oleh lelaki pelanggan Ibunya. Karena Molly pandai berkelahi, Molly dapat bebas dari serangan lelaki itu dan melarikan diri dari kejarannya. Ibunya yang tak berdaya dan membutuhkan uang dari lelaki itu terus saja menangis dan berusaha merayu sang lelaki untuk berhenti mencari Molly dan meminta lelaki itu untuk masuk ke dalam rumahnya. Yordan dengan badan kurusnya menangis meraung2 dari dalam rumah memohon agar tidak di sentuh lagi, entah oleh siapa.
Tetangga kampung teman kami itu tidak ada yg berani mendekati rumah Molly bahkan untuk sekedar menanyakan apa yang terjadi karena lelaki itu mengancam akan membunuh semua yang mendekatinya. Hanya kemudian berhembus kabar, lelaki itu berusaha menggagahi Yordan dan Ibunya tidak pernah berdaya untuk menolak keinginan lelaki itu. Kabar itu sekaligus menjawab pertanyaan yang selama ini kami pendam sejak hari kami mengintip rumah Molly dahulu.
Di suatu hari kami mengintip itu kami melihat Molly berusaha melindungi kakaknya Yordan dari amukan sapu Ibunya. Molly memohon agar Ibunya tidak memukuli Yordan dan berusaha terus menangkis setiap pukulan sapu yg di arahkan ke Yordan. Walaupun Molly sudah berlumuran darah Ibunya tetap tidak bergeming, Yordan yang kurus kecil terus saja ketakutan, duduk merunduk, menangis sambil menutupi wajahnya. Kata2 yang keluar dari mulut Yordan tidak begitu jelas terdengar, hanya sekilas yang tertangkap oleh telinga kami adalah “Aku mohon Ibu. Aku tidak menyukainya. Sakit sekali Ibu. Aku akan mengemis untuk makan kita besok, tapi aku mohon jangan paksa aku untuk melakukannya”.
Ibunya tak kalah selalu membalas permohonan Yordan dengan pukulan dan ucapan dengan menggelegar marah “Anak tidak tahu diri, tidak berbakti kepada orang tua!. Selama ini kamu sangat kami manja, tapi kamu tidak pernah berusaha membalasnya. Saat ini hanya kamu yang bisa membantu supaya kita semua bisa terus bertahan hidup!! Kamu mengerti itu?!”
Molly pun tidak kalah terus berusaha membantu menenangkan Ibunya “Ibu, aku mohon Ibu, kasihan kakak Yordan. Biarlah aku yang akan menjalankan tugas itu, tapi jangan kakak Yordan”
“Pergi Molly, tidak! Kamu tidak boleh tersakiti sedikitpun, kamu satu-satunya anak Ibu yang terbaik. Pergi ke kamarmu, kalau kamu tidak pergi terpaksa Ibu akan memukulimu juga”
“Ibu aku mohooon….” Molly menangis sesenggukan “aku mohon Ibu… Kakak Yordan sudah sangat menderita dengan sakitnya, apakah Ibu tega menambah penderitaan kakak?”
“Justru itu Molly, kakakmu harus sadar bahwa hidup ini membutuhkan banyak biaya. Sudah kakakmu sakit, menghabiskan semua uang kita. Sekarang tidak juga mau membantu kita sedikitpun. Hanya satu itu yang Ibu minta Molly”
Ibunya Molly tertunduk lesu, menangis sesenggukan, tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Kami juga tidak tahu lagi kelanjutan dari peristiwa itu karena hari sudah mulai gelap dan kami harus segera pulang sambil membawa beribu pertanyaan. Apa kira-kira yang terjadi.
Pandanganku kembali tertuju ke Yordan, aku ingin sekali mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, apa yang berkecamuk di dalam hatinya sampai dia tega menyakiti Ibunya, teman-temannya, bahkan orang yang tidak dikenal sedikitpun. Perlahan tubuh Yordan hilang dari pandanganku, berganti alunan musik mendayu-dayu, menggelitik telingaku. Aku begitu terhanyut melayang-layang di udara. Berusaha menebak dan menyelami apa yang di alami oleh Yordan.
====
Kenangan lamaku menyembul dari kotak kisahku yang sudah ku kubur dalam-dalam bertahun-tahun lalu. Dulu sewaktu aku kecil, aku adalah budak cabul keluargaku. Tapi aku tidak pernah menyadari bahwa itu adalah suatu hal yang tidak baik dan tidak boleh terjadi. Yang aku tahu adalah aku tidak boleh bilang kepada siapa-siapa dan terkadang aku menikmati juga.
Sewaktu aku belum sekolah dahulu, salah seorang kerabatku selalu memanggilku dan mencabuli aku di kamar orang tuaku yang sepi, saat kedua orang tuaku bekerja dan semua kakakku pergi sekolah. Aku tidak ingat tepatnya kerabatku itu siapa? Yang aku ingat hanya aku menyukai, menyayangi dan nyamab dekat kerabatku itu. Bahkan saat kerabatku itu pergi dari rumah, aku menangis meraung-raung ingin ikut pergi bersamanya. Aku pernah suatu saat bertemu kerabatku tersebut menjual minuman ringan di pinggir jalan suatu daerah diluar desaku, tapi hanya sebatas itu dan aku melupakan yang sudah dilakukannya padaku.
Setelah kerabatku pergi, berganti kerabatku yang lain dan menumpang dirumahku juga selalu mencabuli aku bahkan pernah suatu saat ketika orang tuaku sedang tidur di sampingku kerabatku ada yang mencabuli aku. Waktu itu rumahku memang dalam keadaan sedang di renovasi sehingga tidak ada kamar khusus untuk orang tuaku, kami anak-anaknya bahkan kerabat yang menumpang tidur bersama kami di ruang terbuka di dalam rumah. Aku tidak pernah berani memberontak karena takut yang terjadi kalau aku berontak. Kali ini aku benar-benar membenci kerabatku yang satu ini, entah karena dia tidak simpatik, yang jelas aku sangat membenci dia, sehingga justru aku berharap dia segera pergi dari rumahku.
Kenyataan lain setelah kerabat-kerabat cabulku pergi, kini berganti kakak-kakak lelakiku. Dulu aku tidak menyadari apa yang diperbuat kakakku sama seperti yang dilakukan kerabatku. Aku hanya diam, mematuhi perintah kakakku, setelah kakakku selesai mereka menyeka kemaluanku yang basah oleh sesuatu yang aku tidak tahu itu apa dengan kain seadanya. Kemudian mereka tidur begitu saja dan aku hanya diam, menerawang, tidak meneruskan tidur sampai pagi. Begitu terus bertahun-tahun. Kakakku selalu bergantian mencabuli aku sampai aku besar.
Kejadian cabul selalu saja terjadi padaku, bahkan pernah suatu kali saat aku masih duduk di kelas 4 Sekolah dasar. Suatu malam jam 7, aku dan dua teman sekolahku pulang dari menelpon teman menggunakan sepeda. Di suatu jalan besar, ada seorang pria besar berbaju seragam tentara dan mengendarai motor mengikuti kami sejak 20 meter. Pria itu berteriak memanggil kami, berusaha memberhentikan laju sepeda kami. Kami pun tanpa curiga berhenti, mungkin pria itu hendak bertanya alamat. “Dik, kalian yang tadi telpon dari Telpon Umum di sana?” Tanya pria itu sambil menunjuk kea rah belakang, ke arah telpon umum.
“iya Pak, ada apa?” Tanyaku kepada pria itu, aku dan temanku berpandangan dan menebak kira-kira ada apa pria itu memanggil kami.
“Ada seorang Ibu mengadu bahwa kalian membawa obat terlarang. Kalian habis mabuk yah?” suara orang itu berubah menajdi sangat tegas dan mengerikan. Kami jadi takut.
“tidak pak, kami Cuma menelpon salah seorang teman kami dari telpon umum itu” jawabku
“jangan bohong. Ibu yang di sana jelas-jelas menunjuk bahwa kalian yang membawa obat terlarang dan habis mabuk-mabukan”
“benar pak, kami tidak mabuk” temanku hamper menangis menyanggah tuduhan pria itu
“Ya sudah, kalau begitu kalian harus ikut saya menemui ibu itu untuk membuktikan bahwa kalian benar tidak mabuk” suara pria itu melemah dan sedikit merayu sehingga kami menjadi lebih lega dan nyaman. Karena aku merasa aku yang paling berani dari kedua temanku dan aku yakin kami tidak bersalah, maka aku memutuskan akulah yang akan menemui Ibu yang di maksud pria itu untuk menjelaskan semuanya “baiklah Pak, saya yang akan ikut dengan Bapak menemuui Ibu itu”.
Kedua temanku menggeleng-geleng kepala, mengisyaratkanku untuk tidak ikut dengan pria itu, sepertinya teman-temanku memiliki firasat buruk. Aku menyesal tidak mengikuti isyarat temanku untuk lari saja. Akhirnya sepeda yang ku kendarai kuberikan kepada salah seorang temanku, kemudian aku naik ke boncengan motor pria itu. Dalam perjalanan pria itu berkata bahwa Ibu itu ada di markasnya, jadi bukan di telpon umum yang tadi kami dituduhkan mabuk-mabukan. Aku masih menerima alasan pria itu saat kami melewati telpon umum dan menuju kea rah bawah jembatan layang.
Di suatu gerbang di bawah jalan layang, aku tidak tahu itu gerbang apa, tapi yang jelas sangat sepi, tidak ada satu orangpun dan pria itu menyuruh aku untuk menciumi salah satu jari tangannya. Aku tidak mengerti mengapa aku harus melakukan itu, dalam pikiranku mungkin itu salah satu tehnik untuk mengetahui apakah aku habis mabuk atau tidak. Setelah aku mencium dan mengulum jari tangannya, pria itu berkata, “hmm… tidak ada bekas obat atau minuman terlarang”
” Coba kamu cium ini!” kata lelaki itu menunjuk kemaluannya. Tidak lama kemudian, pria itu membuka celana dan menunjukan kemaluannya dan memerintahkan aku untuk menciuminya. Aku benar-benar tidak mengerti, aku masih mengira bahwa itu adalah tehnik lainnya untuk mengetahui kadar obat terlarang di dalam mulutku mungkin. Tidak lama lelaki itu berkata kembali “saya masih tidak percaya, coba kamu buka celana kamu”. Pria itu seperti menganalisa hasil kedua tehnik sebelumnya, sehingga kelihatannya memerlukan tehnik lainnya, aku benar-benar dibuatnya bingung selain aku tidak mengerti mengapa kami tidak berada di markas seperti yang pria itu katakan, bahkan aku juga tidak mengerti mengapa Ibu yang di maksud tidak ada di situ. Aku kemudian membuka celana aku dan pria itu mulai menggunakan jarinya menunjuk kemaluanku seperti mencolek selai dan kemudian mencium jari tangannya sambil berkata “oke, belum terbukti”. Aku lega, berari memang aku berhasil membuktikan bahwa aku tidak mabuk.
Beberapa saat kemudian, pria itu menyuruh aku membalik badan dan menyorongkan bokongku ke belakang. Sampai disitu aku masih tidak mengerti apa yang akan terjadi, sampai sedetik kemudian aku mulai merasakan ada benda keras yang berusaha masuk ke dalam kemaluanku. Aku baru menyadari bahwa pria itu berusaha mencabuli aku dengan cara yang tidak aku sukai.
Aku menahan pintu masuk kemaluanku agar benda keras itu tidak masuk, aku pernah mendengar bahwa kalau ada benda yang masuk ke dalam kemaluanku dan sampai berdarah, maka aku tidak akan perawan lagi. Walau aku tidak tahu apa itu perawan, aku berusaha mencegah agar benda keras milik pria itu tidak bisa masuk. Sakit sekali rasanya!! Oh Tuhan tolong aku. Pria itu terus saja menekan benda kerasnya sampai terdengar bunyi keras dari kemaluanku berbunyi seperti bunyi kertas tebal yang sobek “kreekk.. kreeekk..”
Aku menangis memohon pria itu agar menghentikan tindakannya, tapi pria itu tidak menggubrisku. Aku terus menangis, sampai kemudian pria itu menghentikan tindakannya karena ada yang keluar dari kemaluannya. Dia membersihkan kemaluannya, kemudian memakai kembali celananya dan memerintahkan aku untuk memakai kembali celanaku. Kemudian pria itu memberi aku uang sepuluh ribu “ini untuk pulang kerumah ya”. Aku langsung berlari menaiki dan menyeberangi jembatan layang di dekat jalan layang itu, terus berlari menuju rumahku sambil terus menangis. Saat aku keluar dari Gerbang aku sekilas melihat ada 2 orang pria yang sedang membenarkan motor. Dalam perjalanan aku tidak mengerti mengapa kedua pria itu tidak melihat kami dan tidak berusaha membantu aku. Mungkin kedua orang itu tidak berani atau mungkin juga suruhan pria itu untuk berjaga-jaga. Sampai di rumah aku langsung menuju ke kamar mandi dan meneliti celana dalamku, apakah ada darah di situ. Tidak ada darah, tapi banyak sekali cairan bening di celana aku. Aku tidak mengerti cairan apakah itu. AKu terus menangis di dalam kamar mandi dan menyesali mengapa aku bodoh mau mengikuti perintah pria itu yang ternyata menjebak aku dengan tujuan untuk mencabuli bahkan memerkosa aku. Tidak lama kemudian kedua temanku datang menemuiku di rumah, hendak menanyakan keadaan aku dan apa yang terjadi. Aku menutupi peristiwa itu dan berkata kepada temanku bahwa keadaan menjadi jelas dan terbukti bahwa kami tidak mabuk, sehingga aku diperbolehkan pulang.
Setelah aku SMA aku baru menyadari perbuatan kakakku seharusnya tidak boleh dilakukan. Dan sampai suatu saat pernah aku berniat membunuh salah satu kakakku yang masih saja mencabuli aku padahal aku sudah kuliah. Aku mengancam akan memberitahukan hal ini ke orang tuaku, kalau masih saja mencabuli aku. Tapi aku tidak pernah tega menyampaikan hal tersebut kepada kedua orang tuaku. Aku tidak tega membuat mereka merana menerima kenyataan hidup yang aku jalani apalagi Ibuku. Pasti beliau sangat sedih kalau mengetahui apa yang aku alami, dan bisa saja menjadi sakit karena hal tersebut. Jadi aku memutuskan untuk diam saja.
Aku berusaha melupakan seluruh kejadian pahit dalam hidupku, dan aku berusaha melangkah tegar menjalani semua kehidupan aku setelahnya. Aku terus mengubur kisah-kisah pahitku itu dan menyimpannya dalam-dalam di sebuah kotak rahasia hidupku. Hanya kadang-kadang ingatan tentang peristiwa yang menimpaku muncul, tapi aku selalu bisa menerima kenyataan tersebut dan memaafkan orang-orang yang telah menyakiti aku karena di sekeliling aku masih banyak orang yang menyayangi aku, sehingga aku bisa melupakan kejadian pahit tersebut.
Hmmm… mungkin Yordan mengalami hal yang sama pahitnya dengan aku, tetapi tidak bisa menahan kebenciannya karena tidak mendapatkan kasih sayang yang memadai setelah ayahnya meninggal, di tambah kondisi kesehatannya yang buruk, membuat dirinya tambah terkucil dan merasa menjadi beban keluarga. Aku berusaha mengerti keadaan jiwa Yordan dan bertekad akan membantunya keluar dari beban penderitaan itu tanpa melupakan semua yang telah dia perbuat terhadap korban-korbannya. Yordan juga harus mendapatkan keadilan atas yang telah dia perbuat tanpa di bebankan atas perbutan yang tidak dilakukannya tetapi di tuduhkan kepadanya.
Senin siang, aku menerima lagi satu bundle dokumen dan satu buah mainan tentara perang, tapi bukan dari Yordan melainkan dari seseorang yang tidak ingin disebutkan namanya. Bundel itu terdiri dari 2 buku, satu buku berisi catatan harian Yordan sewaktu sekolah Dasar. Satu lagi adalah buku yang berisi catatan harian Yordan saat dewasa dan satu buah mainan tentara perang. Kedua buku itu ditemukan oleh seseorang di halaman bekakang rumah Yordan terkubur bersama mayat Ibunya.
Orang itu tidak langsung menyerahkan dokumen yang ditemukannya ke kepolisian, entah dengan alasan apa. Mungkin merasa bahwa akulah orang yang tepat untuk meneliti kejadian tersebut. Aku tidak bisa menyalahkannya dan aku juga tidak bisa menutupi keinginanku untuk membuka dan meneliti buku-buku harian itu. Biarlah kepolisian meneliti kematian Ibunda Yordan berdasarkan otopsi dan pengakuan Yordan, aku akan meneliti dahulu isi buku ini dan menggabungkannya dalam suatu kesatuan cerita yang utuh seluruh kehidupan Yordan di tambah dari dokumen yang pernah Yordan berikan padaku. Aku tertarik pada buku pertama, kelihatannya ada kaitannya dengan patung tentara ini.
*********
Sabtu 1 Feb 1997
Aku ulang tahun yang ke 13 tahun hari ini. Ayahku seperti biasa membawakan aku mainan. Tapi kali ini mainannya tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya. Ayah hanya membawakan aku mainan satu buah tentara perang. Kata ayahku “Yordan, tentara ini kesepian. Dia membutuhkan teman untuk melawan musuhnya. Ayo kamu lekas besar, supaya kamu bisa menemani tentara ini membasmi musuh kita”
Aku senang sekali, aku mengangguk dan bertekad bahwa aku akan selalu ingat perkataan ayah untuk membantu tentara ini membasmi melawan musuh-musuh kami.
Senin 3 Feb 1997
Tuhan, hari ini aku masuk Rumah Sakit lagi. Aku tidak tahu apa nama penyakitku, tapi kelihatannya aku memang harus masuk Rumah Sakit. Sepertinya orang tuaku tidak suka jika aku masuk Rumah Sakit terus menerus. Aku sudah katakan pada kedua orang tuaku aku tidak mau masuk Rumah Sakit lagi, tapi ayahku sangat menyayangi aku dan tetap saja memasukkan aku ke Rumah Sakit. Ibuku berusaha menerima kenyataan tapi aku dengar kedua orang tuaku bersitegang dengan menyebut-nyebut namaku
“Ayah, ingat! hutang kita sudah sangat banyak. Vonis dokter juga sudah sangat jelas bahwa Yordan tidak akan pernah bisa diselamatkan. Umur Yordan akan bertahan hanya sampai dengan usia 15 tahun. Itupun dengan kondisi tidak akan ada perkembangan jiwa dan tubuhnya lagi ”
“iya, tapi bagaimanapun Yordan adalah anak kita bu. Anak yang engkau kandung dan engkau lahirkan hasil buah cinta kita. Kita harus tetap berusaha untuk kehidupannya” ayahku menyangkal kehendak Ibuku yang tidak menginginkan aku di masukkan ke rumah Sakit oleh ayahku
“terserah engkau ayah! Yang harus kamu ingat adalah, kita masih memiliki Molly. Anak yang sangat manis, sehat, dan tidak terlalu banyak menuntut. Seharusnya engkau memikirkan juga kehidupannya, bagaimana kalau kita tidak pernah bisa memberikan hidup yang layak bagi Molly. Kita akan kehilangan kedua anak kita”
Aku tidak pernah habis mengerti, mengapa kedua orang tuaku bertengkar. Yang aku tahu, aku kemudian di bawa ayahku ke rumah Sakit dengan menumpang angkutan umum, padahal dirumahku tersedia mobil dinas ayahku yang ternyata dilarang Ibu untuk di bawah ayah karena akan digunakan oleh Ibuku menjemput Molly pulang sekolah.
Adikku Molly memang lucu dan menggemaskan. Dia juga sehat, periang dan pandai. Mungkin itu yang membuat Ibuku lebih menyukai Molly daripada aku yang pemalu, penakut, pendiam, sakit-sakitan dan pembangkang.
Aku dan Molly hanya berbeda 2 tahun, tetapi kelihatan sekali Molly seperti kakakku dana ku menjadi seperti adiknya. Molly memang adik yang baik, ia selalu membantu aku dan melindungi aku jika ada teman-teman tetangga rumahku yang menjahili aku. Sore ini dia membawakan aku mainan sabun buih kesukaan aku dan 2 lembar roti yang di curinya dari lemari makanan Ibu. Molly juga pasti menyisihkan uang jajannya agar bisa membelikanku mainan sabun buih itu. Aku berjanji akan menjaga Molly, jika aku sehat dan sembuh. Aku bertekad terus hidup menemani Molly dan Ayahku. Hmm… Ibuku juga kalau beliau menghendaki.
Selasa 4 Feb 1997
Aku lemas sekali. Ayah tidak menemaniku dari kemarin karena harus keluar kota. Kata perawat yang merawatku aku akan diperbolehkan pulang kalau aku sudah sembuh dan kalau Ayah sudah kembali dari luar kota melunasi ongkos berobat aku. Aku rindu sekali dengan Ayahku. Adikku Molly juga tidak menemui aku, pasti karena harus les Piano hari ini. Iya, hari ini hari Selasa, biasanya Molly les piano. Aku akan tunggu besok, Ayah dan molly pasti menemani aku.
Ibu… iya, Ibu kemana ya? ah pasti Ibu sedang sibuk mengurusi rumah dan Molly yang masih kecil.
Rabu 5 Feb 1997
Ayah dan Molly menjemput aku !! aku bahagia sekali. Aku merasa sehat sekali sekarang. Molly menyeka keringat di dahiku “Kakak Yordan, aku bawakan kakak kue hijau pucuk coklat kesukaan kakak, kakak jangan sakit lagi yah”
Baik Molly, aku akan selalu sehat untuk mu adikku sayang.
Ibu tidak menjemputku, mungkin karena beliau harus mengurus kebun bunga di halaman depan.
Kamis 6 Feb 1997
Ayah dan Ibu bertengkar lagi. Aku takut sekali, lebih baik aku sembunyi di lemari.
“Mana anak sialan itu!! Aku sudah bilang Ayah jangan terlalu berlebihan terhadapnya. Ayah juga harus memikirkan anggota keluarga yang lainnya!”
“Tenang bu.. aku akan segera mencari cara agar kita bisa melunasi tagihan Bank itu”
Aku terus bersembunyi di lemari pakaian di sudut kamarku. Ah, untungnya lemari ini masih bisa menyembunyikan aku. Kalau Molly yang bersembunyi pasti ketahuan, karena pasti lemari ini tidak bisa menampung badan Molly yang besar. Aku tersenyum, terkadang keadaan aku yang seperti ini membawa keberuntungan juga.
Jumat 9 Feb 1997
Ayah tidak pulang kerumah hari ini, mungkin dinas keluar kota mencari tambahan uang.
Sabtu 10 Feb 1997
Ayah belum pulang kerumah hari ini, mungkin masih dinas keluar kota mencari tambahan uang. Molly sore ini sehabis pulang sekolah, ikut Ibu ke rumah teman Ibu. Entah ada urusan apa.
Senin 11 Feb 1997
Kasihan sekali Molly pagi ini tidak pergi sekolah. Yang aku tahu Molly di larang datang ke sekolah sebelum melunasi uang sekolah. Andai saja aku bisa membantu.
Tidak lama Ibu keluar kamar, membawa sekotak perhiasan miliknya. Duduk di kursi tamu, mengusap-usap rambut keriting besar Molly yang menyender di pangkuan Ibu sambil berucap “Molly maafkan Ibu ya Nak, kamu di hukum karena kesalahan kakakmu Yordan. Ibu akan menjual salah satu gelang kesayangan Ibu untuk melunasi uang sekolahmu yang tertunggak 2 bulan ini”
“Ibu, kakak Yordan tidak salah. Molly yang salah, seharusnya Molly tidak sekolah juga seperti kakak yordan ya Ibu. Molly juga tidak perlu les piano lagi kan bu?” Adikku baik sekali
“Nak, kamu harus tetap sekolah, karena usiamu masih panjang. Kamu masih harus mengarungi hidup ini lebih lama daripada kakakmu Yordan. Tentu saja kamu harus lebih baik daripadanya”
Aku tidak mengerti mengapa Ibu begitu membenci aku. Dan aku juga merasa tidak akan segera mati.
Rabu 13 Feb 1997
Ayahku masuk Rumah Sakit!! Kata suara-suara orang yang ada di Rumah Sakit ayahku terkena serangan jantung!!
Oh Tuhan, semoga ayahku cepat sembuh. Ibuku sangat berduka, begitu juga Molly. Aku juga sedih, tapi aku tidak bisa menangis, aku tidak tahu bagaimana mengeluarkan airmata. Ibuku membiayai ongkos Rumah Sakit dengan sisa perhiasannya.
“Maafkan Ayah bu. Usaha Ayah gagal. Ayah terancam di pecat dari Kantor karena ide yang Ayah jalankan tidak berhasil dan uang perusahaan hilang karenanya”
“Ayah, tidak baik berkata begitu. Lekaslah sembuh. Kita berusaha kembali dari awal yah” Ibuku terkadang sangat baik dan pengertian. Aku juga tidak habis mengerti, mengapa terkadang Ibu juga sangat ketus terhadap Ayah. Mungkin begitu hubungan orang dewasa, terkadang baik, terkadang bertengkar.
Kamis 14 Feb 1997
Aku menemani Ayah dari tadi malam. Aku tidur di samping tempat tidur Ayah, aku akan menemani Ayah sampai Ayah sembuh dan boleh pulangd ari Rumah Sakit. Molly dan Ibu di rumah karena tidak ada yang menunggu Rumah
Jumat 15 Feb 1997
Ayahku masih belum boleh pulang, aku sedih sekali. Kata perawat, Ayahku harus tenang tidak memikirkan apapun agar cepat sembuh. Aku memutuskan untuk terus di samping Ayah dan terus tersenyum saat Ayah Bangun dan melihatku, jadi Ayah akan bahagia dan lekas sembuh.
Sabtu 16 Feb 1997
Ibu dan Molly datang membawakan makanan untuk Ayah, tapi tidak untukku. Kata Ibu “tunggu sampai Ayah dan Molly selesai makan, baru kamu boleh makan”
Aku tidak begitu lapar, jadi aku tidak menghiraukan makanan itu, aku terus ada di samping Ayah, tersenyum. Ayah hendak menyuapi aku, tapi Ibu melarang. “Ayah… Ayah saat ini sedang sakit, jadi tolong pikirkan dirimu sendiri dahulu. Yordan, kamu tunggu di pojok situ. Jaga Molly”
Aku dan Molly tertawa gembira, bermain petak umpat di kamar itu. Aku jadi pencarinya kali ini, tapi Molly sulit ditemukan. Ayah memberiku isyarat dari sudut matanya, menunjuk kearah bawah kasurnya. Ternyata Molly ada di bawah kasur Ayah dan bersembunyi di kursi Ibu yang duduk di sebelah Ayah sambil memeluk kaki Ibu.
Aku berjingkat perlahan menuju arah Molly, dan hendak memberinya kejutan bahwa aku mengetahui keberadaannya.
Molly terkejut luar biasa, begitu juga Ibu. Ayah hanya tersenyum melihat kami. Tapi Ibu begitu marah dan memukuli aku dengan tasnya.
Aku meringis kesakitan, Molly sedih melihatku.
Minggu 17 Feb 1997
Ayahku boleh pulang!! Aku bahagia sekali
Selasa 19 Feb 1997
Ayahku pulang dari kantor dengan sangat lesu. Ternyata Ayah di tuduh bersekongkol melakuan penipuan. Jadi Ayah tidak hanya dipecat, melainkan juga akan di masukkan ke Penjara. Kecuali Ayah mengembalikan uang kantor yang hilang. Ibuku menangis tersedu-sedu. Andai aku bisa membantu Ayah.
“seandainya Ibu masih memiliki perhiasan, seandainya Rumah kita ini belum di agunkan ke Bank, pasti Ayah tidak akan masuk ke Penjara. Ibu tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan, maafkan Ibu, Ayah”
Rabu 20 Feb 1997
Ibuku memukuli aku habis-habisan dengan semua benda yang ada di dekatnya. Aku tidak tahu alasannya. Molly hanya memandangi aku sambil menangis histeris, memohon Ibu untuk menghentikan pukulan Ibu terhadap aku.
Aku juga tidak bisa berbuat apa-apa. Punggungku rasanya sudah tisak bisa merasakan apapun, selain perih yang menggigit, panas menjalar di sekujur tubuhku, dan darah keluar dari seluruh tubuhku, karena terakhir Ibu menggunakan garpu untuk menusuk-nusuk badanku, tanganku dan kakiku yang terjangkau olehnya.
“Ibu benci kamu Yordan!! Ibu benci kamu!! Kamulah penyebab keruntuhan keluarga kecil kita ini!! “
Aku tidak bisa bersuara lagi, karena sakit yang sudah luar biasa aku rasakan “i…bbuuu… mmm..aaa…aaafff” aku bahkan tidak tahu mau berbicara apa lagi karena aku sendiri tidak tahu maksud Ibu “mm..aaa..aaaff… ibb..buuu”
Molly terus berteriak histeris menyaksikan penyiksaan Ibu terhadapku “Ibuuuuu!!!!…. sudah!!! Aku mohon hentikan Ibu”
Ibu baru berhenti saat Ayah dengan terhuyung-huyung lari keluar dari kamar dan menggendong aku menjauh dari Ibu.
“Ibu, kamu tega sekali. Ini kesalahan Ayah yang tidak bisa mencukupi kalian! Yordan tidak tahu apa-apa Ibu”
“Semua karena Yordan Ayah, kalau saja YOrdan tidak merongrong kita sejak lahir, pasti Ayah tidak perlu meminjam uang ke Bank, tidak perlu berspekulasi dengan ide yang belum terbukti sehingga uang kantor habis, Ayah tidak perlu masuk Rumah Sakit karena memikirkan keadaan keuangan kita, Ayah tidak perlu masuk penjara karena seharusnya Ibu masih memiliki perhiasan!! Jelas ini semua karena Yordan ayah!!”
Aku lagi-lagi benar-benar tidak mengerti, mengapa Ibu begitu membenci aku. Bahkan aku tidak mengerti mengapa Ayah harus meminjam uang ke Bank dan mengapa lain-lainnya yang dituduhkan sebagai kesalahanku.
Rabu 27 Feb 1997
Sepanjang hari, Ayah dan Ibuku bertengkar. Ibu masih memiliki sebidang tanah peninggalan orang tua Ibu. Ayah memohon Ibu untuk menjual sebidang tanah tersebut sebagai pengganti uang kantor Ayah, karena kata Ayah hari Jumat besok adalah batas terakhir Ayah untuk mengganti, atau kalau tidak maka Ayah akan dijebloskan ke Penjara.
Ibu jahat sekali, tidak membantu Ayah. Kata Ibu “Ibu tidak bisa melepaskan tanah itu Ayah, itu hanya satu-satunya peninggalan mendiang orang tua Ibu yang amanat terakhir adalah harus di jaga sampai nanti Molly besar”
Ayah sangat sedih mendengarnya. Molly dan aku tidak mengerti, bahwa pembicaraan sore itu begitu penting dan begitu mendesak, jadi kami seperti biasa tetap bermain dan tertawa. Kami hanya menghampiri Ayah dan Ibu hendak menanyakan mengapa Ayah bersedih. Ibu hanya terdiam lesu, sedangkan Bapak tertunduk lesu, pandangannya menerawang jauh menikam kedalam tanah
Sabtu 1 Maret 1997
Ayah dilaporkan ke polisi. Siang itu ada beberapa Bapak-bapak berseragam polisi datang ke rumahku membentak-bentak Ayah. Aku takut sekali. Ibu hanya bisa menangis, memohon keringanan Bapak Polisi dan Ibu menyatakan bersedia mengganti uang kantor Ayah asal Ayah tidak di bawa ke kantor Polisi. Tapi menurut Polisi hal itu sudah terlambat, karena laporan dari Perusahaan tempat Ayah bekerja sudah masuk ke Kantor Polisi. Jadi menurut Bapak polisi kalau memang Ayah tidak bersalah, bisa dijelaskan dipengadilan.
Molly dan aku menangis meraung-raung. Aku baru sadar, ternyata pembicaraan kedua orangtuaku hari Rabu kemarin sedemikian pentingnya. Dan Ibu terlalu egois, membiarkan Ayah masuk ke dalam Penjara.
Selasa 1 April 1997
Ayahku masuk penjara!
Sabtu 5 April 1997
Akhirnya aku boleh keluar dari Gudang. Sejak ayahku masuk penjara, aku tidak mau makan jadi Ibu menghukumku tidak boleh keluar dari Gudang sampai hari Sabtu, hari kami akan menjenguk Ayah. Aku hanya di beri makan sekali oleh Ibu pada pagi hari. Karena aku juga tidak berniat makan sampai bertemu Ayah, jadi aku tidak terlalu menghiraukan makanan yang di berikan Ibu setiap pagi. Aku hanya minum dan terkadang yang membuat aku kuat adalah Molly setiap 2 hari menyelipkan kue hijau berpucuk coklat kesukaanku. Molly memang adikku yang paling manis dan baik.
Setiap malam aku hanya tidur beralaskan kertas bekas pembungkus semen, tidak ada bantal, tidak ada guling bahkan selimut. Jadi terkadang aku tidak tidur, karena nyamuknya banyak. Tapi tidak apalah, yang penting hari ini aku akan bertemu Ayah.
Tapi aku sulit Bangun, badanku lemah sekali. Ibu menyeretku dari Gudang dan membawaku ke Kamar Mandi, kemudian menyiramku dengan air. Dingin sekali, aku jadi menggigil dibuatnya.
Aku bertemu Ayah, ayah kasihan sekali, wajahnya pucat, lingkar matanya hitam, badannya mulai mengecil dan kelihatan lemah. Ayah jadi seperti aku sekarang, kecil dan lemah. Tuhan, tolong kuatkan Ayah
“Yordan anakku, Ibu pasti tidak memiliki simpanan uang lagi jadi pasti tidak bisa sering-sering menjenguk Ayah. Untuk itu tolong jaga Adikmu Molly dan Ibumu ya, selama Ayah di penjara. Tolong sampaikan salam Ayah kepada tentara kita itu untuk ikut membantu menjaga kalian. “ pesan Ayah sambil tersenyum kepadaku.
Hatiku perih sekali, Ayah seandainya aku sudah dewasa, bisa membantumu meringankan beban di usiamu yang sudah renta ini.
Aku tidak kuasa menahan sedih ini, begitu cepat perubahan yang terjadi pada Ayah. Tangan Ayah yang bergetar sewaktu mengelus rambutku begitu terasa menyakitkan hati ini.
Mulutmu yang sulit bergerak, tapi tetap engkau usahakan berbicara padaku membuatku ingin memelukmu, menggendongmu keluar dari Penjara itu dan membawamu pergi pulang kerumah Ayah. Aku ingin sekali memeluk tubuh rentamu yang sekarang sedang menahan sakit dan beban.
Aku berjanji akan mengumpulkan uang agar bisa sering menjenguk Ayah dan mengeluarkan Ayah dari Penjara.
Jumat 30 Mei 1997
Ayahku meninggal di penjara! Kata desas desus, Ayah sangat kecewa pada Ibu yang membawa lelaki lain kerumah kami. Ibu memang terpaksa menerima kencan dengan lelaki hidung belang agar kami bisa makan. Itu karena Ibu memang tidak pernah terbiasa bekerja, sehingga tidak bisa menghasilkan uang.
Aku bahkan tidak bisa berkata-kata lagi mengenai kepergian Ayah. Yang aku tahu, aku begitu membenci Ibu karena membuat Ayah meninggal. Sedangkan Ibu begitu membenci aku karena menyebabkan Ayah masuk penjara.
Rabu, 31 Desember 1997
Akhir tahun yang gulita, setelah menjalani berkali-kali pengadilan, akhirnya kami harus keluar dari rumah kami karena Bank memenangi perkara melawan Ibu yang mewakili almarhum Ayah. Ayah memang menunggak pembayaran pinjaman yang di lakukan dahulu sewaktu aku keluar masuk rumah sakit. Rumah kami dijadikan agunan oleh Ayah, karena yakin kami dapat melunasi pinjaman tersebut sampai musibah menimpa keluarga kami.
Aku balik lembar-lembar terakhir buku catatan harian Yordan saat kecil itu. Kelihatannya ia sangat depresi setelah ayahnya meninggal dan tidak memiliki rumah. Ada catatan saat dia berpindah-pindah tempat, sampai akhirnya menetap cukup lama di rumah bordil karena Ibunya akhirnya menjadi Pelacur tetap rumah Bordil Tante Irna teman semasa kecil Ibu dulu. Ada juga catatan saat dia harus makan makanan sisa pengunjung rumah bordil. Waktu itu dia dihukum oleh Ibunya tidak diberi makan karena mengintip Ibunya yang sedang melayani tamu.
Coretan-coretan dibuku pertama itu juga banyak, tebal-tebal dengan penekanan yang sangat bahkan terkadang sampai ada bagian-bagian kertas yang robek.
Aku coba lihat buku kedua, sepertinya ini buku catatan harian saat Yordan dewasa, persis seperti dugaan awalku.
Tidak banyak tulisan di sana, tetapi banyak foto dan guntingan berita di koran tentang pembunuhan atau kecelakaan.
Aku sangat yakin itu adalah buku catatan korban pembunuhan atau percobaan pembunuhan yang Yordan lakukan selama ini, aku sangat jijik melihat gambar-gambar yang ada di sana. hiiii, bergidik aku melihatnya. Terus aku balik-balik buku itu, cukup tebal lebih tebal dari buku yang satunya tadi. Terpana aku saat tiba di tengah buku, melihat foto Ibunya Yordan dengan seorang pria tersenyum manis. Jelas itu bukan Ayahnya Yordan. Untuk apa foto mereka ada di buku ini. Aku berusaha menyambungkan cerita, mungkin Yordan marah karena Ibunya selingkuh, tapi seharusnya Yordan marah dari dulu karena jelas Ibunya pelacur yang pasti akan berhubungan dengan banyak pria.
Mungkin juga Yordan senang dengan kebahagiaan yang terpancar dari kedua wajah orang tua itu, Ibunya dan Sosok Ayah yang Yordan rindukan.
Tapi mengapa kemudian Yordan harus menyakiti Ibunya, walau belum terbukti Yordan yang membunuhnya. Hhhhh aku lelah sekali, belum menemukan jawaban juga, di buku kedua itu tidak ada bukti apapun dan tidak ada pertanda apapun yang mengarah bahwa Yordan yang melakukan pembunuhan. Sebaiknya aku mandi dan pergi tidur, karena hari menjelang malam. Besok saja aku lanjutkan kembali, aku akan berkunjung ke Yordan untuk menggali lebih dalam lagi, apa sebenarnya yang terjadi. Sekaligus memberikan bukti-bukti tersebut ke kepolisian, menghindari tuduhan menyembunyikan barang bukti kejahatan.
************
Aku lihat Yordan menerawang jauh ke awan. sesekali dia menyeka keringatnya yang membasahi dahi dan lehernya. Yordan mengenakan baju yang berbeda dengan tahanan lain, duduk di bangku kayu ruang tunggu. Setelah dia sadar aku sudah datang, iya kemudian menggeserkan pantatnya ke samping, memberi aku tempat. wajahnya sangat dingin, tidak menyapa bahkan tidak melihat kearahku sama sekali.
Yordan mulai cerita sambil sesekali menggaruk-garuk kepalanya dan mengucek-ngucek matanya.
Yordan bilang bukan dia pembunuh berantai tersebut, dia hanya korban salah tuduh yang dijadikan kambing hitam. Aku masih belum mengerti mengapa Yordan bilang spt itu. Lalu apa atinya buku-buku harian yang kemarin aku lihat? Sepertinya Yordan sedang berbohong dan mengarang, tapi aku harus adil, aku harus buka hatiku dan membiarkan Yordan untuk cerita dahulu. Aku harus benar2 mengerti keadaan yang sesungguhnya terjadi sehingga bisa membantu Yordan.
Ternyata Yordan tidak pernah bermaksud untuk menyakiti siapapun termasuk Ibunya, walaupun ia sangat membenci Ibunya. Suatu malam saat Yordan ingin menengok suara yang datang dari dapur, Yordan mendapati Ibunya menangis dan tertawa sambil mencuci tangan dan sebuah pisau. Yordan bingung kenapa Ibunya seperti itu, dia tidak berani bertanya bahkan tidak berani untuk melanjutkan penglihatannya. Dia beringsut pergi dari dapur dan kembali ke kamarnya yang ditempati bersama Molly. Sering Yordan memergoki Ibunya melakukan hal yang sama, tetapi dia tidak pernah menyangka papun terhadap Ibunya.
Selalu setiap Yordan habis melihat Ibunya seperti malam-malam itu, menangis dan tertawa sambil mencuci pisau, beberapa hari kemudian ditemukan mayat lelaki, terkadangmengapung di sungai yang jaraknya sekitar 1 jam perjalanan kaki dari rumahnya, terkadang ditemukan di semak belukar hutan yang memisahkan desa tempat Yordan dan Ibunya tinggal dengan desa tetangga yang lebih maju atau bahkan pernah ditemukan tepat dibelakang rumah Yordan. Rata-rata tubuhnya penuh tusukan pisau, dalam keadaan setengah bugil dan diperkirakan sehabis berkencan sesaat sebelum meninggal karena ditemukan cairan sperma yang mengering di sekitar pahanya. Yordan tidak pernah menyangka bahwa Ibunyalah yang berbuat hal tersebut. Tetapi Yordan terus mengawasi gerak-gerik Ibunya dan mengumpulkan potongan semua berita pembunuhan.
Aku terus mendengarkan Yordan bercerita. Ada sedikit titik terang. Ya mungkin Ibunyalah pembunuh itu, tapi untuk apa? lalu mengapa Yordan yang tertuduh? lalu mengapa Ibunya juga ditemukan terbunuh? Apakah Yordan yang melakukan itu? Kalau iya untuk apa?
Yordan menyalakan rokok sebentar, kemudian mulai bercerita lagi. Dia terus bercerita bagaimana akhirnya dia menyadari bahwa Ibunya lah bersama seorang pria kekasih Ibunya adalah biang semua pembunuhan berantai tersebut. Ibunya selalu membunuh lelaki teman kencannya dan mengambil semua uang dan harta benda yang ada di lelaki tersebut. Tetapi Polisi tidak pernah berhasil menyingkap pembunuhan tersebut, karena Ibunya sangat pintar beralibi. Apalagi lelaki teman kencan yang dibunuh Ibunya selalu ditemui di luar rumah bordil, di hutan batas desa. Ibunya bekerja sama dengan kekasihnya selalu beralibi sedang berkencan di rumah bordil, jadi tidak mungkin melakukan hal tersebut pada waktu yang sama. Padahal Ibu dan kekasihnya selalu keluar rumah bordil melalui loteng yang memang tidak terlalu tinggi jaraknya dari tanah, kemudian menyelinap menemui lelaki calon korban Ibu. Disaksikan kekasihnya dari balik pepohonan, Ibu melayani lelaki tersebut, dan akhirnya disaat lengah karena merasakan kenikmatan, datanglah petaka itu! Kekasih Ibu membunuh teman kencan Ibu. Merampok uang dan harta bendanya, setelah itu meninggalkannya begitu saja, pulang kembali ke rumah bordil. Yordan baru menyadari setelah beberapa kali ia dapati, setiap kekasih Ibunya datang, Ibunya pasti malam-malam nanti menangis dan tertawa sambil mencuci pisau.
Sampai akhirnya Yordan curiga dan memutuskan untuk mengikuti gerak-gerik Ibu dan kekasihnya.
Lalu kenapa Ibunya terbunuh? Karena katanya suatu malam Yordan melihat Ibunya akan membunuh kekasihnya. Yordan jelas tidak terima karena ia sangat sayang dengan kekasih Ibunya. Mungkin karena ia merindukan sosok ayah pada lelaki itu pikirku. ternata tidak, itu karena Yordan juga mencintai kekasih Ibunya. Perasaan sayang dan cinta itu tumbuh sejak kekasih ibunya mulai sering datang berkunjung, sambil selalu membawa makanan dan mainan untuk Yordan dan Molly. Suatu saat, di saat Yordan hanya berdua dengan lelaki itu, dia merayu Yordan mengatakan bahwa ia sangat sayang Yordan, tidak akan membiarkan lagi Ibunya menyakiti Yordan, akan selalu membawa makanan dan mainan untuk Yordan dan akan mengajak Yordan berjalan-jalan tamasya asal Yordan mau menuruti keinginannya.
Yordan kecil saat itu tidak menolak saat kekasih Ibunya akhirnya menggagahi Yordan. Yordan bahkan tidak merasakan rasa sakit yang dulu pernah dia rasakan saat Ibunya meminta dia melakukan hal yang sama terhadap kekasihnya terdahulu.
Yordan sangat menikmati saat-saat kemaluan lelaki itu memasuki lubang duburnya dan membiarkan lelaki itu memegangi kemaluannya sampai dia merasakan nikmat yang luar biasa.
Kejadian itu terus berulang sampai Yordan beranjak dewasa. Sampai akhirnya Ibunya mengetahui hal tersebut dan marah besar pada Yordan. Kekasih Ibunya membantu Yordan dan akan membawa Yordan pergi bersamanya, tapi Ibunya tidak menerima hal tersebut, malah akan menusukkan pisau ke lelaki itu. Yordan marah, dia berusaha menahan pisau Ibunya dengan badannya agar tidak tertusuk ke lelaki itu. Tetapi terlambat karena pisau itu sudah bersarang tepat di dada kekasih Ibunya. Yordan menyaksikan sosok lelaki yang sangat dikasihi dan dicintainya, yang sangat perhatian terhadap dirinya harus pergi karena Ibunya. Yordan menjadi sangat marah, mengambil pisau yang menancap di dada lelaki itu, lalu membabi buta menusukkan pisau ke tubuh Ibunya yang terduduk lesu, menangisi kejadian tersebut. Ibunya tidak berdaya menahan amukan Yordan sampai akhirnya Yordan berhenti karena dia sadar Molly akan segera kembali pulang dari sekolah. Dia segera membersihkan segala barang bukti dan mengubur Ibu dan Kekasihnya di belakang rumah.
**********
Tidak ada yang percaya dengan kejadian tersebut. Semua tetap menyangka dan menuduh Yordan yang melakukan pembunuhan berantai, termasuk membunuh Ibu dan kekasihnya. Pengadilan juga tetap menjatuhkan vonis bersalah kepada Yordan, karena bukti-bukti foto-foto, potongan-potongan koran berita pembunuhan dan buku harian yang dimiliki Yordan semuanya memberatkan Yordan dan mengarahkan ke pembunuhan berencana. Apalagi tidak ada saksi yang menyaksikan kejadian pembunuhan Ibunya dan Kekasihnya malam itu adalah suatu kejadian pembelaan semata. Dengan latar belakang kehidupan masa kecilnya sangat wajar Yordan menjadi pribadi yang tertutup, pembenci, pemarah dan menjadi pembunuh terhadap siapapun yang dia rasa telah melakukan penghianatan terhadap ayahnya.
Usaha naik banding akupun tidak berhasil, malah hukuman yang diberikan bertambah berat, yaitu Hukuman Mati!!
Aku sangat merasa bersalah karena tidak bisa membantu Yordan dan Molly. Molly pun akhirnya pasrah dan menerima hukuman yang dijatuhkan ke Yordan dan waktu eksekusi yang sangat dekat.
***********
Sepuluh tahun berlalu, sejak Yordan dieksekusi, aku masih saja selalu bermimpi kejadian yang Yordan alami. aku seperti dikejar-kejar oleh hantu Yordan yang merasa masih ada sesuatu yang belum diselesaikan. Aku berlari menyusuri gang-gang kecil, gelap dan becek. Menaiki dan menuruni tangga labirin yang sempit dan gelap, di gedung tua yang mati. Sangat melelahkan. Di setiap mimpi tersebut Yordan menyampaikan pesan padaku, untuk menjaga Molly dan tentara prajuritnya. Dia juga bilang sayang padaku dan berterimakasih kepadaku karena telah membantunya membalas kebaikan Molly.
Mimpi itu terus datang hampir setiap malam, membuatku semakin bingung dan terus frustasi, sebenarnya apa kejadian yang sebenarnya. Siapa yang harus dipercaya sebenarnya? antara ucapan Yordan, bukti-bukti yang menyudutkan Yordan dan antara mimpi yang aneh. Apakah benar pembunuh berantai itu Yordan? Apa maksudnya dia telah membalas kebaikan Molly?
—————– Selesai —————

November 7th, 2009 at 6:27 pm
I found your blog on Google. I’ve bookmarked it and will watch out for your next blog post.
April 10th, 2010 at 8:19 am
Thanks alot Queenie…