August 10th, 2009 Awan kelabu di desa Penan-gi, Doba
“hmhhh!…..” pria itu menarik nafas lega “akhirnya bus itu datang juga, waaahh… penuh sekali. Apakah tujuannya benar?… aku akan cek dulu sebelum naik”. Karena bus melewati dirinya, pria itu bergegas berjalan sejajar bus dan bergerak ke arah depan bus untuk melihat tujuan yang tertulis di kaca depan. “ah, ya, Penan-gi !!” seru pria itu dalam hati, kemudian masuk bus melalui pintu depan, bersiap untuk mencari tempat duduk yang kosong karena pasti hampir penuh dilihat dari luar tadi. “hhh…. aku lelah sekali, aku akan tidur begitu dapat tempat duduk, 1 jam cukuplah bagiku untuk beristirahat”.
Wuuuuussshhh.. begitu pria itu menengadahkan mukanya dan posisi tepat berada di samping Pak Supir, angin dingin menerpa wajah dan kupingnya. Sekilas tertangkap oleh ekor matanya supir dan kondektur terbengong diam memandang pria itu.
“Oh tidak, ternyata semua orang di dalam bus itu memandangku, aku jadi curiga apakah aku terlihat bodoh, salah bus atau apa ya? mengapa semua orang memandang ke arahku?”
Pria itu melihat ke sekeliling, lurus kedepan “kenapa sepi sekali ya?, untuk ukuran orang sebanyak ini rasanya tidak mungkin suasana begitu senyap, tanpa suara apapun” pria itu terheran-heran, tak berhenti berpikir sambil mencari tempat duduk yang kosong “orang-orang ini begitu tak tau sopan, terus memandangi aku tanpa senyum, tanpa sapa dan tanpa reaksi sama sekali” pria itu menggerutu.
Sampai di tengah bus, tiba-tiba suasana menjadi benar2 hening dan mencekam. “ada apa dengan bus ini ya? mengapa di setiap jendela ada tulang-tulang tergantung di tiang tempat gordyn jendela di sangkutkan? kalau dilihat dari bentuknya yg panjang tunggal sepertinya itu adalah tulang betis. Apakah ini semacam adat daerah ini untuk menghindari sangkala? murka? musibah? bencana? atau hanya hiasan semata?” pria itu terheran-heran menatap sekeliling, tapi tak berniat untuk bertanya ke orang sebelah atau depan-belakang duduknya. Ia memutuskan untuk tidur saja.
Tiba-tiba WHUUUZZZZZZ!!!!! semua mendadak gelap gulita, bus berhenti mendadak.
“Aaaa!!!, tolong nyalakan lampu darurat” pria itu terpekik, dia panik dan merasa bahwa bus itu seperti apartementnya yang memiliki cadangan energi sehingga tidak ada istilah mati lampu.
Zlep! trrrrttt…. trap! tak lama kemudian, akhirnya lampu kembali menyala, tetapi sayangnya tidak seterang sebelumnya.”hah!! kemana orang-orang tadi? oh mungkin saat mati tadi semua penumpang turun dari bus. Seharusnya mereka naik kembali kedalam bus ini, seharusnya bus ini berhenti dahulu, aku akan memberitahukan Pak Supir bahwa penumpang belum naik”
Pria itu mencari-cari sosok pak supir, ke depan, ke belakang, ke samping kanan, kiri
“mana kondekturnya ya? mengapa semua tidak naik ke dalam bus?” pria itu sepertinya belum menyadari bahwa bus terus berjalan, melewati hutan cemara. Karena lelah setelah seharian tadi menyusuri sungai Landuni, maka pria itu tertidur.
“Olana, mama pia buki? [turun di mana Pak?]” tanya pak kondektur kepada pria itu dengan bahasa daerah yang kurang dimengerti pria itu, tetapi untungnya bapak kondektur memberikan bahasa isyarat juga, jadi paling tidak sedikit-sedikit bisa dimengerti oleh pria tersebut. “Penan-gi” jawab pria itu sambil menunjukkan peta yg dikeluarkannya dari saku jaket sebelah kanan.
“te ma gi- Olana. Nomo ni sata, buki tatame [baiklah Bapak. Saya akan beritahukan - jika sudah sampai tujuan]” sahut pak kondektur sambil menjauhkan tangannya dari bahu pria itu dan menyilangkan di dadanya sendiri, menyurut ke belakang dengan menundukkan kepala.
“ah, masih 45 menit lagi. Tapi aku sudah tidak mengantuk seperti tadi.”
Pria itu menepuk2 jaketnya, membersihkan debu yang mengotori sebagian besar baju dan jaket hitam panjangnya.
“hiii…. dingin sekali, tapi aneh rasanya mengapa debu bisa sebanyak ini di bajuku, padahal cuaca sangat dingin. Dinginnya pun bukan dingin air conditioner ataupun dingin angin dari luar bus, karena semua jendela dan pintu tertutup. Seharusnya tidak ada debu yang terbang ke arah bajuku’
Debu itu beterbangan, semakin di tepuk, debu yg beterbangan semakin banyak!
Sungguh kejadian aneh yg tidak habis dipikir oleh pria itu.
Belum habis tanda tanya pria itu, debu itu melembut, melembek dan menjadi basah lengket di sekujur tubuhnya. warnanya menjadi seperti lumpur bercampur coklat karena warnanya yg coklat tua. Perlahan diperhatikannya lumpur tersebut semakin menebal dan seperti hendak menelan pria itu. “oh, aku kehabisan nafas!!” pria itu menahan nafasnya agar lumpur itu tidak masuk ke dalam hidung dan mulutnya. Dia menutup juga matanya. badannya menahan dingin yang menggigit, gatal, sesak, badannya seperti dilimuti selimut lumpur tetapi dingin menyesakkan. Rambutnya kaku dan berat, seperti sedang dililit handuk tebal yang basah dan kotor. Semakin lama pria itu tidak berhasil bertahan, lumpur itu akhirnya masuk ke dalam hidungnya, mulutnya, tenggorokannya, matanya, berjalan mendesak sampai ke jantungnya, perutnya seakan menjadi tempat pembuangan akhir lumpur. Lumpur-lumpur itu berputar-putar di dalam perutnya, bertambah besar, besar dan besar karena lumpur terus masuk melalui seluruh pori-pori tubuhnya. Tulangnya melunak, tertekan lumpur yang entah dari mana, seperti pusaran lumpur yang berpusat di dalam tubuhnya dan berujung di perutnya yang terus membesar dan ………….
Tiba-tiba pria itu kembali berdiri di luar pintu bus.
“Olana, mama pia buki?” suara yang kecil serak mengagetkannya. oh, ternyata ada seorang bapak kondektur berdiri di pintu depan bus yang berjalan perlahan, dengan muka bertanya-tanya melihat dirinya yang tengah kebingungan mencari bus yang sesuai. Bus itu berjalan melewati dirinya dan pria itu bergegas mengejar bus itu melewati badan depan bus, melihat tujuan yang tertera di kaca depan “ya, penan- gi” ucapnya. “tapi penuh sekali, ahh, aku lelah sekali, aku akan menunggu satu bus lagi setelah ini, semoga aku dapat tempat duduk. 1 jam cukuplah bagiku untuk beristirahat” pria itu mengurungkan niatnya menaiki bus itu. Ia merasa harus menunggu bus lain agar bisa duduk dan tidur, ia lelah sekali setelah seharian menyusuri sungai seperti petunjuk peta yang berada di saku jaket sebelah kanannya. Pria itu melihat kepergian bus tujuan penan-gi tersebut, menjauh darinya. Seperti ada desir aneh menyelimuti dirinya. Tapi pria itu tidak mengerti dan mengapa desir itu timbul.
============
Setelah sampai di Penan-gi, pria itu mencari penginapan Doba Penan-gi. Dengan tergopoh-gopoh pria itu masuk ke kamar, “hmmm…. cukup nyaman kamar ini, tetapi penerangannya tidak memadai”. Pria itu mengamati ruangan kamar penginapannya, luasnya kira-kira 3 x 4 meter, bercat kuning pucat, di depan pintu kamar ada sebuah tempat tidur kayu berwarna coklat tua, kasurnya sudah menipis dan warna sepreinya juga kuning pucat dengan list warna coklat bercorak bunga tulip. di sebelah kiri ada satu set meja rias kayu tua, lacinya kelihatannya sudah rusak, tetapi masih terlihat cukup bagus untuk daerah terpencil seperti penan-gi ini, kursi riasnya juga masih cukup bagus, ukiran di kaki-kaki meja dan kursi rias itu cantik sekali bercorak bunga dan daun putri malu. Di sebelah kanan tempat tidur terdapat lemari 2 pintu yang juga terbuat dari kayu tua, kelihatannya lemari ini tidak ada ruang gantungnya, semua pakaian harus di lipat. Di sisi kiri pintu masuk ada kamar mandi dan tepat di depan pintu kamar mandi ada tempat sampah terbuat dari kayu yang dilubangi tengahnya, di ukir bunga dan daun putri malu juga sama seperti meja dan kursi rias. Dia lantas teringat istrinya yang sangat tidak menyukai perlengkapan rumah yang terbuat dari kayu berukir atau bercorak. Istrinya memang lebih suka perlengkapan rumah terbuat dari kayu polos, lebih modern dan tidak menyeramkan alasannya. Kemudian dia menoleh ke arah sisi kanan pintu masuk, ternyata ada tempat meletakkan sepatu dan bertingkat jadi cukup untuk memuat dua pasang sepatu.
Pria itu melepas sepatu dan meletakkan di tempat sepatu, “ah kotor sekali sepatuku ini, sepertinya aku tidak pernah melewati lumpur, mengapa ada lumpur di sepatuku?” pria itu bertanya dalam hati. Ia lalu meletakkan jaketnya di atas sandaran kursi rias, mengambil satu set baju tidur dari tas ranselnya yang berwarna hijau pupus dan kemudin meletakkan tasnya di atas meja rias. Pria itu berolahraga lari kecil di kamar selama 5 menit lalu pergi mandi membersihkan tubuhnya dari debu dan keringat. Walaupun sudah malam, terpaksa dirinya mandi. Itu lebih baik ketimbang dirinya tidak bisa tidur karena keringat, kotor dan panas (maklum tidak ada air conditioner ataupun kipas angin disini).
Setelah mandi, pria itu terlelap tidur
=============
Keesokan paginya, pria itu bangun dengan badan yang segar, ringan dan mata yang terang. tidurnya sangat nyenyak semalam, walaupun sempat ada mimpi aneh yang menyertainya. Tapi ia lupa mimpi apa semalam. Ia bergegas turun dari kasur, meraih handuk dan pergi mandi. Ia berniat akan mencari tahu keadaan sekeliling setelah mandi nanti, bertanya ke satu atau dua orang, kemudian meneruskan niatnya mencari orang yang bernama Gota ke suatu tempat yang sudah diberi tanda di peta yang ia pegang.
Ya, ia penasaran sekali, almarhum ayahnya pernah berkata sebelum meninggal sambil menyerahkan peta Desa Penan-gi bahwa suatu saat ia akan membutuhkan peta tersebut. “Jika saatnya tiba, maka carilah pria yang bernama Gota, ia tinggal di tempat yang ditandai lingkar merah” ujar ayahnya perlahan. Tak lama kemudian ayahnya meninggal tanpa sempat ia bertanya lebih lanjut, kapan waktu tersebut dan untuk apa ia harus menemui Gota. Dan untuk apa pula ia harus membutuhkan peta tersebut.
=============
5 tahun berlalu, dan selama 5 tahun tidak pernah ada tanda apapun bahwa memang ia membutuhkan peta itu dan tidak ada tanda apapun yang membuat ia harus mencari pria bernama Gota.
Sampai suatu malam ia bermimpi, ia berada di dalam bus, melewati hutan, dan pada suatu titik tiba-tiba bus yang ia tumpangi diterjang lumpur basah yang bergulung-gulung dari arah samping bus. Lumpur itu semakin membesar, menggulung-gulung, kecepatannya semakin mendekat semakin cepat, lalu lumpur itu menerkam bus beserta seluruh penumpang termasuk dirinya. Dalam mimpi itu hadirlah seorang pria kurus kecil, berkulit hitam mengkilat menunjukkan peta yang sama persis dengan peta yang diberikan oleh ayahnya.
Pagi harinya, ia mendapati sepotong berita di koran mengenai misteri hilangnya sebuah bus beserta seluruh penumpangnya. Bus itu memang melewati desa Penan-gi. Tapi apakah iya, mimpi yang dia alami semalam adalah suatu pertanda apa yang dialami oleh bus tersebut? lalu apa hubungannya dengan dirinya? lalu mengapa sudah jauh hari sebelumnya ia seperti sudah dipersiapkan untuk kondisi ini beserta peta dari ayahnya? sungguh banyak pertanyaan yang bahkan iapun belum bisa menjawabnya ataupun bahkan mengira-ngira.
Maka untuk menjawab semua pertanyaan dan kebingungannya, ia memutuskan untuk mencari tahu. Ia merasa bahwa saat inilah waktunya ia membutuhkan peta tersebut dan akan mencari tahu misteri yang terjadi terhadap mimpi, peta dan bus yang hilang tersebut.
=============
Pria itu keluar penginapan, tempat yang pertama ia akan tuju adalah rumah makan Penan-gi Express yang terletak di tengah desa. Sambil sesekali ia akan berhenti jika menemukan orang. Ya, sejak dari penginapan ia tidak menemukan seorangpun untuk ia tanyakan. Aneh sekali, bahkan pegawai penginapanpun tidak ia temukan. Sesampai di rumah makan Penan-gi Express ia hanya menemukan 2 orang, 1 orang pelayan rumah makan dan 1 lagi pengunjung yang sudah selesai makan dan kelihatan tergesa-gesa ingin meninggalkan rumah makan.
Penerangan di rumah makan tersebut kurang layak, hanya ada 1 lampu yang menyala di tengah-tengah ruangan, tetapi untunglah ada jendela kaca yang cukup memberi penerangan ke arah dalam rumah makan. ia pesan spagheti 1 porsi, 1 coke dan sepotong roti lapis. Menu yang ia rasa akan cukup mengganjal perutnya sampai nanti sore sekembalinya ia dari mencari Gota, karena ia yakin siang nanti dia akan sulit menemukan rumah makan di desa terpencil seperti Penan-gi ini.
Saat memesan makanan, kembali ia harus memberi bahasa isyarat, karena ternyata pelayan tersebut tidak bisa bahasanya selain bahasa suku penan-gi yang ia tidak pernah mengerti sedikitpun. “aku harus mencoba belajar bahasa penan-gi, supaya aku bisa berkomunikasi. tapi siapa yang bisa membantu aku? bahkan orangpun tidak banyak yg aku temui” pria itu bertekad belajar tetapi ia tidak yakin bahwa ia akan segera bisa karena tidak menemukan seorangpun yang terlihat bisa membantu dirinya. Kemudian ia teringat Gota, seperti pesan ayahnya bahwa ia harus mencari Gota jika sudah di desa Penan-gi. Ia mencoba bertanya kepada pelayan “apa Anda kenal pria bernama Gota? Gota?” sengaja ia tekankan kata-kata Gota karena ia yakin kata-kata sebelumnya tidak akan diketahui pelayan tersebut.
Pelayan tersebut menggelengkan kepala pertanda ia tidak mengerti atau tidak mengenal pria bernama Gota. Pria itu mengernyit dan bergumam “hmmm .. dengan cara apalagi aku harus bertanya? OK, aku akan coba tunjukkan peta itu”. Lalu ia mengeluarkan peta dari dalam tas ranselnya, menunjukkan suatu titik sambil berkata “Gota.. Gota” dan memajukan dagunya sambil menunjukkan mimik muka bertanya. Pelayan itu sepertinya sedikit mengerti, tetapi ia tidak bisa menutupi raut muka kagetnya saat melihat titik di peta itu. Ia hanya mengangguk-angguk dan menunjuk jarum jam 12, menunjuk suatu arah ke luar rumah makan, menunjuk jarum jam 12 lagi dan memberi isyarat seperti leher akan dipenggal. Kemudian pelayan itu segera memberi isyarat pria tersebut untuk bersegera mencari Gota.
Pria itu hanya melahap roti dan meminum dengan gerakan sangat cepat cokenya. Spaghetinya ia minta dibungkus karena akan ia makan nanti diperjalanan saja supaya waktunya cukup. Ia tidak mengerti mengapa ia merasa waktunya sangat terbatas, padahal ia juga tidak mengerti maksud jarum jam 12, tapi ia merasa bahwa sesuatu yang buruk akan segera terjadi pada jam 12, sekitar 3 jam dari sekarang. Jadi ia harus cepat-cepat berjalan daripada terlambat. Ia berniat akan mencari tahu diperjalanan.
Jalan yang ditunjukkan pelayan itu satu arah dengan tujuan dia yaitu titik yang terdapat di peta, titik yang diberi tanda lingkar merah. Kira-kira 2,5 jam perjalanan kaki dari tempatnya berdiri sekarang, jika dijalan lancar-lancar saja.
Sekitar jalan itu hanya pohon-pohon tinggi menjulang, tidak ada tempat pemberhentian, tidak ada kendaraan yang bisa membawanya kesana ia rasa, karena jejak jalan yang ada tidak terlihat bekas ban mobil, bus bahkan motor ataupun sepeda.
Ia memutuskan untuk berjalan kaki dengan cepat agar tidak terlalu lama di perjalanan dan bisa sampai tempat yang dituju sebelum jam 12 nanti.
Tidak ada yang aneh selama perjalanan, hanya saja waktu yang dihabiskan ternyata melebihi perkiraan. Ia baru sampai tempat itu sekitar jam 11.59, lebih lambat dari yang ia prediksi. Begitu sampai di titik yang diperkirakan titik yang ada di peta, ia melihat begitu gelap di situ. Ada bekas pusaran yang memusat ke dalam tanah di tengah-tengah pusaran. Terlihat seperti baru saja terjadi karena pusaran itu masih bergerak dan tanah mulai bergerak merata. Ada apa gerangan? Apakah lumpur hidup? Ia bergidik, mengundurkan langkahnya dan mengurungkan niat untuk mendekati pusaran.
Dari ekor mata ia melihat sekumpulan lumpur bergulung-gulung mendekat ke arahnya, dan ia terkesiap ketika mendapati ada seorang pria di sebelahnya. Pria itu menariknya dan mengajak ia menepi ke pinggir hutan, berlari menaiki batu-batu terjal dan tiba di satu titik yang aman.
Ia mengatur nafasnya, menundukkan kepala dan menyangga badannya yang tunduk dengan memegang lututnya. Ia mencuri pandang ke arah pria itu yang dengan tenang mengamati gulungan lumpur terus menerus bergulung melahap apapun yang ada dihadapannya, membuat sekitarnya berlumuran lumpur coklat, kemudian berhenti di pusaran tadi. Lama-lama lumpur setinggi 1 meter itu masuk ke dalam pusat pusaran dan hilang. keadaan sekeliling menjadi lapang, pusaran lumpur tadi menghilang dan seperti tidak ada tanda-tanda habis terjadi serangan lumpur bandang.
“Itu kutukan desa kami, menurut cerita sejak ratusan tahun lalu kami harus selalu menerima bahwa setiap 5 tahun di bulan ke 6 selama seminggu pada awal bulan akan datang lumpur maut melahap apapun benda yang dilaluinya, dibawa ke titik pusaran itu. Kalau tadi kau masih berada di situ bisa dipastikan kau tidak akan kembali lagi. Bahkan tidak ada bekasnya” pria itu membuka percakapan.
Ia mengernyitkan dahinya, lalu apa hubungannya dengan aku? apakah ada hubungannya dengan bus yang hilang di berita beberapa hari lalu? Ia lalu berusaha mengingat-ingat ucapan pria itu tadi, setiap 5 tahun. lalu ia bertanya “kapankah terakhir kejadian lumpur itu datang?”
“5 tahun lalu” jawab pria itu. Ia langsung melihat penunjuk waktu dan tanggal di jam tangannya. Sekarang tanggal 6 bulan 6, berarti besok hari terakhir lumpur itu datang.
“hanya ada satu yang bisa membuat kutukan itu hilang dan tidak kembali lagi” ujar pria itu sambil menerawang ke arah langit.
“2 orang dengan tanda lahir berbentuk bulat oval di telapak kanan bersatu melawan kutukan tersebut pada waktu lumpur datang” lanjutnya sambil menganggukkan kepala. Aku tidak mengerti mengapa ia mesti menganggukkan kepala, padahal ia terlihat tetap menerawang dan bingung.
Aku bertanya “lalu apakah tidak ada orang yang memiliki tanda lahir seperti yang kau maksudkan di desa ini?”
Pria itu mengangkat bahunya, pertanda ia sendiri tidak mengetahuinya atau tidak pernah menemukan orang dengan tanda lahir seperti yang ia maksud.
“aku memiliki tanda lahir sama persis seperti yang dimaksud dalam legenda. Ayahku dulu pernah cerita bahwa suatu saat nanti akan datang seorang pria bernama Charlie ke desa ini, menemuiku dan kami bersama akan berjuang memusnahkan kutukan itu hilang untuk selamanya, dengan memberi tetesan darah yang berasal dari titik tanda lahir tepat di hari terakhir atau pada akhir minggu lumpur melanda” pria itu terlihat ada setitik harapan yang tersirat dari matanya. Apakah maksudnya Charlie itu aku? ya namaku Charlie, tetapi aku akan membiarkan orang itu bercerita dahulu, aku sangat tertarik mendengar ceritanya. Lagipula, aku merasa bukan pahlawan yang dimaksud dalam legenda, kalaupuan iya aku tidak yakin aku benar-benar bisa membantu, karena aku sepertinya tidak memiliki tanda lahir berbentuk bulat di telapak tangan. Memang sih ada sedikit noda berwarna lebih gelap dari warna sekitar, tapi itupun bukan bulat. Selain itu rasanya aku hanya bisa terpaku saja kalau lumpur itu datang.
“Hampir seluruh orang-orang di desa ini pergi, menghindari kutukan itu. Hanya beberapa yang bertahan dan itupun mereka akan pergi setiap 5 tahun pada awal bulan 6. Pada tengah bulan 6, orang-orang akan datang kembali ke desa, membangun kembali rumah tinggal mereka yang musnah dan akan pergi lagi setiap lumpur bandang akan datang menerjang.” pria itu kembali meneruskan ceritanya, kemudian duduk di tepi batu, membiarkan kakinya terjulur ke bawah dan dimainkannya kakinya tersebut bergantian kaki kanan di atas kaki kiri, semenit kemudian kaki kiri di atas kaki kanan.
“Lumpur akan datang setiap jam 12 siang, arah datangnya tidak pernah bisa ditebak. Itu sangat menyulitkan kami, lumpur itu seperti jatuh dari langit, tiba-tiba datang menerjang, menggulung dan menenggelamkan apapun yang ada dihadapannya. Aku sendiri hampr pernah terbawa lumpur karena waktu itu aku kira lumpur akan datang dari Utara, sehingga aku berlari menjauh ke arah Selatan. Ternyata lumpur datang tepat dari arah depanku, dari Selatan!. Dalam hitungan menit lumur itu hampir melumatku, kalau saja aku tidak diselamatkan oleh ayahku saat itu”.
“Sejak saat itu aku bertekad akan menunggu Charlie dan akan memusnahkan kutukan yang membuat desa kami mati. Lihat telapak tanganku, seperti inilah tandanya” pria itu memberikan tangannya yang menghadap langit sehingga aku bisa melihat tanda lahir yang ia maksud. Saat melihat telapak tangannya itulah kami baru sadar bahwa aku juga memiliki tanda yang sama!!
Pria itu kaget saat melihat telapak tanganku “Kau orang itu!!” ujarnya sambil setengah berdiri dan tetap memperhatikan telapak tanganku. Aku sendiri tak kalah kaget dibuatnya, karena kemarin-kemarin tanda itu tidak pernah senyata sekarang. Sekarang tanda itu begitu tebal dan nyata, bentuknyapun bulat. Sungguh aneh. Kami lalu saling memperkenalkan diri, ternyata dia adalah Gota. ya, aku sampai lupa rencana tadi pagi untuk mencari Gota. Saat bertemu lelaki inipun aku lupa bertanya apa ia kenal Gota, ternyata ialah Gota.
============
Rencana itu kami susun, tepat di hari terakhir nanti menurut Gota akan lewat sebuah bus melintas hutan Penan-gi. Bus itu akan melewati jalur yang bukan jalur lumpur selama ini, tetapi Gota berpendapat dan yakin bahwa lumpur kali ini cakupannya akan lebih luas sehingga bagaimanapun bus itu akan termakan oleh lumpur.
Saat bus itu akan masuk ke hutan, aku harus naik ke dalam busnya, menginformasikan kepada supir bahwa bus itu tidak boleh masuk ke dalam hutan karena seluruh hutan kali ini akan dilanda lumpur. Tetapi bus itu harus memutar satu kali putaran searah jarum jam sehingga membentuk lingkaran di tanah, bus harus segera pergi, kemudian Gota akan menggoreskan telapak tangannya dan telapak tanganku, kemudian tepat di tengah lingkaran kami harus membiarkan darah dari telapak tangan kami menetes ke tanah sebanyak 99 tetes. Setelah itu kami harus segera lari menaiki batu-batu terjal di samping hutan. Lumpur akan masuk ke dalam pusaran yang sudah dibentuk dan tidak akan kembali untuk selamanya.
============
Tiba-tiba pria itu terbangun karena ada yang menepuk pundaknya, ternyata tadi hanya mimpi. Mimpi yang panjang dan sangat nyata baginya.
“sudah sampai desa Penan-gi Pak, tempat pemberhentiannya ada di pusat desa setelah hutan ini. Tapi kami tidak bisa melewati jalur biasanya, karena ini tanggal dan waktu khusus. Kami akan melewati jalur alternatif hutan, setelah hutan ini Bapak akan sampai di pusat desa Penan-gi. Semoga perjalanan ini menyenangkan” ujar kondektur itu kepadanya.
Pria itu mengucak-kucak matanya, melihat jam tangan yang ada di tangan kirinya. Ia membenarkan posisi jam karena posisi menghadap ke bawah. “Wah sudah jam 11.30″ gumamnya. Saat ia membalikan posisi jam tangannya tersebut, ia kaget melihat tanda di telapak tangan kanannya, terlihat lebih nyata dan tebal dari sebelumnya dan bentuknya bulat. Saat ini tanggal 7 bulan 6, seketika ia ingat akan mimpinya. Berarti ini adalah hari terakhir itu!! ia harus segera mencari Gota, menghentikan bus itu agar tidak masuk ke hutan. Entah bagaimana caranya aku harus segera memberitahukan supir bus ini. Lalu pria itu maju ke depan dan berbicara dengan supirnya. Saat ia mencoba berbicara, ia melihat telapak tangan supir tersebut ternyata ada tanda persis seperti dirinya. “Kau Gota!! ya aku yakin kau adalah Gota! aku Charlie, aku datang ke desa ini mencari dirimu. Ayahku memberi peta ini. lihat, lihatlah, kita punya tanda lahir yang sama”
Sang supir terkesiap dan kaget, langsung menghentikan laju bus dan meneliti tanda lahir di telapak tangannya dan tangan pria itu sambil berkata “ya, aku adalah Gota. Apakah kau benar Charlie seperti mimpiku. Aku pernah bermimpi kamu datang mencariku dan kita berjuang bersama, tapi aku lupa apa itu” Ia langsung bangkit dari duduknya dan ingin keluar bus, ingin berbicara lebih privat dengan Charlie. Tetapi Charlie melarangnya dan meminta Gota untuk memutarkan bus searah jarum jam dan meminta sang supir mencari benda apapun yang bisa membuat luka di telapak tangannya sehingga bisa mengeluarkan darah. Charlie merasa waktunya sangat mendesak karena 20 menit lagi jam 12 dan itu artinya kalau mimpinya benar, lumpur bencana akan segera datang.
Gota segera memutarkan bisnya searah jarum jam, kemudian mengambil obeng dari laci busnya. Segera turun keluar bus dan menghampiri Charlie yang mulai menggoreskan tangan dengan pisau lipatnya “Ayo cepat goreskan tanganmu tepat di tengah tanda lahir itu hingga mengeluarkan darah. Biarkan tetesan darahmu jatuh ke tengah lingkaran itu Gota. Ayo cepat, waktunya tidak banyak, karena kamu harus meneteskan 99 kali” perintah Charlie ke Gota sambil menghitung tetesan darahnya yang jatuh. Gota mulai mengikuti Charlie, menusukkan obeng dan mengarahkan tangannya ke tengah lingkaran. 1 tetes, 2 tetes, 3 tetes, terasa lambat. Gota kembali menusukkan obeng ke telapak tangannya lebih dalam sampai terasa ke tulangnya.
Jam menunjukkan pukul 11.58, Charlie sudah selesai meneteskan darahnya 99 kali, ia bergegas ke arah bus sambil mengingatkan Gota untuk segera pergi.
“Ayo Gota, waktu kita tinggal 2 menit lagi. Kita harus segera pergi sebelum lumpur itu datang dan menenggelamkan kita kedalam tanah.”
“Tinggalkan aku Charlie, kau harus selamatkan penumpang. Aku belum menyelesaikan tetesan darah ini sampai 99kali. Masih 20 tetes lagi. Ayo lekas pergi Charlie. Aku tahu harus lari kemana untuk menyelamatkan diri. AKu yakin lumpur itu akan datang dari arah utara sehingga aku bisa lari ke arah Selatan dan mendaki batu-batu terjal itu” kata Gota sambil terus mengarahkan tetes darahnya ke tengah lingkaran.
“Tidak Gota, larilah ke arah Utara, karena aku yakin lumpur kali ini akan datang dari Selatan” Charlie menghidupkan mesin bus dan melarikan bus ke arah Utara dengan kecepatan maksimum.
Tepat di tetes ke 99, lumpur itu datang, dan tepat seperti kata Charlie, lumpur itu datang dari Selatan. Lumpur itu begitu cepat sehingga menyapu Gota yang belum sempat berlari. Lumpur itu seperti tersedot ke tengah lingkaran yang tadi dibuat oleh putaran bus, masuk ke dalam titik pusaran tepat di mana darah Charlie dan Gota diteteskan.
Dalam hitungan detik, semua kembali lapang tanpa bekas. Tetapi awan kelabu masih bergayut di desa Penan-gi, hanya kali ini awan kelabu itu akan pergi untuk selamanya.
————— Selesai —————-
”
===============================================================================
Dalam cerita ini ada beberapa kalimat percakapan yang menggunakan bahasa suku Penan-gi, walaupun sudah di berikan juga arti dalam bahasa Indonesianya,
untuk mempelajari silahkan lihat Kamus bahasa Penan-gi (red : by rupi)
