August 10th, 2009 Tunggu aku sampai waktunya tiba, sayang
Suara titik air hujan gerimis terdengar berirama, jatuh mencium dedaunan hijau muda di depan rumahnya. Sang daun menggeliat menerima ciuman sang air, ia tahan beban sang air yang semakin memeluk dirinya dalam genangan, perlahan daun hijau muda itu menundukkan punggungnya memberi lewat sang air agar bisa menciumi tanah merah di hadapannya. Sang tanah tersenyumsumringah menyambut air yang begitu di nantinya selama berbulan-bulan ini. Oooh… indahnya susasana sore ini, hmmmm… harum tanah merah yang basah oleh air hujan begitu menggairahkan. Langit putih keabu-abuan mulai malu menyemburatkan warna warni pelangi seperti melilit lehernya, memayungi bumi. Setelah memandangi langit luas dari jendela di hadapannya, ia melihat ke Pria di samping kirinya yang sedang tidur terlelap menghadap langit2 rumah, dengan dada terbuka dan sebagian tubuhnya tertutup selimut putih krem membuatnya terlihat sangat menggoda untuk di peluk. Dadanya yang bidang berotot berwarna coklat sangat seksi, lengannya yg besar proporsional begitu membuat ia terpesona, lengan kanannya tertahan guling di sampingnya tapi jemarinya bertaut dengan jemari tangan kirinya di atas perutnya yang kencang berotot. Kulitnya begitu coklat bersih, bahkan hingga pusarnya yang bulat terlihat sangat bersih bercahaya. Matanya turun memandangi bagian bawah badan pria itu, tak habis pikir ia betapa Tuhan menciptakannya begitu sempurna bahkan hingga ke ujung kakinya. Pinggulnya yang tersingkap krn selimut tidak menutupinya terlihat begitu pas menopang badannya yang proporsional, pahanya hingga kakinya dengan ukuran yang sangat pas! bahkan betisnya begitu melekat sempurna di kakinya yang kekar panjang seakan menantang semua aktifitas untuk mendekatinya.
Pria itu menggeliat, menggerakkan bahu kirinya naik sedikit ke atas mendekati rahangnya yang tegas, wajahnya memaling ke kiri ke arah dirinya. Oh Tuhannn….. aku begitu memujanya, lihatlah tulang hidungnya yang kecil tinggi, bibirnya yang kecil berbentuk sangat manis dan menggoda mengatup sempurna. siluet wajahnya sangat sempurna! terlebih dilihat dari samping seperti ini, tulang dahi yang pas bersambung dengan mata yang tepat, kemudian tulang hidungnya bersambung dengan bibirnya, lalu dagunya yang berbelah menopang kesemuanya dengan pas. Oh ya, tulang pipi dan rahangnya yang tegas membuat aku tak bisa berhenti ingin menciuminya terus bahkan saat ia terlelap seperti ini.
Wanita itu bergeser menggerakkan tubuhnya mendekati sang pria, rebah di samping kiri badannya. Tangannya yang bertaut di lepaskannya, ia menyusup ke dada sang pria itu, memeluknya dengan sangat berperasaan, merasakan hangatnya tubuh sang pria yang harumnya sangat khas dan memenuhi rongga hidungnya dengan lembut, menyeruak masuk ke dalam dada dan membuat nyaman hati wanita itu. Ya! wangi eau de toilette X Limited dari Etienne Aigner itu seakan sudah menjadi bagian hidup pria itu, dan bersamanya selama bertahun-tahun membuatnya sangat menggilai wangi parfum tersebut. Bahkan saat tidak bersamanya, dengan seketika akan menjadi sangat rindu saat mencium wangi parfum tersebut digunakan oleh orang lain. Ia bisa gila mungkin jika saat rindu tetapi tidak dapat bertemu. Pria itu menyadari sang wanita tidur di atas dadanya sambil memeluk, maka ia merangkulkan tangan kirinya ke leher sang wanita dan tangan kanannya merangkul pinggang sang wanita sampai ke punggung sambil mengusap-usapnya. Aaah.. nyaman sekali dirasakannya, kualitas hidup seperti inilah yang sangat ia rindukan selalu hadir di setiap waktunya. Wangi parfumnya, hangat pelukannya dan desir-desir tak terkirakan yang timbul oleh setiap sentuhannya. Aku cinta kamu, sayang. Aku ingin kamu ada dalam setiap waktuku dengan kualitas kenyamanan hidup yang tidak akan pernah aku dapatkan jika aku bersama yang lain. Wanita itu meresapi rasa cinta kasih yang menyusup hingga ke sendi-sendi dan urat nadinya. Darahnya bergejolak oleh rasa ingin yang sangat. Ia ciumi leher sang pria dengan lembut tetapi dengan hasrat yang memuncak. Saat ia letakkan bibirnya di leher pria itu, ia biarkan sesaat bibirnya merasakan hangatnya leher pria itu, ia biarkan nadi sang pria mengirimkan sinyal kepada saraf bibirnya, meneruskan kepada pikirannya, hatinya dan kemudian kepada saraf di seluruh tubuhnya, dan memerintahkan dengan refleks untuk menerima kehadiran pria itu di dalam segenap aliran darah sang wanita, sampai-sampai seluruh tubuhnya, sarafnya, nadinya, darahnya berkata “hampiri aku, sentuh aku dengan seluruh rasa yang ada padamu sayang”
Pria itu membalasnya dengan kasih, ia mencium kening sang wanita, di biarkannya bibirnya yang hangat meneruskan kasih yang ada dalam hatinya kepada wanita itu. Ia ciumi mata wanita itu dengan lembut sambil berkata “kamu tidak tidur sayang”, wanita itu menjawab “tidak sayang, aku begitu mengagummui sampai aku tidak mengantuk, lagipula suasana begitu indah, langit diselimuti pelangi tadi”. pria itu mencium pipi sang wanita, hidungnya, bibirnya, dagunya, terus ke leher wanita itu. Lidahnya yang hangat menambah sensasi. Pria itu kembali ke bibir sang wanita yang sedikit terbuka, di ciumnya dengan lembut, berperasaan, di biarkannya nafasnya bertukar dengan wanita itu, bahkan sesekali dia hirup udara dari mulut sang wanita, dia rasakan udara itu menembus lehernya, dadanya dan bersarang di dalam hatinya dengan kedamaian. “Ayo mandi sayang, sudah sore. Kita duduk di teras yuk. Aku mau melihat wajahmu yang cantik ini di sirami cahaya sore” ucap sang pria sambil mencubit ringan pipi sang wanita, mencium pipinya kembali dan mengeratkan pelukannya. Sang wanita menggeliat, merenggangkan tangannya, kemudian memeluk kembali pria itu, menenggelamkan wajahnya di dada sang pria “aku malas jalan ah, gendong aku baru aku mau mandi” ujar sang wanita manja pasrah menyerahkan dirinya untuk di gendong. Pria itu bangkit, menggendongnya dan membawanya ke kamar mandi “kamu turun dulu, aku nyalakan air hangat untuk kita mandi yah” ujar pria itu sambil menurukannya. Di nyalakannya keran air panas dan dingin, dia setel sedemikian rupa, di coba-cobanya setelan air itu agar di dapati hangat yang pas untuk aku. Saat seperti inilah dia begitu menyadari betapa pria itu mencintainya, memperhatikan dan memanjakannya.
Busa sabun itu lembut menyentuh tubuhnya melalui tangan kekar pria itu, dirasakannya tangan itu memijatnya sambil menyabuninya, ujung jarinya menekan urat2nya yang lelah setelah tadi bermesraan dengannya. Dia bersihkan seluruh tubuh sang wanita dengan lembut sampai ujung jari jemari sang wanita. Setelah selesai menyabuni, pria itu mengarahkan shower ke tubuh sang wanita, membersihkan sisa-sisa sabun, melap tubuhnya dengan handuk dan melilitkan handuk itu sampai sebatas bawah ketiaknya. Setelah selesai digendongnya wanita itu ke arah wastafel “kamu sikat gigi, aku mandi dulu ya” ujar pria itu lalu dia mulai mandi, dia arahkan air ke seluruh tubuhnya, dari mulai kepala sampai ujung kakinya. Ia tuang sampoo ke telapak tangannya, di buatnya busa dari sampoo itu dengan kedua telapak tangannya dan kemudian di keramaskan ke rambutnya yang pendek sedikit bergelombang sampai busanya benar-benar banyak. Wanita itu sambil menyikat giginya melihat dari bayangan cermin wastafel ke arah sang pria sampai ia selesai dan pria itu juga memakai handuk.
*********
Langit sore itu benar-benar indah. Matahari yang mulai muncul seakan malu menampakkan cahayanya. Teh hangat berwarna coklat itu di biarkannya mengental semakin menampakkan warnanya yang menua karena ia lebih suka rasa teh yang kental, lebih berasa di lidah dan tenggorokkannya. Teh celup di cangkir sang pria di ambilnya karena sudah mulai menua, ia tahu bahwa pria itu tidak suka teh yang terlalu kental, yang terpenting manisnya cukup dan berasa tehnya sedikit ringan sudah cukup untuk pria itu. Pucuk daun hijau muda yang tadi berkencan dengan air mulai mengering, air yang tertinggal di tulang punggungnya sudah tinggal berkas-berkas saja karena tadi ia biarkan air itu mengencani tanah yang memang membutuhkannya. Tangannya dan tangan pria yang duduk di sampaing kanannya itu bergenggaman, mesra, mata sang pria teduh menatapi dalam matanya, seakan ingin mengatakan “aku cinta padamu, cahaya sore ini membuatmu makin terlihat cantik”, ia membalas dengan tatapan seakan menerima ucapan itu dan membalasnya seakan berucap “aku juga cinta padamu sayang, aku begitu mengagumimu”. Di hirupnya teh hangat itu sambil jemari tangan kirinya terus menggenggam jemari sang pria.
Langit beranjak pergi kembali karena sudah waktunya sang bulan menggantikannya menyinari bumi malam nanti. Suara adzan maghrib berkumandang dari masjid sebelah kanan rumah. Pria itu merangkulnya beranjak masuk ke dalam rumah. Teh – teh di cangkir terdiam memperhatikan pasangan yang sedang dimabuk asmara begitu mesra-memanja.
Ujar sang pria kepada wanita itu “Tunggu aku sampai waktunya tiba sayang. Aku akan memanjakanmu setiap waktu, dan aku tidak akan pernah membiarkanmu bersedih. Aku akan berusaha memberikan cinta yang paling sempurna yang pernah ada di dunia ini hanya untukmu”
*********
Tahun ini adalah tahun kelima kami menjalin kasih. Begitu banyak suka dan duka yang sudah kami alami bersama. Semoga bahagia itu bisa aku dapatkan selalu sampai aku tidak bisa merasakan lagi indahnya dunia penuh bahagia.
