Elegi cinta Rani


“Tuhan, aku membuat goresan luka lagi di hatinya. aku sadar bahwa itu menyakitkannya, tapi aku tak juga menyudahi rasa sakit yang aku timbulkan untuk dia. Hati ini terlalu keras sehingga tidak membiarkan sejenak melemah dan menengok hati yang luka itu. Aku terlalu egois” Rani menutup buku diarynya, mengelap air matanya lalu merebahkan diri di ranjang, menerima pasrah suratan nasibnya harus berpisah dengan Dewa suaminya.

Hari ini dia merasakan apa yang pernah dirasakan oleh Dewa, mantan suaminya. Dia rasakan hatinya sesak dan jantungnya berdegup keras, serasa dunia mendadak gelap dan gulita. Dirasakannya petir menyambar-nyambar hatinya. Sangat sakit dan menghujam ulu hatinya. Ini pasti yang juga dirasakan oleh Dewa dulu, pikir Rani. Sesaat kemudian dunia berputar dan Rani pingsan terhempas ke lantai.

======

3 setengah tahun lalu Dewa mengalami kebuntuan, ia dirumahkan oleh perusahaan tempatnya bekerja, ia tidak memiliki modal sedikitpun dan hendak memulai bisnis, maka ia mengajukan proposal bisnis kepada Rani. Disodorkannya proposal itu dan meminta Rani memberinya waktu untuk menjelaskan bisnis yang akan dijalankannya bersama Rani jika Rani menyetujuinya. Tapi Rani tidak pernah menggubrisnya, ia memang memberi waktu untuk Dewa tapi pikirannya tidak pernah fokus terhadap bisnis tersebut. Di akhir cerita Dewa setelah 3 jam menerangkan a-z bisnis yang diusungnya, Rani hanya berkata “sudah selesai?” tanpa menunggu Dewa menjawab Rani kembali mengajukan pertanyaan “sekarang giliran aku mengambil kesimpulan dan bertanya kepadamu Dewa. Uang untuk memulai bisnis ini tidak sedikit dan kamu tahu aku bukan orang yang berkecukupan. Berapa besar profit yang bisa dihasilkan? Resiko terbesar adalah uang ini akan hilang jika kamu tidak pandai mengelolanya, lalu jaminan untuk aku apa? Kalaupun kamu bisa mengelolanya, seberapa lama akan BEP dan uang yang sudah kutanamkan akan kembali?” Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan Rani, padahal itu hanya taktik Rani supaya ia tidak terlihat tidak tertarik. Rani hanya berusaha mengulur waktu dan mencari celah agar ia tidak usah mengikuti bisnis Dewa tapi dengan cara halus.

Rani tidak pernah berniat memulai bisnis. Ia sudah merasa nyaman dengan hidupnya saat ini, dan ia tidak mau menyusahkan dirinya untuk sesuatu yang ia belum tahu hasilnya. Menurutnya akan lebih berguna kalau uangnya ia belikan perhiasan, baju, sepatu, aksesoris dan kepentingan lainnya daripada harus berspekulasi kepada yang tidak jelas. Tapi ia tidak pernah bisa menolak Dewa dan ia jadi harus bersusah payah mencari upaya bagaimana menolak Dewa secara halus. Bukan karena proposal bisnis Dewa yang terlihat jelek dimatanya, tetapi semata karena memang tidak ada keinginan Rani untuk memulai, itu saja.

Akhirnya Dewa harus berjuang sendiri mengajukan proposalnya kepada beberapa rekan dan kerabatnya. Rata-rata memberi tanggapan yang sama, yaitu sedang mengalami kesulitan keuangan juga sehingga tidak ada sisa untuk dikembangkan melalui bisnis. Berminggu-minggu Dewa berusaha, tapi tidak pernah ada yang berminat memulai bisnis yang Dewa usung. Rani menyesal juga, ia sedih juga melihat suaminya berjuang keras tapi tidak membuahkan hasil. Sebenarnya Rani bisa saja membantu Dewa, tetapi ia terlalu egois untuk mengakui bahwa proposal bisnis Dewa akan menghasilkan. Ia tidak pernah berniat untuk mempelajari bisnis tersebut sehingga benar-benar bisa mengambil keputusan. Karena keputusannya sudah jelas, bahwa ia tidak akan memulai bisnis apapun.

Dengan uang seadanya, Dewa terus berusaha mencari penanam modal. Ia sangat yakin bahwa bisnisnya akan bisa berkembang. Ia hanya perlu modal dan kepercayaan, itu saja. Otaknya tidak terlalu pintar tetapi yang jelas tidak bodoh, ia hanya kurang beruntung karena perusahaan tempatnya bekerja sebelumnya bangkrut sehingga ia harus dirumahkan.

Di sisi lain Rani terus asik dengan dunianya sendiri dan tidak perduli terhadap apa yang dilakukan Dewa. Sering ia memamerkan barang-barang yang ia beli kepada Dewa, harganya yang sangat mahal untuk ukuran Rani atau Dewa malah semakin membuat rani bangga dan senang sekali memamerkannya ke Dewa. Ia ingin Dewa sadar bahwa ia mampu membeli apapun yang ia mau tanpa harus bersusah payah berbisnis. Baginya dengan uang warisan dari orang tuanya yang sangat banyak bisa membuatnya bertahan hidup selama apapun ia mau.

Dewa tidak tahan dengan sikap Rani yang seakan tidak peduli dengan dirinya, terus menerus pamer harta dan seakan merendahkan dirinya karena harus pontang-panting kesana kemari melakukan prospek bisnisnya ke rekan-rekan dan kerabat atau teman barunya tanpa hasil. Sedangkan di sisi lain Rani dengan arogannya membelanjakan uangnya tanpa mempedulikan perasaan Dewa. Sampailah 2 tahun lalu pertengkaran hebat terjadi antara Rani dan Dewa. Akhirnya Dewa memutuskan keluar dari rumah Rani dan bertekad memulai hidup barunya tanpa Rani. Rani menyadari bahwa ia sangat kehilangan Dewa, karena ia masih sangat mencintai Dewa, tetapi ia sangat keras kepala dan yakin bahwa Dewa akan menyesal sehingga pasti akan kembali. Selama ini Rani tidak pernah kehilangan dalam artian sebenarnya, apalagi saat ini Dewa sedang dalam masa kejatuhannya, ia pasti tidak akan lama-lama bertahan tanpa dirinya. Dewa pasti akan segera kembali. Tetapi di malam hari saat Rani akan tidur, ia merasakan kehilangan yang amat sangat, dan tiba-tiba ia merasa bahwa kali ini ia akan kehilangan Dewa selamanya. hatinya begitu kosong dan ingin sekali mencari Dewa, meminta maaf padanya dan meminta Dewa kembali kepadanya. Tapi itu tidak pernah terjadi.

 
“Tuhan, aku membuat goresan luka lagi di hatinya. aku sadar bahwa itu menyakitkannya, tapi aku tak juga menyudahi rasa sakit yang aku timbulkan untuk dia. Hati ini terlalu keras sehingga tidak membiarkan sejenak melemah dan menengok hati yang luka itu. Aku terlalu egois” Rani menutup buku diarynya, mengelap air matanya lalu merebahkan diri di ranjang, menerima pasrah suratan nasibnya harus berpisah dengan Dewa suaminya.

============

1 tahun kemudian

“krriiiinngggg”…  telpon rumah Rani berbunyi “kriiiiinngg”, Rani sangat malas untuk beranjak menggapai telpon. Tetapi suara telpon itu tidak berhenti berdering “krrriiiiingggg!!!!”.
Akhirnya dengan terpaksa Rani bangkit dari ranjangnya dan mengangkat telpon

“Ya halo, dengan siapa ini? mau berbicara dengan siapa?”
“Halo, ini Susi. Bisa bicara dengan Rani?” ujar suara di ujung sana
“Susi mana ya? ini Rani” Rani menyahut
“Heeey Rani.. apa kabar? ini Susi temen SMA kamu. Kita sekelas waktu kelas 3 SMA. Kamu ingat? aku gadis manis yang suka mengikat rambut menjadi dua, hehehe… bercanda Rani” suara di seberang sana sangat ceria dan riang. Rani berusaha mengingat, lalu sedetik kemudian ia terpekik
“Haaaaaiiii.. yayaya, aku ingat. Ini Susi yang menyembunyikan sepatu DocMart aku dulu kan? Kamu tahu dulu aku menangis beneran lho, karena aku pikir sepatu baruku hilang. Ternyata kamu yang menyembunyikan sepatu aku. Apa kabar Susi? Ada apa tumben kamu telpon aku?”
“Ada kabar penting yang ingin aku sampaikan Ran. Kamu ada waktu kapan?”
“Hmmm… sebenarnya aku selalu ada waktu karena aku tidak sedang sibuk atau ada kegiatan belakangan ini. Aku hanya sedang menikmati waktu kesendirianku. Bagaimana kalau besok sore jam 4 di resto Mamika?”
“Oh begitu ya? OK, setuju. Sampai ketemu besok ya”

============

Sore itu Rani mengenakan baju terbaiknya, perhiasan mahalnya, sepatu terindahnya hanya untuk pamer ke Susi. Ia sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan apa yang akan dibicarakan Susi. Ia hanya tertarik untuk melihat reaksi Susi begitu melihatnya sangat berkelas sekarang dibandingkan dulu waktu SMA. Dulu waktu SMA, Susi suka menggodainya, karena Rani suka memaksakan diri berpenampilan glamour dengan meminjam barang-barang teman lainnya. Sebenarnya Rani dan Susi bersahabat, hanya saja Rani terkadang suka menanggapi godaan Susi dengan berlebihan, karena ia merasa Susi menghinanya.

Pernah suatu saat Rani meminjam sepatu Doc Mart tetangga rumahnya untuk dipakai ke sekolah.Karena Susi tahu bahwa Rani tidak akan pernah mampu membeli sepatu Doc Mart, maka Susi menggodai Rani dengan menyembunyikan sepatu Doc Mart pinjaman tersebut. Rani sampai menangis dibuatnya karena terbayang harus menggantikan sepatu yang tidak akan pernah sanggup dibelinya. Tapi karena Susi memang hanya berniat menggoda, maka ia langsung memberitahukan letak persembunyian sang sepatu.

Ya, saatnya rani membalas keangkuhan Susi. Roda ekonomi beberapa tahun belakangan memang sedang berpihak kepada keluarga Rani, sehingga usaha ayahnya bisa sangat berkembang dan menghasilkan banyak warisan untuk Rani anak satu-satunya. Saat ayahnya meninggal, tepat Rani berulang tahun ke 25 tahun, bahkan Rani belum tahu akan harta yang akan diterimanya. Sampai 2 tahun kemudian baru Rani tahu betapa banyaknya kekayaan ayahnya yang menjadi hak miliknya. Itu bermula ketika ia akan menikah dengan Dewa, dan adik ayahnya menyarankan Rani untuk membuat Perjanjian Pranikah mengenai harta Rani sebelum menikah, agar jika terjadi suatu hal maka harta tersebut tetap menjadi hak Rani. Semenjak itu sifat angkuh, sombong, dan malas Rani makin menjadi.

Saat Rani memasuki resto Mamika, ia merasakan aura artis disekitar dirinya. Berwarna cerah ceria, mengeluarkan wewangian sedap. Ia merasa hanya dirinyalah yang paling cantik dan terhormat daripada seluruh pengunjung yang ada di resto tersebut. Dari ekor matanya ia melihat berpuluh mata memandang dirinya, ia yakin mereka semua kagum kepadanya. Dengan dagu yang sedikit diangkat, Rani menengok ke kiri, ke kanan, mencari sosok yang mungkin belum berubah yang pernah ia kenal. Tapi ia tidak menjumpai seorangpun di sana yang ia kenal.

Sampai akhirnya ia terkesiap karena dikagetkan oleh suara ceria dari seorang wanita “Raniiii…. addduuuh makin cantik saja deh kamu” ternyata Susi. wah, wah ini benar Susi atau bukan ya. Tampangnya kok tidak secantik dan sebersih semasa SMA dulu ya. Badannya pun saat ini sudah gemuk, tidak selangsing dulu sewaktu SMA. Susi dulu asngat langsing, cantik dan baik hati walaupun terkadang suka menggodai Rani. dulu Susi adalah idaman dan pujaan banyak lelaki di SMA-nya, tapi sekarang aku rasa tidak akan ada lelaki yang mau mendekatinya. Dengan fisik badannya yang jauh lebih gemuk dari ukuran ideal, wajahnya yang terlihat tidak terurus dan rambutnya yang acak-acakan, bahkan bajunya aaaw tidak ada merk-nya, aku yakin dia saat ini pasti masih melajang.

“Susiiii…. kabarku baik. Kamu kelihatan senang ya?” ujar Rani berbasa-basi
“Iya donk Rani, selalu. yuk kita duduk dulu. Kamu mau pesan minum apa? sudah makan? Aku traktir kamu deh, karena aku yang mengundang kamu untuk bertemu aku, jadi kamu adalah tamuku” ujar Susi dengan sangat ramah. Kalau masalah ramah tidak berbeda dengan SMA dulu. Susi memang terkenal gadis yang sangat ramah, itu makanya dulu ia sangat digandrunggi banyak adik kelas kami.
“OK, aku mau jus kiwi. Kalau bisa dicampur strawberry, supaya kulitku makin cerah” pinta Rani sambil tak lupa diselipkan kalimat memuji dirinya sendiri
Susi kemudian memanggil pelayan dan memesan 1 jus kiwi dan strawberry, 1 jus mangga dan 1 jus jeruk. Rani bertanya, untuk siapa gerangan 1 gelas jus lainnya? karena ia hanya berdua, seharusnya cukup pesan 2 gelas jus saja, tetapi ini Susi pesan 3 gelas jus.
“Oh ya Rani, aku dengar kamu sudah pisah dengan suamimu ya? ada masalah apa? apa aku bisa membantumu?” tanya Susi kepada Rani
Rani mengernyitkan dahi, ia memang tidak suka jika ada yang membahas hubunganya dengan Dewa. Bagaimanapun ia masih mencintai Dewa, tetapi ia gengsi untuk menyatakan hal itu. Selain itu dia tahu bahwa Dewa sudah tidak peduli lagi padanya. Maka ia merapatkan bibirnya, memberi isyarat agar Susi tidak membahasnya
“Maaf Ran, kalau aku membuatmu tidak enak. Aku hanya ingin menyampaikan sesuatu untukmu dari Dewa, mantan suamimu. Seminggu lalu aku bertemu dengannya, ia bercerita banyak tentangmu, ia meminta bantuan aku untuk menyadarkanmu. Terus terang aku tidak mengerti mengapa ia memintaku untuk melakukan hal itu. Tapi aku sebaiknya meneruskan amanah ini” Susi mendadak serius. Ia memberi banyak masukkan dan nilai hidup kepada Rani, walaupun Rani tidak 100 % mendengarkan ataupun berniat mengikuti anjuran Susi. Rani hanya tidak enak dan berpura-pura mendengarkan dengan serius. Ia hanya menitip pesan kepada Susi untuk disampaikan kepada Dewa bahwa ia tidak pernah lagi mencintai Dewa yang pemalas, tidak pernah beruntung, tidak bisa menghidupi dirinya, tidak pernah bisa mampu di atas kakinya sendiri, bahkan terkesan sering memanfaatkan Rani. Ia juga berpesan bahwa Dewa harus melupakan dirinya, karena saat ini Rani sudah memiliki tunangan dan tisak pernah berniat kembali kepada Dewa.
Perbincangan yang terlihat serius sore itu berakhir jam 6.30, karena Susi harus menghadiri peresmian Hotel Premiere miliknya jam 8 malam. Susi mengundangnya karena ia inginmempertemukan kembali Rani dengan Dewa, tetapi dengan arogannya Rani berkata bahwa ia sama sekali tidak berniat bertemu Dewa dan ia paling tidak suka mengunjungi acara peresmian semacam itu.

Rani berharap Susi segera berlalu, karena ia mulai bosan dengan topik pembicaraan, apalagi setelah tahu Susi kelihatannya sedikit lebih berada daripada Rani, ternyata Susi sekarang juga sudah sukses, ia memiliki beberapa bisnis besar. Rani tidak menyangka Susi begitu rendah hati, dengan segala bisnis yang dimilikinya, ia berpenampilan tidak layaknya kalangan Jetzet. Ah, tetapi menurut Rani, tetap ia-lah yang paling hebat.

============

Pertemuan sore itu hanya berakhir begitu saja, dan tidak pernah terjadi lagi hingga 2 minggu lalu ia mendapat undangan pembukaan Hotel Prodesus dari Susi.
“Di mohon kehadirannya, dalam rangka pembukaan Hotel Prodesus, pada hari Sabtu jam 19.30. Terima kasih atas kehadirannya. Salam – Managemen Hotel Prodesus a/n Susi Anastawa”

Tidak ada yang paling membahagiakan Rani, selain undangan acara semacam ini, karena itu artinya bisa menjadi ajang pamer bagi dirinya di depan umum.

Segala sesuatu dipersiapkannya, sehingga dengan rasa percaya diri Rani merasa menjadi wanita paling beruntung dan paling diidamkan oleh seantero lelaki di dunia ini.
Sesampai di Hotel Prodesus, Rani terlambat 30 menit. Ternyata acara baru saja dimulai, ia langsung menuju ke bangku barisan depan sesuai undangannya, VIP. Terdengar suara pembaca acara menyebutkan bahwa saat ini waktunya sambutan oleh Pemilik Hotel Prodesus, Dewa Pranala.

Jantung Rani seakan berhenti berdegup mendengar nama yang sangat familiar dikupingnya. Refleks Rani melihat ke arah orang bernama Dewa Pranala itu berjalan memasuki ruangan. Ternyata itu benar Dewa Pranala mantan suaminya. Apakah benar, atau ini hanya mimpi? Sepertinya Dewa saat ini menjadi sangat sukses. Lalu apa hubungannya dengan Susi? tanya Rani dalam hati. Karena ia duduk di bangku barisan depan, maka ia mengurungkan niatnya untuk keluar dari pesta tersebut. Ia sangat gengsi untuk terlihat bahwa ia gugup.

Dewa Pranala, pemilik Hotel Prodesus memulai sambutannya menceritakan bagaimana susahnya ia meyakinkan orang dahulu untuk menjalankan bisnis perhotelan bersamanya. Meyakinkan bagaimana prinsip Hotel yang diusungnya, karena membutuhkan biaya service yang lebih besar dibandingkan Hotel regular pada umumnya. Dia ceritakan bagaimana dia dihiraukan dan dihina oleh hampir semua orang kala itu, saat mengetahui bahwa ia tidak lagi memiliki pekerjaan bahkan sampai mencari penanam modal padahal istrinya dahulu memiliki uang.

“Sampai akhirnya Saya bertemu tuan Putri bernama Susi Anastawa. Putri lemah lembut, penuh kehangatan, sangat ceria dan mendukung saya sampai saya tidak percaya bahwa ternyata ada orang yang percaya kepada saya melebihi diri saya sendiri.  Dia juga sangat mencintai saya, padahal dia tahu bahwa saya masih mencintai mantan istri saya Rani. Dengan rasa cintanya itu, ia berusaha menyatukan kembali saya dengan Rani, ia ingin memberi bahagia kepada Saya, padahal saya sudah meyakinkannya bahwa saya akan mencoba melupakan Rani dan menikahinya. Saya akan  memberinya kebahagiaan yang tidak akan pernah habis bahkan mungkin tidak pernah dia bayangkan, menemaninya baik dalam keadaan suka maupun duka. saya akan curahkan segala kasih sayang yang pernah ada di muka bumi ini. Tetapi Susi memang putri berhati malaikat, bahkan ia tetap menyarankan saya untuk kembali berusaha mendekati Rani, untuk memberi bahagia saya. Saya akui saya masih mencintai Rani, tetapi rasa kasih sayang saya kepada Susi jauh melebihi rasa sayang saya terhadap diri saya. Jadi bersama berdirinya Hotel Prodesus ini, saya mengikrarkan janji setia saya kepada Susi, putri berhati malaikat yang telah  membuat saya melupakan keinginan rasa memiliki. Karena saya hanya ingin memberikan kebahagiaan terhadap orang yang saya sayangi …… Susi Anastawa”

Rani sudah tidak kuat lagi mendengar kata-kata yang diucapkan Dewa selanjutnya, hari ini dia merasakan apa yang pernah dirasakan oleh Dewa, mantan suaminya dulu. Rasa sakit, sedih, hilang harapan dan dikecewakan. Dia rasakan hatinya sesak dan jantungnya berdegup keras, serasa dunia mendadak gelap dan gulita. Dirasakannya petir menyambar-nyambar hatinya. Sangat sakit dan menghujam ulu hatinya. Ini pasti yang juga dirasakan oleh Dewa dulu, pikir Rani. Sesaat kemudian dunia berputar dan Rani pingsan terhempas ke lantai.

—————— Selesai ——————-




You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply