September 2nd, 2009 Peng sang Teroris
Peng memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.
Dia ambil pistol rakitannya sendiri, diarahkan ke pelipis kirinya. Nafasnya naik turun, sebentar dihirupnya udara, sebentar kemudian dibuangnya udara itu melalui mulutnya. Tersengal-sengal Peng menenangkan dirinya, bersiap menerima keputusannya sendiri.
Bayangan masa lampau Peng menari-nari di otaknya. Silih berganti mengunjungi otak Peng yang sedang kacau.
Angan Peng terbang ke masa lampau, 10 tahun yang lalu saat ia bertemu dengan seorang ustad dari Malaysia bernama Ahmad Badri.
10 tahun lalu selama 3 tahun Peng menempuh pendidikan di Malaysia, selama itu pula ia di sana dalam keadaan yang tidak berkecukupan. Uang kiriman orangtuanya hanya bisa untuk membayar uang pendidikan dan kost saja. Untuk makan Peng harus bekerja paruh waktu membantu menjaga gedung yayasan tempat Peng menempuh pendidikan.
Sebenarnya Peng asli Malaysia, namun kedua orang tuanya sudah lama hidup di Indonesia, pasang surut berbisnis jual beli barang antik bernilai agama. Kala itu ustad Ahmad Badri adalah ketua yayasan tempat ia bekerja dan belajar. Tahu bahwa Peng tidak punya cukup uang, sering ustad Ahmad Badri memberinya makan siang dan malam. Peng juga dibebaskan dari biaya kost dengan alasan sekalian menjaga gedung yayasan.
Mengetahui bahwa Peng pintar, rajin dan penurut, ustad Ahmad Badri mempercayakan Peng untuk membantunya di luar jam belajar, ia juga memberikan les privat tambahan kepada Peng. Dari hari Senin – Kamis Peng belajar di yayasan, hari Jumat membantu ustad Ahmad Badri keliling desa untuk memberi ceramah/ dakwah, dan pada hari Sabtu – Minggu Peng diajar privat oleh ustad Ahmad badri. Ia mendalami hukum Islam lebih dari siswa-siswa lainnya, dari segala aspek dan dimensi.
Sampai akhirnya ustad Ahmad Badri meninggal 5 tahun lalu dan Peng dipercayakan menggantikan posisi ustad menjadi Ketua Yayasan. Sebelum meninggal ustad Ahmad Badri hanya menitipkan 1 pesan “Peng, kau sudah seperti anakku sendiri, Ingatlah selalu ajaran yang aku sampaikan padamu, Jagalah Islam dari musuh-musuh Allah, aku percayakan organisasi jihad dan yayasan ini kepadamu”, sambil menggenggam jemari tangan Peng, ustad Ahmad Badri menghembuskan nafas terakhirnya.
Peng hanya bisa menahan tangis pilu, bagaimanapun ustad Ahmad Badri lebih dari seorang sosok guru baginya, bahkan seperti orang tuanya sendiri. Ustadlah yang merawat Peng selama ini, begitu juga Penglah yang merawat ustad selama sakit karena ustad tidak memiliki istri atau anak. Peng memutuskan akan menjaga amanah ustad bagaimanapun sulitnya.
Saat ustad hidup, ustad selalu bilang bahwa melawan musuh Allah adalah jihad walaupun itu berarti ia harus membunuh. Hanya dengan cara melawan musuh Allah, menurut ustad Peng bisa masuk surga yang dijanjikan oleh Allah.
Karena jaman sekarang tidak ada pertempuran langsung seperti jaman Nabi dahulu, maka cara paling tepat adalah menggunakan teknologi masa sekarang. Dan karena langsung menyerang musuh Allah akan sulit dilakukan, maka serangan dibelokkan ke negara tetangga yang berhubungan langsung atau tidak langsung dengan musuh Allah tetapi lemah dari segi keamanan.
Maka Peng mulai menyerahkan pengawasan yayasan ke Nursyamsi keponakan ustad sendiri, sementara ia mulai mengkoordinasi kekuatan organisasi jihad dari berbagai penjuru negeri dan Negara tetangga. Uang yayasan yang memang di sediakan ustad untuk kegiatan ini dicairkan Peng, disimpan dalam tas koper besar bercampur kain dan barang-barang antik yang akan ia bawa sebagai oleh-oleh untuk kedua orangtuanya.
Peng masuk Indonesia dengan aman, karena ia sudah memegang via menetap di Indonesia dan kedua oangtua Peng memang masih hidup di Indonesia. Sesampai di Indonesia, Peng sibuk dengan rencana besar mengalihkan perhatian dunia kepada kekuatan organisasi jihad yang dulu dikelola oleh ustad dan sekarang menjadi tanggung jawabnya.
Kedua orangtuanya tidak mengetahui hal tersebut, karena Peng selalu sibuk berdakwah sehingga orangtuanya mengira pekerjaan Peng adalah berdakwah.
Tujuan utamanya adalah tempat-tempat yang berhubungan baik secara langsung atau tidak dengan Negara penjajah zalim umat Islam.
Rata-rata tempat sasaran tersebut memiliki system keamanan yang kuat sehingga mustahil jika serangan dilakukan terbuka. Maka Peng menyusun rencana bersama anggota timnya untuk menyusup ke tempat-tempat sasaran tersebut dengan sangat wajar sehingga luput dari kecurigaan, membuat satu atau beberapa ledakan hebat dan menarik perhatian Negara zalim Israel dan Amerika.
Peng mulai merekrut anggota-anggota jihad lokal baru, dia buat mekanisme cuci otak terhadap anggota-anggota baru tersebut sehingga memiliki keyakinan yang sama dengannya, memiliki tujuan yang sama dan menuruti segala perintahnya. Organisasi jihad tersebut juga membangun sebuah jaringan dunia maya, mencuci otak anggota jaringannya sehingga memiliki keyakinan dan keinginan yang kuat untuk melakukan jihad.
Peng tidak mungkin melakukan jihad sendiri, lagipula ia masih ingin hidup, menemai orang tuanya, menikah dan memiliki anak sampai menemani anaknya dewasa dan akhirnya bisa meninggal dengan wajar. Peng beranggapan bahwa otak jihad tidak boleh mati, dan orang dengan otak jihad juga tidak boleh mati, yaitu ia sendiri.
Maka ia beranggapan sangat wajar kalau ia menyerahkan urusan jihad mati terhadap anggota-anggota rela matinya. Ia juga beranggapan bahwa ia telah member jaminan surga bagi anggota yang rela berjihad demi agama.
Di sisi lain Peng menikmati hidupnya dengan nyaman. Serangan dengan serangan dilakukan organisasi jihadnya, ratusan anggota rela mati nya sudah berkorban dengan segala cara.
Sampai akhirnya titik jenuh itu menyentuh kalbu Peng. Ia tidak benar-benar menikmati hidupnya, setahun belakangan ini ia selalu dibayangi detik-detik pengepungan dirinya oleh Aparat, membayangkan keluarganya membenci dirinya sambil menangisi kematiannya yang tragis.
Ia bayangkan dirinya ditembus timah-timah panas, lalu darah mengalir dari seluruh penjuru tubuhnya, menghambur keluar mencari kebebasan sampai akhirnya ia lemas dan meninggalkan dunia ini. Ia bahkan tak berani membayangkan bagaimana rasanya sakit itu, ia terlalu lemah untuk itu.
Ia terlalu lemah untuk mengakui bahwa ia memang otak Teroris yang selama ini bahkan kedua orangtuanyapun membenci.
Ia tak bisa membiarkan orang tuanya tahu bahwa orang yang selama ini mereka benci adalah dirinya sendiri, anak mereka. Anak yang membasahi tangannya dengan darah-darah orang tak bersalah yang kebetulan saja berada di tempat tidak tepat pada waktu yang tepat (waktu yang tepat serangan terjadi), anak yang diongkosi susah payah untuk belajar tetapi kemudian menjadi sosok yang sangat dibenci mereka.
Peng harus memutuskan mata rantai Organisasi jihadnya. Ia sudah mewariskan organisasi jihadnya ke Nursyamsi. Peng memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Sebuah surat wasiat telah dibuatnya untuk pengingkaran dan pengalih pertahatian penyebab keputusannya mengakhiri hidup.
Peng mulai menghitung mundur dari 10, dan tepat pada hitungan 1 timah itu sudah menembus kepalanya, melalui pelipis kiri menembus ke pelipis kanan, menyerempet kuping kanannya sehingga terkoyak. Dari matanya keluar darah, mengalir seperti air mata yang keluar karena pedih.
Peng masih berusaha menahan badannya agar tidak jatuh, walaupun akhirnya badan Peng jatuh perlahan ke lantai kamarnya.
Disamping tubuhnya sebuah surat bernoda darah, ditujukan kepada kedua orangtuanya dan Sita Hawa istrinya 2 bulan ini
“Assalamualaikum wr wb Dengan Hormat untuk kedua orang tuaku yang aku kasihi dan cintai
Dengan segala rasa cinta untuk kekasihku hatiku, permaisuriku Sita Hawa.
Mohon maaf aku meninggalkan kalian. Bukan karena aku tidak mencintai tetapi karena terlalu mencinta sehingga keputusan ini harus aku ambil.
Aku mohon maaf atas segala kesalahan yang pernah aku perbuat baik secara sengaja maupun tidak sengaja telah menyakiti kalian.
Untuk Siti Hawa, aku mohon jaga anak kita dan jika sudah dewasa kelak, harap kau hantarkan dia agar kenal dengan keluarga keduaku di Malaysia. Temui anak kita dengan Nursyamsi di yayasan tempat dahulu aku menempuh pendidikan dan bekerja.
Jalinlah silaturahmi dengan Nursyamsi dan keluarga, itu demi kebaikan kita semua.
Aku sengaja menempuh akhir hidupku dengan cara seperti ini, kelak kau akan tahu alasanku dan saat kau tahu itu, maka kau akan mendukungku dan anakmu. Saat ini aku hanya ingin menghentikan roda kehidupanku karena memang sudah waktunya, aku akan selalu dampingi dirimu dan anak kita agar bisa menghadapi hidup ini dengan segala cobannya, sampai saat nanti kalian siap menemui aku di surga. Amiin
Wassalam, Abdulah Persia (Peng)”

November 25th, 2009 at 2:19 pm
Coooooolllll…